Pepatah tenar tersebut siapa yang tidak tahu dan faham maknanya, dan bukan tanpa alasan juga diangkat menjadi tulisan dalam reportase ini, pasalnya ada kronologi cerita yang perlu pembaca simak hingga akhir tulisan ini.
1 jam pasca kedatangan rombongan DELC di Pare (Ahad, 23/06/2013) pukul 20:00 WIB, rombongan langsung dihampiri oleh seseorang yang sempat membuat bingung, setelah memperkenalkan diri, ternyata beliau adalah Mr. Sapril, officer Mahesa Institute yang diutus Manager Lapangan Mahesa, Mr. Ady. Tanpa menyia-nyiakan waktu dan belaiupun faham betul bahwa rombongan dalam kondisi keletihan setelah perjalanan 31 jam di Bis, Mr. Sapril langsung menyerahkan jadwal learning santri selama 1 bulan di Mahesa Institute. Sekilas, Ustadzah Ela Hulasoh, S.Sos, langsung mengerutkan kening, pasalnya setelah dicermati beberapa menit merasa kaget dengan jadwal learning santri yang dirasa padat bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Sebelum menjelaskan lebih jauh mengenai jadwal real kegiatan mereka, kiranya harus dijelaskan terlebih dahulu, bahwa 57 santri akan di bagi ke dalam 2 kelas. Kelas A bagi mereka yang sudah mengenal Bahasa Inggris lumayan baik, sedangkan kelas B adalah bagi mereka yang betul-betul harus dari dasar. Dan selain itu selama di sana mereka mengambil 2 program yaitu Basic Grammer 1 dan Basic Speaking 1. Maka dicapailah hasil kesepakatan santri dan pembimbing diberi kesempatan 1 hari yaitu hari senin, untuk istirahat penuh dan mengurus administrasi –administrasi persyaratan yang sudah dipersiapkan pembimbing di Darunnajah.
Setelah merasa cukup beristirahat di hari senin tersebut, ba’da isya langsung dilakukan pretest di Ruang Cambridge secara keseluruhan, usai pretest yang berakhir di pukul 21:30, saat itu juga langsung diumumkan siapa saja yang masuk kelas A dan kelas B. dan setelah langsung diberikan jadwal bagi masing-masing kelas. Lucunya, reaksi yang ditunjukkan santri sebagaimana pembimbing, yaitu kaget dengan penuhnya jadwal mereka.
Berikut jadwal kegiatan santri DELC selama di Mahesa Institute :
03:30-04:30 Mandi Camp
04:30-05:00 Jama’ah Shubuh Camp
05:00-06:00 Learning/English Morning Camp
06:00-07:00 bersih-bersih dan sarapan Camp&waroeng sinten
07:00-08:30 Basic Grammer 1 Liverpool Room
08:30:10:00 Basic Speaking 1 Boston Room
10:00-12:00 Mengerjakan Tugas dan Istirahat Camp
12:00-13:00 Jama’ah dzuhur dan Makan Siang Camp&Waroeng Sinten
13:00-14:30 Basic Grammer 1 Perth Room
14:30-16:00 Basic Speaking 1 Manchester Room
16:00-17:30 Mandi dan Kebersihan Umum Camp
17:30-18:00 Jama’ah maghrib Camp
18:00-19:00 English Night Camp
19:00-19:15 Jama’ah isya Camp
19:15-19:30 Makan malam Waroeng Sinten
19:30-21:00 Basic Grammer 1 Brisbane Room
21:00-03:30 Tidur Malam Camp
Perlu diketahui bersama, bahwa Mahesa Institute hanya mentolelir keterlambatan maksimal 10 menit saja, di atas itu maka tidak berhak masuk ruang. Dan bila sering terlambat maka dianggap mengundurkan diri sehiungga tidak boleh ikut ujian . Setelah jadwal ini beberapa hari berjalan, pembimbingpun melakukan testimoni terhadap santri mengenai penyesuaian jadwal, mereka kompak menjawab “asik dan enjoy…, di sini lebih banyak prakteknya”.
Namun tidak bisa disembunyikan keletihan yang mereka rasakan meneyesuaikan diri dengan jadwal yang penuh, karena ada 7 session yang mereka dapat dalam sehari. Pada jam-jam luangpun mereka harus mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh para tutor. Maka tidak salah ketika Revania, santri kelas VIII MTs dengan polos mengatakan “ustadzah…sepeda yang kita sewa untuk sebulan liat deh..nganggur..ga kepake..ga ada waktu buat goes-goes keliling Pare..”. sambil tersenyum getir membalas dengan “Berakit-rakit ke hulu, Berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian..” itulah jawaban diplomatis Ustadzah Ela Hulasoh menanggapi keluguannya sambil melawan rasa kasihannya terhadap keluhan anak. (WARDAN/Elana TodoMore)