Banjir..ooh..banjir

Masih jelas teringat hari lalu terlihat langit tidak lagi berwarna biru, langit hitam malam enggan beranjak nampaknya dari bumi Indonesia khususnya Jakarta. Siapa yang pernah menyangka kalau kamis malam lalu hujan mengguyur tiada henti, tepatnya terjadi tengah malam. Masih diiringi rasa dingin yang menusuk, hari jum'at pun deras hujan pun kembali mengguyur pagi hingga menjelang malam hari. Tiada mentari pagi yang menemani dan tiada pula terik matahari yang membakar diri ini.  

Tanpa pernah absent dari bumi Jakarta, ternyata hujan yang terus menerus mengguyur hingga hampir dua hari berturut-turut memberikan dampak yang tidak asing lagi dari tahun-tahun sebelumnya. Jelas terlihat hampir di semua bagian wilayah Jakarta genangan air yang tidak begitu tinggi memang, tetapi ini telah berpengaruh besar terhadap kesibukan dan aktivitas Jakarta. Bisa dibayangkan Jakarta dengan hiruk pikuk hari-harinya tiba-tiba saja bisa mati dan sunyi. Dampaknya antara lain delapan pohon di Jakarta tumbang dan belasan traffic light (TL) mati. Kedelapan pohon yang tumbang berada di Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat; Jalan Rasuna Said,15 meter sebelum Kedubes Malaysia arah utara; pintu Sekretariat Negara dari arah Harmoni; dan Jalan Hayam Wuruk, tepatnya di depan Rumah Makan Garuda. Dan juga lintasan busway yang melewati jalan Thamrin lumpuh total. Semua kendaraan bermotor tidak dapat melintasi jalan-jalan mereka. Hampir tidak bisa ditebak memang hujan ketika itu benar-benar membanjiri Jakarta. Presiden Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudhoyono terpaksa mengganti mobilnya dalam perjalanan menuju Istana Kepresidenan Jakarta. Genangan air setinggi betis orang dewasa menyebabkan sedan Mercedes Benz SL 600 berpelat nomor B 1905 BS yang ditumpangi Presiden harus berhenti tepat di depan Pusat Perbelanjaan Sarinah. Ini hanya sebagian kecil kejadian yang ada atas banjir yang melanda Jakarta, tanpa diuraikan mungkin anda bisa menebak sendiri apa dampak banjir bagi masyarakat,  

Adanya musibah ini bukan berarti gubernur DKI Jakarta Bapak Fauzi Bowo tidak mengambil tindakan bijak untuk mengantisipasi banjir yang melanda Jakarta. Berbagai usaha dan upaya telah dilakukan dalam mengantisipasi adanya banjir-banjir yang melanda Jakarta. Masih belum diketahui dengan pasti apa penyebabnya banjir yang selalu melanda Jakarta dan bahkan menjadi agenda tahunan tersendiri. Akhirnya kita juga sebagai warga Negara Jakarta yang harus banyak-banyak instropeksi diri. Manusia hanya bisa berusaha dan bekerja tapi akhirnya Allah jugalah yang menentukan semua takdir yang akan terjadi.  

Tidak demikian halnya yang terlihat di bumi Darunnajah semua masih mengerjakan aktifitas yang sama, hanya mungkin saja ada beberapa yang tidak terlihat karena adanya hujan deras yang tiada henti. Tetapi tetap saja hari ini sabtu tanggal 2 februari 2008, matahari masih enggan untuk menmpakkan senyumnya.(Usth. Runi Puspita S)