Menjadikan pesantren Darunnajah Cipining yang bersih merupakan wujud dari pengamalan seorang santri akan nilai sebuah keimanan plus tangung jawab. Santri memiliki tanggung jawab akan kebersihan terhadap dirinya, pakaiannya, bahkan lingkungannya. Tiada sempurna aktivitas ibadah jika soal kebersihan ini tidak diindahkan.
Berlatar belakang dari kondisi rumah yang sangat memanjakan para santri terutama dalam memperhatikan kebersihan, mereka datang ke pesantren dan hidup mandiri bersama rekan-rekan sepantarnya. Para santri juga dapat dibilang ‘masih kecil’ untuk disuruh bersih-bersih. Namun di pesantren, siapa lagi yang akan membersiahkan kamar dan lingkungan santri kalau tidak mereka sendiri.
Berbagai upaya dan usaha telah dilakukan oleh masing-masing kamar dalam menjaga kebersihan seperti membuat jadwal piket dan lainnya. Tetapi, kebersihan terkadang terhambat oleh kemalasan atau kesengajaan para santri yang acuh terhadap kebersihan itu sendiri. Sehingga perlu dibuatkan sistem untuk selalu menjaga kualitas dan standar kebersihan.
Untuk itu, tampil sebagai penanggung jawab utama kebersihan di pesantren, pengurus Pokestren (Pos Kesehatan Pesantren) yang dibantu oleh bagian K5 untuk membuat beberapa hal terkait kebersihan. Diantaranya adalah penilaian kamar santri yang diumumkan sepekan sekali, baik di depan para santri maupun di depan para dewan guru (sebagai wali kamar) dalam kesempatan rapat mingguan.
Pihak Poskestren setiap pekannya mengumumkan hasil penilaian kamar. Katagori yang diumumkan adalah kamar terbersih dan kamar terkotor. Bagi kamar terbersih diberikan reward berupa ‘bingkisan’ dari kamar yang terkotor. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Poskestren agar persaingan positif dalam hal kebersihan mendapat perhatian dari para santri.
Begitu pula dengan dewan guru yang menjadi wali kamar terkotor, bisa memiliki motivasi tersendiri sehingga mendorong anggota kamarnya untuk tidak terkotor kembali. (red)
