Di setiap pesantren, ada sekelompok santri yang punya tugas berbeda dari teman-temannya. Mereka tidak hanya belajar dan beribadah seperti santri lain — mereka juga diberi tanggung jawab menjaga ketertiban seluruh lingkungan pesantren. Bagian keamanan, begitu biasanya disebut. Santri yang dipilih untuk peran ini biasanya yang sudah dinilai cukup dewasa dan bisa dipercaya, meskipun usia mereka kadang baru enam belas atau tujuh belas tahun.
Tugas bagian keamanan mencakup banyak hal yang mungkin tidak terlihat oleh santri lain. Memastikan semua santri sudah masuk asrama di jam yang ditentukan. Mengecek apakah ada yang keluar dari lingkungan pesantren tanpa izin. Menjaga ketertiban saat acara besar berlangsung. Menjadi mediator pertama ketika ada konflik antar santri sebelum masalah sampai ke ustadz. Setiap tugas itu membutuhkan kombinasi ketegasan dan kebijaksanaan yang jarang dimiliki oleh anak seusia mereka di luar pesantren.
Yang membedakan bagian keamanan di pesantren dari petugas keamanan di tempat lain adalah pendekatannya.
Tidak ada kekerasan. Tidak ada intimidasi. Pelanggaran ditangani dengan percakapan, bukan dengan hukuman fisik. Santri yang kedapatan melanggar aturan didekati secara personal, diajak bicara, dan ditanya kenapa melakukan itu. Pendekatan itu terasa lambat dan kurang tegas dibandingkan langsung menghukum, tapi hasilnya jauh lebih bertahan lama. Santri yang diajak bicara cenderung memahami kesalahannya. Santri yang langsung dihukum cenderung hanya menghindari hukuman tanpa memahami kenapa aturan itu ada.
Proses menjadi anggota bagian keamanan mengubah cara santri memandang aturan.
Sebelum dipilih, mereka mungkin juga pernah melanggar. Tapi setelah berdiri di sisi yang menegakkan aturan, perspektif berubah total. Kita yang pernah menjadi bagian keamanan tahu betul bahwa menegakkan aturan jauh lebih sulit dari melanggarnya. Butuh keberanian untuk menegur teman sendiri. Butuh ketenangan untuk tidak terpancing emosi saat santri yang ditegur malah membantah. Butuh konsistensi untuk tetap adil meskipun yang melanggar adalah teman dekat.
Momen yang paling menguji biasanya terjadi ketika harus menegur teman seangkatan atau bahkan teman dekat. Situasi itu sangat canggung. Aturan tetap harus ditegakkan, tapi hubungan pertemanan juga harus dijaga. Santri bagian keamanan yang berhasil melewati momen itu tanpa kehilangan teman dan tanpa mengabaikan aturan sedang belajar keterampilan yang sangat langka — kemampuan memisahkan peran profesional dari hubungan personal.
Alumni yang pernah menjadi bagian keamanan sering bercerita bahwa pengalaman itu membentuk kepribadian mereka secara mendalam. Di dunia kerja, mereka cenderung menjadi orang yang berani menegur hal yang salah meskipun tidak populer. Di lingkungan sosial, mereka menjadi orang yang bisa diandalkan untuk menyelesaikan konflik tanpa membuat situasi lebih buruk.
Di Darunnajah 2 Cipining, bagian keamanan dari kalangan santri sudah menjadi bagian dari sistem kepengurusan pesantren selama puluhan tahun. Mereka bekerja di bawah bimbingan ustadz dan wali kamar, memastikan bahwa ketertiban pesantren terjaga tanpa mengorbankan suasana kekeluargaan yang menjadi fondasi kehidupan asrama.
Menjaga ketertiban tanpa kekerasan adalah seni yang membutuhkan kedewasaan jauh melampaui usia. Dan pesantren memberikan kesempatan kepada santri muda untuk belajar seni itu secara langsung — dari momen nyata, dengan konsekuensi nyata, di lingkungan yang aman untuk membuat kesalahan dan belajar darinya.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang sistem pembentukan karakter di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.