Tulisan ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema “Biografi Singkat KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc”

Orang tua saya bernama H. Abdul Jalal. Beliau mempunyai anak laki-laki, yang pertama dinamakan Jamhari. Pernah suatu saat saya bertanya, “Kenapa anaknya dinamakan Jamhari?” Beliau menjawab, “Di daerah Kendal, ada sebuah pesantren yang dipimpin oleh seorang Kyai. Orang tua saya sangat kagum dan sangat simpati dengan Kyai ini. Yang namanya adalah Jamhari, sehingga ketika lahir anaknya dinamakan Jamhari dengan harapan supaya anaknya seperti itu. Saya simpati sekali. Saya respect dengan pak Kyai. Saya sendiri belum pernah tahu, tetapi saya tahu ceritanya. Suatu saat saya ingin ke daerah yang ditunjuk orang tua saya. Sehingga nama saya menjadi Jamhari.

Ketika masuk di Gontor, ternyata ada banyak juga yang bernama Jamhari. Bahkan sebelum masuk ke Gontor, di pesantren dulu di Semarang ada juga nama Jamhari. Di gontor ada juga nama Jamhari. Agar tidak sama maka nama saya ditambahkan menjadi Jamhari Abdul Jalal. Abdul Jalal adalah nama orang tua saya.

Saya dilahirkan di kampung yang bernama Parakan Sebaran, yang jauh dari kota, Kecamatan Pagaruyung, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Jamhari sekolah SD di kampung. Dulu namanya bukan SD, tetapi SR (Sekolah Rakyat). Awalnya hanya tiga tahun, tetapi saat saya masuk sekolah itu, ada tambahan kelas 4, kelas 5, dan kelas 6. Pada pagi hari belajar di SD. Sedangkan pada malam hari mengaji di mushalla di depan rumah, bejalar membaca al-Quran dengan kawan-kawan sekampung. Sebelum itu saya mengaji bersama orang tua, yaitu bapak Abdul Jalal, karena di rumah ada anak-anak kecil yang mengaji. Kalau tidak bisa, pasti tangannya dipukul dengan menggunakan bambu. Kemudian dilanjutkan lagi di mushalla.

Ketika sudah kelas tiga, sudah agak besar sedikit, pada sore hari belajar di Madrasah Diniyah. Pergi ke Madrasah Diniyah ini yang berada di kampung lain yang jauh dan ditempuh dengan berjalan kaki. Alhamdulillah setelah kelas 6 SD orang tua saya mendapatkan rizki sehingga dibelikan sepeda onthel. Sekolah yang berjarak kira-kira 3 KM itu kadang-kadang ditempuh dengan berjalan kaki, kadang-kadang dengan naik sepeda.

Setelah tamat SR dan juga diniyah, saya melanjutkan sekolah di SMK (Sekolah Menengah Kanisius), namun akhirnya saya dipindahkan oleh orang tua karena khawatir terpengaruh pendidikan kristen di sekolah tersebut.

Sebenarnya pada saat itu mau ke Gontor, tapi Gontor itu jauh. Namanya juga orang kampung. Perjalanan satu hari tidak cukup. Maka pada saat itu orang tua, terutama ibu, melarang. “Kalau mau ke pesantren, yang ada di sekitar sini saja. Dekat Semarang. Yang dekatlah. Nengoknya juga dekat.” Akhirnya diputuskan oleh ibu. Belajarlah saya di sebuah pesantren di Semarang. Sekarang pesantrennya masih ada. Di situ ada rumah makan Sampurna, di situ ada rumah guru saya.

Saya belajar di situ langsung diterima di kelas dua. Sekolah dilaksanakan dari pagi sampai jam 12 siang. Pelajarannya memang tidak ada pelajaran umum. Semuanya adalah pelajaran agama, yang terdiri dari ilmu Tajwid, ilmu Akidah, ilmu Fikih, dan ilmu Nahwu. Itu diajarkan dari pagi sampai jam 12. Ada juga pelajaran bahasa Inggris. Yang mengajar bahasa Inggris kebetulan alumni Gontor. Kita juga ada pelajaran bahasa Arab dari alumni Gontor juga. Kita merasa senang. Tetapi apa yang terjadi? Tiga tahun kemudian tidak terasa sudah kelas empat, terjadilah peristiwa gerakan 30 September.

