Bagaimana Membantu Anak Menemukan Passion-nya Sendiri

“Kamu mau jadi apa kalau besar?” Pertanyaan yang sering ditanyakan ke anak ini kadang lebih menekan dari yang kita sadari. Banyak anak — bahkan remaja — yang belum tahu jawabannya. Dan alih-alih merasa normal, ia merasa ada yang salah dengan dirinya. Padahal tidak tahu passion di usia itu sangat normal. Bahkan banyak orang dewasa yang masih mencarinya.

Apa sebenarnya passion itu?

Passion bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul dalam sekejap. Ia terbentuk dari akumulasi pengalaman — mencoba banyak hal, menemukan yang terasa cocok, lalu mendalaminya. Anak yang belum menemukan passion bukan anak yang tidak punya bakat. Ia hanya anak yang belum cukup banyak mencoba.

Apa yang bisa dilakukan orang tua?

Pertama, berikan kesempatan mencoba banyak hal tanpa tekanan untuk langsung mahir. Biarkan anak ikut les musik tanpa harus jadi musisi. Coba olahraga berbeda tanpa harus jadi atlet. Mencoba banyak hal adalah cara paling natural untuk menemukan apa yang benar-benar menarik. Kedua, perhatikan apa yang membuat anak kehilangan waktu — aktivitas yang membuatnya lupa sedang mengerjakannya karena terlalu asyik. Itu sering petunjuk yang sangat kuat. Ketiga, jangan memaksakan passion kita pada anak. Anak bukan kanvas untuk melukis mimpi yang tidak bisa kita capai sendiri. Ia punya jalannya sendiri.

Pesantren, dengan variasi kegiatan yang cukup beragam — dari kaligrafi sampai fotografi, dari panahan sampai jurnalistik, dari teater sampai desain grafis — memberikan banyak kesempatan untuk mencoba. Banyak santri yang menemukan passion-nya justru di pesantren, karena di sanalah ia pertama kali terpapar pada hal yang tidak tersedia di lingkungan sebelumnya.

Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat menyediakan cukup banyak pilihan kegiatan. Tentu tidak sespesialis lembaga khusus, tapi sebagai wadah eksplorasi minat, variasinya memadai.

Kunjungan kapan saja. Atau hubungi WhatsApp 0812111180.

Passion tidak harus ditemukan di usia muda. Yang penting di usia muda adalah mencoba cukup banyak hal — supaya kalau saatnya tiba, ia tahu mana yang membuatnya merasa hidup.