Pepatah lama mengatakan seseorang dikenal dari temannya. Di usia remaja, ini menjadi sangat literal — teman tidak hanya mempengaruhi gaya bicara dan berpakaian, tapi juga cara berpikir, kebiasaan, bahkan nilai-nilai yang dipegang. Orang tua tentu ingin anaknya punya teman yang baik. Tapi bagaimana membantu tanpa terkesan mengontrol atau mendikte?
Kenapa memilih teman tidak bisa dipaksakan?
Karena pertemanan tumbuh dari kecocokan yang natural. Anak tidak akan berteman dengan seseorang hanya karena orang tua menyuruh, sama seperti orang dewasa tidak bisa dipaksa berteman dengan rekan kerja yang tidak cocok. Memaksa anak berteman dengan anak tertentu — atau melarang berteman dengan anak tertentu — biasanya tidak efektif dan justru menciptakan perlawanan.
Yang bisa dilakukan bukan memilihkan teman, tapi menciptakan kondisi di mana teman yang baik lebih mudah ditemukan.
Bagaimana caranya?
Pertama, perkenalkan anak pada berbagai komunitas positif. Semakin luas lingkaran sosial anak — dari kegiatan masjid, olahraga, seni, atau organisasi — semakin besar kemungkinan ia menemukan teman yang mendukung perkembangannya. Anak yang hanya punya satu lingkaran pertemanan lebih rentan terpengaruh karena tidak punya pembanding.
Kedua, buat rumah menjadi tempat yang menyenangkan untuk berkumpul. Anak yang mengajak temannya ke rumah memberikan kesempatan bagi orang tua untuk mengenal siapa saja yang ada di lingkaran pertemanannya — tanpa harus menginterogasi. Sediakan makanan, ruang yang nyaman, dan suasana yang tidak mengintimidasi. Teman anak yang datang ke rumah secara alami menunjukkan siapa mereka sebenarnya.
Ketiga, ajarkan anak mengenali tanda-tanda pertemanan yang tidak sehat. Bukan dengan mendaftar nama anak mana yang boleh dan tidak, tapi dengan pertanyaan reflektif: “Setelah bertemu dia, kamu merasa lebih baik atau lebih buruk?” atau “Apakah dia mendukung kamu jadi lebih baik?” Anak yang terbiasa merefleksikan kualitas pertemanannya punya filter internal yang lebih kuat.
Keempat, jangan menghakimi teman anak berdasarkan penampilan. Anak yang terlihat nakal kadang ternyata sangat setia. Anak yang terlihat rapi kadang ternyata yang paling bermasalah. Kenali dulu sebelum menilai.
Apa peran lingkungan pendidikan?
Lingkungan pendidikan sangat menentukan siapa teman anak selama bertahun-tahun. Anak yang bersekolah di lingkungan di mana norma sosialnya mendukung perilaku positif cenderung mendapat teman yang juga positif. Sebaliknya juga berlaku.
Ini salah satu alasan kenapa memilih sekolah atau lingkungan pendidikan bukan hanya soal kurikulum, tapi juga soal komunitas. Siapa yang akan jadi teman anak selama bertahun-tahun — itu ditentukan oleh di mana ia ditempatkan.
Pesantren, sebagai komunitas yang cukup homogen dalam hal nilai, menyediakan lingkungan di mana pertemanan tumbuh dalam konteks yang mendukung. Ribuan anak dari berbagai daerah hidup bersama dengan aturan dan nilai yang sama. Teman-teman yang didapat dari pesantren sering menjadi teman seumur hidup — karena ikatan yang terbentuk dari berbagi pengalaman hidup selama bertahun-tahun sangat kuat.
Apakah semua pertemanan di pesantren positif? Tentu tidak selalu. Di mana pun ada remaja, ada dinamika. Tapi norma sosial yang dominan di pesantren — rajin ibadah, belajar sungguh-sungguh, saling menghormati — membuat lingkaran pertemanan positif lebih mudah ditemukan.
Apa yang perlu diingat?
Kita tidak bisa memilihkan teman untuk anak selamanya. Tapi kita bisa membekali anak dengan kemampuan memilih yang baik, dan menempatkannya di lingkungan di mana pilihan yang baik lebih mudah dibuat.
Bagi yang ingin melihat lingkungan pertemanan yang ditawarkan pesantren, Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat terbuka untuk kunjungan kapan saja. Komunitas banyak santri dari berbagai daerah, dengan nilai dan norma yang cukup jelas. Tidak sempurna — tapi cukup baik sebagai lingkungan di mana pertemanan positif bisa tumbuh.
Hubungi WhatsApp 0812111180 untuk informasi.
Teman yang baik bukan yang selalu setuju. Tapi yang membuat anak kita menjadi versi terbaik dari dirinya.