Setelah tiga tahun meletus G 30 S, yaitu tahun 1965. Sekolah menjadi kacau. Karena kita banyak demo jadi terkadang saat masuk kelas gurunya tidak ada, muridnya yang tidak lengkap. Akhirnya ketika pulang ada seseorang yang datang dan mengajak pindah ke Gontor. Saya teringat kembali dulu ketika saya SD saya ingin ke gontor karena guru Madrasah Diniyah saya orang gontor dan mengajarnya enak sekali, banyak nyanyinya, banyak hal-hal yang menarik. Saya tertarik untuk masuk gontor. Saya langsung sambut, “Ya, saya mau.”

Di Gontor saya dites. Dari 1.200 orang yang mendaftar, yang diterima hanya 300 orang, termasuk di dalamnya adalah saya. Belajarlah saya di gontor. Alhamdulillah karena saya sudah punya pengalaman dari pesantren sebelumnya, maka sejak kelas tiga di Gontor saya sudah diangkat menjadi pengurus, menjadi staf pembantu keamanan melayani santri-santri. Pada saat itu belum ada listrik sehingga kita belajar menggunakan lampu teplok. Bagian keamanan memberikan minyak tanah.

Pada saat kelas empat di situ dibukalah kantin, atau warung. Saya sebagai anggota bendaharanya di dalam kepengurusan. Satu tahun kemudian terjadi pergantian pengurus. Ternyata masyarakat menginginkan saya ditetapkan kembali untuk menjadi ketua karena saya masih kelas empat. Ketika kelas lima banyak hal yang saya dirikan bersama teman-teman, antara lain; pada waktu pendaftaran murid baru kita mendirikan Waramal (Warung Amal). Kita sediakan berbagai macam jajanan dan kebutuhan para tamu. Tamu-tamu yang datang ke pondok itu pada umumnya bermalam. Jumlah mereka ribuan. Saat mau makan, bingung. Kita sediakan Soto, Sop, Gulai, dan macam-macam lainnya. Kita sebagai pendiri tidak boleh makan disitu kecuali beli. Ini aturan pondok.

Kemudian kita juga mendirikan trayek amal, trayek mobil angkutan khusus menuju ke kampus Gontor. Dari situ kita mendapat keuntungan untuk pembangunan masjid Gontor yang sekarang ini.

Saat kelas lima itu juga saya mendapatkan ujian yang cukup berat. Saya diperintahkan mencari daun yang bernama daun Keci Batu, karena pada saat itu Gontor sedang menggali sumur bor. Dan ada batu yang sulit sekali ditembus. Ada cerita bahwa di gunung Lawu, tepatnya di Ngawi, ada daun yang apabila dimasukkan ke dalam lubang maka batunya akan hancur. Saya ditugaskan untuk mencari itu. Akhirnya saya berangkat. Setelah bertanya-tanya ke sana kemari sendirian, saat Maghrib saya tiba di gunung Lawu. Dengan membawa obor saya mencari daun itu hingga mendapatkannya. Kira-kira pada jam sepuluh malam saya pulang dengan membawa daun itu. Pada pagi harinya saya bawa dan saya serahkan daun itu. Setelah dicoba, ternyata batunya tidak pecah. Di sini saya mendapatkan pelajaran bahwa saya tidak merasa ketakutan ditugaskan melaksanakan sesuatu yang saya tidak tahu, tetapi saya jalankan dengan sebaik-baiknya, dan proses yang saya lakukan itu dianggap sudah benar. Adapun di situ tidak bisa pecah dan sebagainya, itu bukan urusan saya.

