Anak yang bilang “aku nggak tahu mau ngapain.” Yang tidak semangat dengan apa pun. Yang menjalani hari-harinya secara mekanis tanpa antusiasme. Yang kalau ditanya cita-citanya hanya mengangkat bahu. Ini bukan sekadar malas. Ini mungkin tanda bahwa ia sedang kehilangan arah — dan tidak tahu bagaimana menemukannya kembali.
Kenapa ini terjadi pada remaja?
Paradoksnya: di era di mana pilihan lebih banyak dari kapan pun dalam sejarah, banyak remaja yang justru merasa bingung dan tanpa arah. Terlalu banyak pilihan bisa sama melumpuhkannya dengan tidak ada pilihan sama sekali. Ketika semua jalan terbuka, memilih satu jalan terasa menakutkan — bagaimana kalau salah?
Ditambah tekanan sosial yang mengatakan bahwa di usia remaja seharusnya sudah tahu mau jadi apa. “Kamu mau jadi dokter atau insinyur?” — pertanyaan yang sering ditanyakan sejak SD. Anak yang belum menemukan jawabannya merasa ada yang salah dengan dirinya. Padahal di usia itu, sangat wajar — bahkan sehat — untuk masih mencari.
Media sosial memperparah ini. Anak melihat peers yang terlihat sudah punya tujuan yang jelas, yang sudah berprestasi di bidang tertentu, yang terlihat sangat yakin dengan arah hidupnya. Tanpa sadar ia membandingkan diri — dan merasa tertinggal. Padahal apa yang terlihat di media sosial jarang menggambarkan kebingungan yang sama yang mungkin juga dirasakan orang lain di balik postingan mereka.
Ada juga anak yang kehilangan tujuan karena sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada nilai dan ranking. Setelah bertahun-tahun belajar hanya untuk ujian, ketika akhirnya ditanya “kamu mau apa sebenarnya?” — ia tidak tahu. Karena selama ini yang dilakukannya hanya mengikuti sistem, bukan mengeksplorasi dirinya sendiri.
Apa yang bisa dilakukan orang tua?
Pertama, normalisasi. “Banyak orang yang di usiamu belum tahu mau ke mana. Papa juga dulu begitu. Dan itu tidak apa-apa.” Mengetahui bahwa ini normal sudah sangat melegakan bagi anak yang merasa sendirian dalam kebingungannya.
Kedua, jangan memaksakan tujuan. “Kamu harus jadi dokter” atau “minimal harus masuk PTN top” — kalimat-kalimat ini menutup ruang eksplorasi. Anak yang dipaksakan tujuannya mungkin mengejar tujuan itu, tapi tanpa makna — dan di tengah jalan merasa hampa. Yang lebih membantu: buka ruang untuk mencoba banyak hal.
Ketiga, bantu ia mengenali apa yang membuatnya merasa hidup. Bukan apa yang “seharusnya” ia sukai, tapi apa yang benar-benar membuatnya lupa waktu. Mungkin menggambar. Mungkin coding. Mungkin memasak. Mungkin bermain bola. Petunjuk-petunjuk kecil ini kadang sudah ada tapi belum dikenali sebagai arah yang valid.
Keempat, perkenalkan pada berbagai kemungkinan. Anak yang hanya melihat dua atau tiga profesi sebagai pilihan — dokter, insinyur, PNS — akan kebingungan kalau tidak cocok dengan satupun. Buka cakrawala: ada ribuan cara untuk hidup bermakna. Ajak bicara dengan orang-orang dari berbagai profesi. Baca biografi. Tonton dokumenter. Semakin banyak kemungkinan yang dilihat, semakin besar peluang menemukan yang cocok.
Kelima, fokus pada proses, bukan destinasi. Mungkin anak tidak perlu tahu tujuan akhirnya sekarang. Mungkin yang cukup untuk saat ini adalah: “apa langkah kecil yang bisa kamu ambil besok yang membuatmu sedikit lebih semangat?” Fokus pada langkah kecil jauh lebih tidak menakutkan dari fokus pada tujuan besar yang belum terlihat.
Dan keenam, waspadai tanda-tanda yang lebih serius. Anak yang kehilangan tujuan bisa berbeda dari anak yang mengalami depresi. Kalau selain tidak punya tujuan, ia juga kehilangan minat pada semua hal yang dulu disukainya, mengalami perubahan pola tidur dan makan yang signifikan, atau mengungkapkan perasaan hampa yang sangat dalam — ini saatnya bicara dengan profesional.
Apa peran lingkungan?
Lingkungan yang memberikan banyak paparan terhadap berbagai pengalaman, profesi, dan cara hidup membantu anak menemukan arahnya lebih cepat. Lingkungan yang juga memberikan ruang untuk bertanya tentang makna — bukan hanya tentang prestasi — sangat mendukung.
Pesantren, dengan paparannya terhadap berbagai kegiatan — dari akademik sampai seni, dari olahraga sampai kepemimpinan, dari bahasa asing sampai keterampilan hidup — memberikan banyak kesempatan untuk menemukan apa yang benar-benar menarik. Dan fondasi spiritual yang ditanamkan memberikan kerangka makna yang lebih dalam dari sekadar cita-cita karir: hidup bermakna bukan hanya soal apa yang kita kerjakan, tapi soal bagaimana kita menjalaninya dan untuk siapa kita melakukannya.
Banyak santri yang masuk pesantren tanpa tahu mau jadi apa, lalu menemukan arahnya dari pengalaman yang tidak mereka perkirakan. Ada yang menemukan passion-nya di panahan. Ada yang menemukan jati diri di kepemimpinan organisasi. Ada yang menemukan tujuannya lewat pengalaman membantu orang lain. Pesantren tidak menjamin anak menemukan tujuan hidupnya — tapi menyediakan banyak wadah untuk mengeksplorasi.
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat menyediakan variasi kegiatan yang cukup luas bagi banyak santri untuk menemukan minat dan arahnya. Fondasi spiritual yang ditanamkan juga membantu santri memaknai hidupnya dari perspektif yang lebih dalam dari sekadar karir. Tentu hasilnya bervariasi — dan pesantren sendiri masih terus belajar mendampingi setiap santri secara lebih personal.
Kunjungan kapan saja. Atau hubungi WhatsApp 0812111180.
Anak yang belum menemukan tujuannya bukan anak yang gagal. Ia anak yang masih mencari. Dan proses mencari itu sendiri — kalau didampingi dengan sabar dan penuh cinta — sudah sangat berharga. Karena orang yang paling bermakna hidupnya bukan yang paling cepat menemukan tujuannya, tapi yang tidak pernah berhenti mencari.