Belajar Takut?

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Belajar Takut?

 

Berdo’a Kepada Allah, antara takut (khauf) dan pengharapan (raja’)

Sangat mungkin terasa aneh judul tulisan ini. Memang mengapa kita harus belajar takut?, bukankah justru sebaliknya yakni harus belajar berani?.

Nah, takut yang dimaksud di sini beda dengan maksud takut pada umumnya karena terkait dengan Allah SWT.

Jika kita takut dengan binatang buas tentu kita akan menjauhinya. Ketika kita takut dengan orang gila pasti kita juga akan menjauhinya. Namun ketika kita Takut kepada Allah SWT justru akan semakin mendekatinya.

Ayat kauniyah yang baru saja kita rasakan bersama berupa gempa di wilayah Banten yang getarannya terasa kemana-mana menjadi pembuktian bahwa sejatinya kita sangat perlu mendawamkan kedekatan dan kebersamaan dengan Allah SWT.

Siapapun dan sehebat apapun kita maka sangat terasa kekerdilan diri ini pada saat terjadi bencana alam seperti gempa tadi, apalagi diiringi informasi berpotensi terjadinya Tsunami.

Pada titik nadir ini potensi keimanan diri pada Ilahi Rabbi muncul optimal secara alami, ada yang bilang secara manusiawi. Serta-merta kita menyebut Asma Allah SWT yang baik lagi mulia. Kita beristighfar memohon ampunan atas dosa-dosa yang disengaja maupun tidak dinyana, hingga kita bertakbir mengakui kebesaran dan kehebatanNya.
Sayangnya, suasana optimalisasi iman seperti ini seringkali berlaku kontemporer karena memang sifat iman itu fluktuaktif.

Untuk belajar mendawamkan rasa takut kepada Allah SWT mau tidak mau memang kita harus bisa mengendalikan hawa nafsu kita terhadap dunia dengan berupaya secara kontinyu meneladi sikap perilaku Rasulullah Muhammad SAW dalam keseharian kita. Seperti dijelaskan oleh Ibnu Athaillah dalam magnum opusnya Kitab Al Hikam: Tidak ada yang dapat mengusir pengaruh buruk hawa nafsu kecuali rasa takut kepada Allah SWT yang mengoncangkan hati atau rasa rindu kepada Rasulullah yang membuncah: لا يخرج الشهوة إلا خوف مزعج أو شوق مقلق

Perhatikan juga bagaimana wajah mulia Imam Ali Bin Abi Thalib yang tetiba jadi memerah ketakutan tatkala mendengar Adzan. Ketika dikonfirmasi mengapa demikian beliau menjawab bagaimana tidak takut karena ini adalah panggilan dari Allah SWT Yang Maha Kuasa, Raja dari segala raja. Bagaimana dengan kita dan kebanyakan kaum muslimin manakala adzan tiba?.

Mari kembali kita hayati lafadz Takbir ‘Allahu Akbar’ pada panggilan sholat tersebut. Mestinya kita harus meninggalkan segala pekerjaan dan aneka kesibukan ketika sudah mendengar adzan karena faham bahwa Allah SWT Maha Besar dan selainNya kecil.

Semoga sedikit pencerahan ini menjadi pengetahuan yang baik yakni yang menjadikan kita semakin takut kepada Allah SWT, خير العلم ماكانت الخشية معه

Bogor Barat, 1 Dzulhijjah 1440 H/ 2 Agustus 2019 M
Muhlisin Ibnu Muhtarom

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Nasihat Untuk Guru Baru 2020

via IFTTT NASIHAT DAHSYAT PA KYAI UNTUK CALON ALUMNINasihat Syeikh Dr. Sa’ad bin Nashri As Syatsri untuk Santri[Celoteh Santri] Nasihat ketua JQ kepada anggotanya[Celoteh Santri]