Pengalaman lain yaitu menjadi panitia masjid. Setelah tamat sekolah kami dikumpulkan dan masing-masing diberikan amplop. “Silahkan buka amplop yang ada di tangan Anda,” kata pak Kyai. Kita buka amplop itu dengan gemetar. Ternyata di dalam amplop itu dinyatakan bahwa Anda masih diberikan kesempatan untuk belajar di Gontor, yaitu belajar mengajar, membantu pondok modern. Satu persatu dari kami diberikan waktu untuk mengomentari. Saya katakan, “Kalau memang itu yang terbaik menurut bapak Kyai, maka kami tidak menolak.”

Saya tugas pertama kali mengajar bukan di Gontor, tapi diperbantukan di pondok pesantren Walisongo di Ngabar. Kebetulan pimpinan pondok pesantren Walisongo ini adalah guru kami yang juga mengajar di Gontor. Beliau memohon kepada pimpinan Gontor agar kami ditugaskan di Walisongo. Di sana saya langsung mengajar kelas dua putri. Saya menjadi wali kelas dua C pada waktu itu. Satu tahun kemudian saya ditarik ke Gontor.

Di sana saya kuliah sampai selesai mengambil jurusan Fakultas Tarbiyah. Skripsi saya dalam bahasa Arab dengan judul “Daurul Walidain fi Tarbiyatil Islam”. Setelah lima tahun mengajar di Gontor sambil kuliah, saya pulang ke masyarakat.

Kebetulan di rumah ada pengajian yang mengundang tokoh-tokoh masyarakat dan Kyai-Kyai dari jauh, maka saya pun terlibat dalam kegiatan ini. Pada malam hari yang di sana ada peringatan maulid Nabi, saya menjadi pembaca Barzanji. Formatnya kita ubah. Kita terjemahkan biar lebih menarik. Ternyata setelah selesai mereka masih menuntut untuk dilanjutkan.

Ijazah Gontor yang ada juga saya coba kirimkan ke al-Azhar di Mesir, Jami’ah Islamiyah di Madinah, Jami’ah Imam Malik Faishal, Imam Ibnu Sa’ud di Riyadh, kemudian Jami’ah Malik Abdul Aziz di Makkah. Kita kirimkan juga ke Dewan Dakwah Islamiyah di Jakarta dan ke Rabithah Ma’ahid al-Islamiyah di Jakarta. Ternyata surat-surat yang dikirimkan ini mendapatkan jawaban. Macam-macam jawabannya. Surat-surat tersebut mendapatkan respon. Dari Mesir mendapatkan jawaban, “Anda silahkan urus di kedutaan kami di Jakarta.” Yang dari Madinah Jami’ah Islamiyah mendapatkan jawaban, “Syahadah Anda kami cek dulu di kedutaan kami di Jakarta.” Dewan Dakwah Islamiyah juga mengirim surat yang menyatakan, “Anda bisa kami terima, tetapi Anda harus mengajar di daerah selama dua tahun terlebih dahulu.” Dari Rabithah Ma’ahid al-Islamiyah di Jakarta juga ada jawaban, “Anda kami terima sebagai calon mahasiswa yang akan kami kirimkan ke Jami’ah Malik Abdul Aziz di Makkah al-Mukarramah dengan urutan sebagai berikut.” Saya lihat lembaran lampirannya. Urutannya adalah urutan keenam. Saya pikir kalau DPR itu urutan yang keenam biasanya urutan jadi, maka yang lain saya abaikan. Saya urus panggilan dari Rabithah Ma’ahid ini. Akhirnya kita ke Jakarta.

Kita telusuri di mana tempatnya, yaitu tempat yang nanti akan digunakan untuk Daurah Lughah Arabiyah sebelum berangkat yaitu pelatihan training bahasa arab di tempat itu. Ternyata tempat itu adalah pesantren Darur Rahman di Jakarta Jl. Senopati 35 A. Ketika saya datang ke situ ternyata ada teman-teman satu kelas yang sudah mengajar di situ. Ada juga adik kelas yang mengajar di situ. Alhamdulillah banyak yang saya kenal. Termasuk pimpinan pondok pesantren Ummul Qura di Leuwiliang. Di pesantren Darur Rahman ada guru yang menyarankan kepada kami agar mengajar saja di Darur Rahman. Saya pun mengajar di Darur Rahman.

