Saling membantu adalah pondasi utama dalam kehidupan sosial. Namun pernahkah kamu merasa penat dengan semua curhatan teman yang gak ada habisnya, atau malah jadi tempat sampah orang lain untuk membuang masalahnya.
Nah, gunanya menerapkan batasan disini, agar kita tidak sampai mengorbankan diri untuk kepentingan orang lain, atau justru dimanfaatkan oleh mereka yang berlindung di balik dalih minta tolong.
Dalam psikologi ini disebut dengan people pleasing atau keinginan untuk selalu diakui dan dicintai melalui tindakan menolong. Kita takut jika berhenti menolong orang maka orang itu akan berhenti mengakui dan mencintai keberadaan kita.
Filosofi Cina kuno tentang 99 hari ketulusan dan hari ke-100 untuk menjaga harga diri mengingatkan kita bahwa ada batasan antara membantu orang dan membiarkan diri dimanfaatkan.
Membantu selama 99 hari adalah bukti kasih sayang yang tulus kepadanya, sedangkan berhenti pada hari ke-100 adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap martabat diri sendiri.
Jangan pernah membuat orang lain berpikir bahwa bantuan yang selalu kamu berikan setiap hari adalah sebuah kewajiban yang mutlak. Jika kamu terus-menerus menolang tanpa batas, mereka menjadi bergantung padamu dan lupa cara menyelesaikan masalahnya.
Dengan menjadi pendengar yang baik untuknya, kita sudah membantu meringankan masalahnya dengan menjadi tempat cerita, namun, kita harus tetap ingat jika yang bertanggung jawab atas hidup adalah diri kita sendiri bukan orang lain.
Menetapkan batasan bukanlah keegoisan, melainkan langkah penting agar kebaikanmu tetap bernilai tanpa kehilangan harga diri dan kedamaian pikiran.
