Budaya Coret-coretan itu masih ada (?)

Sesaat setelah Shalat Dzuhur dilaksanakan, Nampak segerombolan anak sekolah bercelanakan warna Biru Dongker dengan tubuh dipenuhi coret-coretan, lewat didepan Pesantren dengan mengendarai mobil Truk dan beberapa konvoi dengan beberapa kendaraan bermotor. Anak-anak yang masih berusia kira-kira kelas 3 SMP itu teriak-teriak seolah mendapatkan kemenagan yang besar. Ya, hari ini 28 April 2011 adalah hari terakhir Ujian Negara siswa SLTP, dan anak-anak tersebut rupanya memang anak Kelas 3 SMP luar yang kebetulan lewat di Depan Pesantren, Lokasi Pesantren yang Strategis dan dipinggir jalan ini kadang juga mendapati pemandangan yang kurang layak disaksikan oleh para santri Darunnajah. Beberapa diantara mereka ada yang memakai kendaraan Roda dua dengan berboncengan antara laki-laki dan Perempuan, sambil merokok dan entah mau pergi kemana. Na’udzubillahi min Dzalik. Ketika mereka lewat di depan Pesantren, mereka terlihat begitu Kontras, amat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh santri Darunnajah.

Apa jadinya jika orang tua mereka melihat kelakuan anak-anak mereka? Baju putih di coret-coret, berboncengan antara laki-laki dan Perempuan, Merokok dan mungkin kenakalan lain yang belum diketahui. Akhlak yang tidak terbina menyebabkan mereka seperti manusia tidak memiliki budi pekerti. Orang tua yang punya hati tentu akan menangis melihat tingkah laku yang jauh dari ciri-ciri anak yang Islami. Apakah mereka tidak mendapatkan pendidikan Akhlak dan budi Pekerti di sekolah mereka???

Lain dengan santri Pesantren Darunnajah, Kepala Sekolah MTs Darunnajah Cipining, Ust Nasikhun, S.E menjelaskan kepada WARDAN bahwa usaha Preventive untuk mencegah budaya coret-coretan setelah ujian Akhir sekolah, sudah dilakukan sejak jauh hari. Sebelum pelaksanaan Ujian Akhir, Kepala sekolah MTs ini telah mengumpulkan seluruh wali santri untuk bermusyawarah dan membuat kesepakatan. Hasil dari pertemuan tersebut adalah MOU berupa 12 ketentuan yang wajib ditaati oleh para santri Peserta Ujian, diantaranya adalah; santri dilarang melakukan coret-coretan, pacaran, merokok, berbuat anarkis, dan sebagainya, terutama setelah pelaksanaan Ujian Akhir. Jika dilanggar maka Konsekuensinya adalah Ijazah tidak akan diberikan kepada santri yang bersangkutan. “Surat pernyataan yang ditanda tangani oleh wali murid dan kepala sekolah tersebut menjadi suatu kesepakatan positif yang harus dijaga. Dan dalam hal ini, wali santri agar mendukung Program Pesantren ini demi kebaikan santri-santri kita” Ujar ustadz yang akrab dipanggil Pak Ikun ini didepan seluruh wali santri. Alhamdulillah, berkat MOU ini seluruh Santri MTs dan SMP Darunnajah berhasil mengantisipasi kenakalan remaja pasca Ujian Nasional.

Hari Rabu, yang merupakan hari terakhir Ujian Nasional kelas 3 MTs ini menjadi hari yang paling membahagiakan. Dikarenakan Para santri dobolehkan pulang kerumah masing-masing untuk melepas kerinduan bersama keluarga. Perpulangan inipun sudah diatur sedemikian rupa, mereka tidak boleh pulang tanpa melapor ke Bagian Keamanan dan Pengasuhan Pesantren, hal ini dilakukan dengan harapan anak santri yang pulang tidak pergi selain kerumahnya masing-masing, juga sebagai bentuk informasi kepada wali santri masing-masing bahwa anaknya sudah dibolehkan pulang. Waktu Perpulangan antara Santri Putri dengan santri Putra pun berbeda waktunya, sehingga tidak ada kesempatan untuk pulang bersamaan antara santri putra dan putri. Mereka harus kembali ke Pesantren pada hari Senin tanggal 2 Mei 2011 dikarenakan masih banyak Program pesantren yang belum selesai. Diantaranya, Ujian TMI dan Acara Tasyakuran pada bulan Mei Mendatang.

Demikian juga untuk santri tingkat SLTA atau Madrasah Aliyah dan SMK, setelah ujian Terakhir mereka mengikuti pemadatan untuk persiapan Praktek Dakwah dan Pengembangan Masyarakat (PDPM) untuk Madrasah Aliyah dan Praktek Kerja Industri (PRAKERIN). Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi Program andalan Pesantren, karena dengan Program ini kedewasaan dan kmatangan santri semakin terasah. PDPM yang memakan waktu 10 hari dan PRAKERIN selama sebulan seringkali dirasa oleh para santri kurang cukup. Hal ini menggambarkan Program Akhir Pesantren ini adalah salah satu Program yang amat berkesan dan begitu dinikmati oleh para santri MA dan SMK. [WARDAN/kangDR]