Setelah itu saya diterima di Jami’ah Malik Abdul Aziz di Makkah. Saya tinggalkan Indonesia. Di sana King Abdul Aziz University memberikan beasiswa yang besar sekali jumlahnya. Sepertiga saja kita makan untuk memenuhi kebutuhan tidak habis. Alhamdulillah, dana dari orang tua untuk kebutuhan passport dan segala macam pengurusan bisa kita kembalikan kepada orang tua sehingga tidak punya hutang, tidak punya beban moral terhadap adik-adik, karena dananya saya kembalikan semuanya kepada orang tua.

Pada tahun pertama musim haji, saat itu kuliah saya masih tingkat satu, saya bertemu jama’ah haji yang pimpinannya ternyata pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta. Beliau haji bersama istri dan adik iparnya yang di Mesir, di al-Azhar. Meski sudah saling mengenal, namun kita belum banyak mengobrol.

KH. Mahrus Amin. Beliau adalah alumni pondok modern Gontor. Setelah lulus Gontor beliau merantau ke Jakarta untuk kuliah. Pada saat itu beliau mencari tempat di mana dia bisa terus mengembangkan pendidikan. Bertemulah ia dengan bapak KH. Abdul Manaf Muhayyar. Beliau diberikan tugas untuk mengajar. Karena serius dan sungguh-sungguh, akhirnya beliau diangkat sebagai menantu oleh bapak KH. Abdul Manaf Muhayyar, sehingga ketika mendirikan pesantren otomatis beliau yang menangani. Dan sampai sekarang beliau masih menjadi pimpinan pondok pesantren Darunnajah Ulujami.

Ketika libur kuliah saya pulang ke Indonesia. Saya mampir ke tempat KH. Mahrus Amin. Beliau menawarkan saya untuk menikah dengan adik iparnya yang kuliah di Al Azhar Mesir, yang ikut haji bersama KH. Mahrus Amin dan istrinya. Saya minta waktu 2-3 hari untuk pulang bertanya kepada orang tua di rumah. Setelah bicara dengan orang tua, saya kembali ke Jakarta untuk menyampaikan jawaban. Isinya adalah kalau bisa jangan sekarang karena kuliah saya baru tingkat satu, prosesnya masih lama. Pada saat yang bersamaan KH. Mahrus Amin datang ke rumah orang tua saya. Akhirnya orang tua mengiyakan. Beliau pun pulang. Ketika bertemu KH. Mahrus Amin di Jakarta, beliau menyampaikan keputusan orang tua saya.

Selanjutnya saya menikah dengan adik ipar KH. Mahrus Amin, yang pada saat itu masih menjadi mahasiswi di al-Azhar Kairo. Setelah menikah karena istri saya dari al-Azhar, maka kita coba usulkan untuk bisa diterima pindah ke Ummul Qura. Alhamdulillah diterima, dan kita bisa bersama. Istri belajar di Universitas Ummul Qura putri, sedangkan saya di putra.

Setelah lulus kami pulang dengan membawa dua anak; pertama, Ridhallah Maki. Kedua, Musthafa Zahir. Alhamdulillah, kedua-duanya kini sudah menikah dan sekarang sedang melanjutkan studi S2. Tahun 1985 saya bergabung dengan Darunnajah Jakarta. Kemudian saya mengajar disana. Setelah itu saya mewakili bapak KH. Mahrus Amin. Lalu saya dipercaya selaku mandataris yang menerima mandat untuk mengurus Darunnajah di Cipining sejak 23 tahun yang lalu sampai sekarang.

Dulu, ketika pendiri Darunnajah KH. Abdul Manaf Muhayyar sudah mengikrarkan untuk mendirikan pesantren di Cipining ini, dicarilah siapa yang nantinya bakal memimpin pesantren ini. Ditunjuklah saya untuk menjadi pimpinan. Saya siap, karena memang saya sudah niatkan hidup ini untuk berjuang di dunia pendidikan.

Tulisan ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema “Biografi Singkat KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc”