Bersikap tidak profesional dalam mendidik.

By Ayah Dedy

Profesional. Di dunia modern seperti ini, segala sesuatu harus dilakukan secara profesional. Pekerjaan tertentu diserahkan kepada profesi dan ahlinya. Tidak terkecuali di bidang pendidikan.

Sebut saja Sekolah Internasional Dwi Warna di Parung misalnya. Mereka adalah salah satu contoh sekolah yang bisa dibilang menjunjung tinggi profesionalitas dalam manajemen pendidikan mereka.

Administratur dipilih dari mereka yang memang ahli didalam mengurusi administrasi, kalau perlu dipilih mereka yang kuliah minimal IPK 3.00 di bidang administrasi. Tenaga Satpam diambil dari pensiunan polisi yang bisa tersenyum, minimal pernah mendapatkan pendidikan satpam yang benar atau berpengalaman sebagai Satpam selama beberapa tahun. Begitupun penjaga toko franchise milik sekolah yang dipilih oleh lembaga outsource yang dipercaya sehingga tidak ada rutinitas mengajari murid baru pembukuan dagang. Jangankan Guru yang jelas-jelas berkaitan langsung dengan pendidikan, bahkan kalau perlu, kebersihan kelas dan lingkungan mereka di outsource ke perusahaan cleaning service ternama. Bayarannya? Jelas dibayar secara profesional sesusai standard nasional.

Intinya; seluruh bidang pekerjaan di serahkan kepada ahlinya masing masing. Profesional!

Lalu apa tugas murid? Ya sesuai dengan profesi mereka; belajar! Belajar di kelas ataupun dilibatkan di kegiatan intra atau extra kurikuler.

Orang tua pun rela membayar mahal asal putra-putri mereka dididik secara profesional oleh guru dan administratur dengan manajemen yang profesional. Dengan cara itu, mereka bisa fokus mengembangkan kemampuan akademis ataupun non-akademis lainnya. Mereka adalah “customer” yang harus di penuhi “kebutuhan” dasarnya; mendapatkan lingkungan dan pendidikan secara profesional. Bukan untuk disuruh nguras kamar mandi apalagi WC.

Keuntungan pola ini jelas; lembaga dan murid bisa fokus mengembangkan kemampuan mereka. Pihak manajemen pun tidak usah pusing dengan desain interior kantor mereka misalnya karena sudah diserahkan kepada ahlinya.

Hampir seluruh lembaga pendidikan terkemuka menerapkan system manajemen yang serupa dan ramai-ramai menyatakan bahwa lembaga mereka menerapkan manajemen pendidikan secara profesional. Hampir.

Hanya ada segelintir lembaga pendidikan yang sengaja menyatakan bahwa manajemen pendidikan mereka penuh dengan “ketidak profesionalan”. Ya. Tidak profesional!

Gontor contohnya.

Istilah ini dikemukakan Kiai Syukri Zarkasyi yang mengatakan bahwa Gontor memang sengaja bersikap tidak profesional didalam manajemen kesehariannya.

Dalam kesehariannya, benar bahwa tidak ada profesi yang benar-benar ahli di bidangnya di dalam lembaga tersebut. Tidak ada satpam yang profesional disana untuk menjaga keamanan. Tidak ada administratur bagian keuangan jebolan S1 jurusan akuntasi yang profesional untuk mencatat laba dan rugi. Tidak ada penjaga toko yang di outsource secara profesional untuk mengatur stocking barang di koperasi. Bahkan, tidak ada tukang listrik profesional yang merangkap bagian diesel yang sangat vital mengatur kelistrikan disana.

Tidak ada profesi disana kecuali satu; semua menjadi “pelajar” yang terlibat di dalam proses pendidikan. Tidak peduli apakah ia santri, guru ataupun administratur, semuanya berperan untuk menggerakkan roda kehidupan di Kampung Damai.

Profesional? Jelas tidak! Bagaimana mau dibilang profesional kalau kebanyakan mereka adalah santri yang mungkin saja baru berumur remaja. Tiap saat ada saja pelatihan-pelatihan bagi “pegawai” baru setiap bidang. Bagian koperasi dilatih untuk membuat catatan keuangan. Bagian fotografi harus dilatih bagaimana mengambil angle yang baik didalam memfoto. Bagian diesel diajari untuk mengganti oli diesel oleh seniornya yang telah selesai “menjabat” selama satu tahun sebelumnya. Dan itu dilakukan setiap tahun berulang-ulang.

Lalu, bagaimana kalau mereka salah dalam menghitung dan menyebabkan kerugian pondok jutaan rupiah? Bagaimana jika diesel yang ada tiba-tiba ngadat dan tidak mau berfungsi sehingga Pondok gelap gulita selama beberapa jam karena lupa diganti olinya? Atau bagaimana jika foto-foto sang Presiden RI yang berkunjung ke Gontor yang diambil oleh fotografer baru itu tidak fokus wajahnya? Ya itulah bagian dalam proses pendidikan. Tidak ada kata salah di dalam belajar. Yang tidak boleh adalah jatuh dilubang yang sama untuk kedua kalinya.

Bulis malam yang berfungsi sebagai penjaga keamanan hanyalah sekelompok anak santri yang kalau berhadapan dengan maling pasti mereka lari terbirit-birit. Santri bertugas menjaga kebersihan kamar dan lingkungannya sendiri, kalau perlu menguras kamar mandi dan WC mereka setiap hari jum’at, seperti yang masih berjalan hingga hari ini.

Apakah mereka dibayar sesuai standard profesi mereka? Boro boro! Yang ada malah di marahin oleh Kiai karena tidak becus menghitung.

Tapi, semua itu merupakan proses pendidikan integral yang diyakini Gontor akan bermanfaat untuk membentuk karakter santri itu sendiri sebagai kader. Mereka sendiri adalah kader itu sendiri dan keseluruhan proses itu diyakini dengan total dengan sepenuh keyakinan dan disampaikan secara efektif kepada stake holders sebagai sebuah proses pendidikan, termasuk orang tua mereka.

Jarang ada orang tua santri yang protes anaknya disuruh membersihkan kamar mandi ataupun WC karena mereka yakin akan Gontor dan pola pendidikan mereka. Mereka justru membayar agar putra-putrinya belajar membersihkan kamar mandi dan WC mereka!

Mereka yakin akan pendidikan mereka.

Pertanyaannya, mana yang lebih baik?

Tidak ada jawaban mutlak karena keduanya adalah pilihan yang memakai frame yang berbeda dengan keyakinan masing-masing yang berasal dari tujuan pendidikan lembaga itu sendiri.

Perbedaan ini mungkin bermula dari perbedaan cara pandang merumuskan pendidikan itu sendiri.

Dwi Warna memilih merumuskan pendidikan dengan definisi terbatas bahwa apa yang penting ditanamkan dalam pendidikan murid-murid mereka adalah apa yang menyangkut dengan kehidupan akademik di kelas dan seputaran ekstra kurikuler.

Dilain pihak, Gontor memandang pendidikan dengan batasan yang jauh lebih luas melampaui ruang-ruang kelas. Istilah mereka; apa yang dilihat, apa yang disentuh, apa yang dirasakan oleh santri adalah bagian dari pendidikan Gontor.

Orang tua dari murid Dwi Warna senang karena putra-putri mereka dijaga di lingkungan yang aman dikelola dengan manajemen profesional sehingga putra-putri mereka bisa fokus belajar untuk meningkatkan kemampuan akademis dan non-akademis mereka.

Orang tua murid dari santri Gontor pun berkeyakinan dengan apa yang di perlakukan kepada putra-putri mereka karena mereka yakin bahwa hal tersebut akan bermanfaat untuk masa depan mereka.

Tidak ada yang mutlak benar di keduanya. Yang ada hanyalah bahwa masing-masing cocok dengan tujuan pendidikan lembaga sesuai kebutuhan “customer”nya.

Satu yang harus dihindari adalah ketidak jelasan positioning karena terjebak diantara keduanya.

Dalam dunia manajemen, Porter-sang Guru Manajemen mengistilahkannya; stuck in the middle! Tidak jelas positioningnya!

Ponpes Annur Cidokom Darunnajah8 alhamdulillah faham dan yakin akan pilihan yang diambilnya, yaitu mengambil apa yang dirintis oleh Gontor dan mengembangkannya sesuai kebutuhan zaman.

Maka jangan heran kalau tidak terlihat adanya satpam di pintu gerbang mereka, atau melihat santri senior sudah dipercaya untuk mengajar pelajaran siang.

Experience is the best teacher!

Posted from WordPress for BlackBerry.