Selain penyiapan pelatih yang mumpuni, Pesantren Darunnajah Cipining juga menyelenggarakan ujian kenaikan tingkat pencak silat bagi para santri untuk naik ke tingkatan kelas yang lebih tinggi. Kegiatan ini juga sebagai sarana evaluasi hasil pembinaan selama setahun oleh pengurus silat Darunnajah. Kegiatan yang berlangsung bersamaan dengan ujian akhir sekolah kelas III TMI tanggal 7 s.d 10 Mei 2007 dikiuti oleh santri kelas I, II, IV dan Intensif. Sedangkan untuk kelas III, pelaksanaannya setelah ujan akhir sekolah berakhir. Total peserta berjumlah 126 orang.
Para peserta dikelompokkan sesuai dengan kelasnya masing-masing dengan dua orang penaggungjawab dari pelatih/penguji yang disebut sebagai wali kelas. Mereka bertugas menyiapkan segala hal berkenaan dengan materi yang diujikan.
Kegiatan yang dibuka langsung oleh Kepala Biro Pengasuhan Ust Ahmad Rosihin itu berlangsung di lapangan bola basket. Dalam sambutannya beliau menyampaikan tentang pentingnya dilahirkannya kembali bibit-bibit unggul melalui ujian kenaikan tingkat ini, agar terus mampu berbicara di pentas nasional maupun internasional. Hadir pula dalam kesempatan tersebut pembimbing silat Darunnjah Cipining, Ustadz Fathul Mu`min S.Ag, dan beberapa mantan pelatih dari dewan guru.
Materi-materi yang diujikan dalam setiap kelasnya berbeda-beda sesuai dengan tingkatan sabuk yang akan diambil. Untuk kelas I tingkat sabuk putih kecil, jurus yang harus dikuasai diantaranya tangkisan mawar mekar dan layu, pukulan katak serta tandukan lembu jantan. Bagi kelas II tingkat sabuk putih besar yang wajib dikuasai di antaranya jurus terkaman harimau dan tendangan sirip serta pagutan merpati. Sedangkan kelas III tingkat sabuk kuning yang harus dipahami adalah gerakan-gerakan pada jurus naga. Kemudian kelas IV yang meraih sabuk hijau harus memahami jurus tunggal baku dasar dari gerakan bentuk seni tapak suci.
Dalam pengambilan nilai setiap kelas diuji oleh 3 orang penguji. Para peserta maju ke hadapan tim penilai bertiga, dengan mata ditutup kain, penuh konsentrasi, karena gerakan yang dilakukan harus sesuai dengan materi yang diucapkan penguji. Adapun kriteria penilainnya, menurut Hamdani, ketua panitia UKT kali ini, adalah kesesuain gerakan dengan perintah, kekuatan fisik, kekuatan pernapasan dan mental bertanding. Rangkaian kegiatan ini di antaranya berlari keliling pesantren 10 kali dan fighting (bertarung) melawan pelatih sebagai uji kemampuandan kekuatan.
Seluruh peserta yang mengikuti kegiatan ini dinyatakan lulus dan mereka berhak untuk menggunakan sabuk sesuai dengan kelasnya. Untuk mengambil sabuk tersebut setiap peserta harus melewati materi akhir yang paling berat yaitu berlari ke Arah Kadaka/Bunar pulang pergi dengan jarak 18 km dan uji mental sesampainya di tempat tujuan dengan cara setiap pesera harus berani mandi disungai.