Berlomba Jadi Kamar Terbersih

Dalam rangka memaknai semboyan ‘Kebersihan itu bagian dari iman’, pesantren Darunnajah Cipining berupaya mengaplikasikan hal tersebut secara kontinyu. Maka jika ada persepsi bahwa pesantren itu erat berhubungan dengan tidak bersih, kumuh, dan tidak mengindahkan kesehatan, hal itu telah terbantah dengan beberapa hal yang dilakukan oleh pesantren. Sedari awal, dalam pembinaan santri, pesantren mendidik santri untuk hidup sehat yang berarti dawali dari bagaimana menciptakan kondisi lingkungan yang bersih.

2

Hal yang telah dilakukan pesantren dalam menciptakan kebersihan tersebut di antaranya adalah melakukan penilaian kamar dan mengumumkannya. Di awali dari pengumuman di level rapat guru pada setiap pekan di hari Jum’at, bagian kesehatan mengumumkan kamar terkotor dan kamar terbersih pada satu pekan tersebut. Kemudian dalam kesempatan apel pagi yang dihadiri oleh seluruh santriwan dan santriwati pada hari Sabtu, disana akan diumumkan kembali perolehan penilaian untuk kamar yang hasilnya adalah menentukan kamar terkotor dan terbersih.

Untuk memotivasi (reward) bagian kesehatan sebagai penanggung jawab program ini, akan memberikan bingkisan berupa satu kardus mie instan. Bingkisan ini diambil dari punishment bagi kamar yang terkotor. Dengan pola ini, kegiatan kebersihan di setiap asrama berjalan dengan baik. Di setiap hari Sabtu pula, di depan kamar yang terbersih akan digantungkan pamplet berbunyi ‘The Cleanest Room’. Begitu pula berlaku sebaliknya bagi kamar terkotor.

Bagian kesehatan juga mengadakan kebersihan secara massal pada setiap hari Sabtu. Kegiatan ini bernama kebersihan umum. Pada kesempatan ini, semua santri wajib melakukan kebersihan kamar dan sekitarnya. Biasanya dari setiap kamar, mereka membagi anggotanya ke dalam beberapa tim. Tim untuk mengepel lantai, mengatur kerapihan ranjang, merapikan taman depan kamar, dan lainnya. Untuk terlaksananya program ini, semua santri tidak diperkenankan melakukan kegiatan apapun selain kebersihan.

Di sisi lain, untuk menjaga kamar-kamar santri agar tetap rapi dan bersih, setiap harinya pihak bagian kesehatan bekerja sama dengan bagian keamanan mengatur penjaga asrama. Dalam dunia pesantren, penjaga asrama ini dikenal dengan istilah ‘bulis’. Tugas bulis, selain menjaga keamanan asrama karena para santri tengah pergi ke sekolah, mereka juga wajib membersihkan lingkungan pesantren, terutama asrama santri.

Tidak berhenti disitu, masih dalam upaya menjaga kebersihan lingkungan pesantren, pimpinan pesantren, KH Jamhari Abdul Jalal, Lc menggulirkan program baru yaitu penilaian rumah tempat tinggal guru di perumahan dinas pesantren. Bapak Kyai mengharapkan, agar rumah-rumah dinas yang ditempati guru keluarga ini juga dinilai dan pada setiap rapat mingguan (Jum’at) juga turut diumumkan perolehan nilainya. Hal ini sebagaimana diamanatkan beliau pada rapat Jum’at (15/4) ini. (Wardan/Billah)