Di pesantren, ada satu peran yang membuat santri yang menjalankannya harus punya telinga yang tajam dan sikap yang tegas sekaligus sabar. Bagian bahasa — sekelompok santri yang ditugaskan mengawasi penggunaan bahasa resmi di seluruh lingkungan pesantren. Tugas mereka sederhana di atas kertas: memastikan semua santri berbicara dalam Bahasa Arab atau Bahasa Inggris sesuai jadwal pekan itu. Kenyataannya, tugas itu jauh lebih menantang dari yang terdengar.
Bagian bahasa berkeliling pesantren sepanjang hari. Di kantin, di lorong asrama, di halaman, di lapangan olahraga — di mana pun santri berkumpul dan mengobrol. Telinga mereka terlatih menangkap kata-kata Bahasa Indonesia yang terselip di tengah percakapan Bahasa Arab. Satu kata saja sudah cukup untuk diingatkan. Proses pengawasan itu konstan dan tidak kenal waktu libur.
Cara mengingatkan santri yang melanggar aturan bahasa punya seninya sendiri.
Bagian bahasa yang terlalu galak akan membuat santri takut bicara sama sekali — justru kontraproduktif karena tujuannya adalah membiasakan santri berbicara dalam bahasa asing, bukan membungkam mereka. Pendekatan yang terbukti paling efektif adalah koreksi yang ringan dan tidak mempermalukan. Mendekati santri yang berbicara Bahasa Indonesia, mengingatkan dengan tenang, lalu meminta mereka mengulangi kalimatnya dalam bahasa yang benar. Kadang sambil membantu mencari kata yang tepat kalau santri itu memang belum tahu kosakatanya.
Peran bagian bahasa juga membuat santri yang menjalankannya harus memiliki kemampuan bahasa yang di atas rata-rata. Tidak mungkin mengoreksi orang lain kalau diri sendiri masih banyak salah. Tekanan itu menjadi motivasi yang kuat untuk terus meningkatkan kemampuan sendiri — belajar lebih banyak kosakata, memperbaiki tata bahasa, dan memperluas kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing.
Sistem bagian bahasa di pesantren menciptakan ekosistem pengawasan yang unik. Kita yang tinggal di lingkungan itu tahu bahwa di mana pun kita berbicara, ada kemungkinan seseorang dari bagian bahasa mendengarkan. Kesadaran itu secara bertahap mengubah kebiasaan — dari terpaksa berbahasa asing karena diawasi, menjadi terbiasa karena sudah otomatis. Pergeseran dari paksaan ke kebiasaan itulah tujuan sebenarnya dari seluruh sistem ini.
Momen yang paling sering diceritakan alumni tentang bagian bahasa biasanya momen-momen lucu. Santri yang kepergok berbahasa Indonesia dan langsung mengatup mulut sambil tertawa. Santri yang mencoba kabur saat melihat anggota bagian bahasa mendekat. Santri yang dengan kreatif mencampur bahasa asing dengan bahasa isyarat supaya pesannya tetap tersampaikan tanpa melanggar aturan. Momen-momen itu menjadi kenangan yang selalu membuat alumni tersenyum saat mengingatnya.
Dampak sistem bagian bahasa terasa sangat jelas dalam jangka panjang. Alumni pesantren yang sudah terbiasa berbicara dalam Bahasa Arab dan Bahasa Inggris di lingkungan sehari-hari punya keberanian berkomunikasi dalam bahasa asing yang jarang dimiliki oleh lulusan sekolah umum. Keberanian itu bukan datang dari kemampuan sempurna — tapi dari pengalaman bertahun-tahun dipaksa bicara meskipun belum sempurna, dikoreksi tanpa dihakimi, lalu mencoba lagi keesokan harinya.
Di Darunnajah 2 Cipining, bagian bahasa merupakan bagian dari sistem kepengurusan santri yang sudah berjalan selama puluhan tahun. Program bilingual yang mewajibkan penggunaan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris secara bergantian setiap pekan diawasi oleh santri sendiri — menciptakan lingkungan belajar bahasa yang total dan konsisten.
Kemampuan berbahasa asing yang paling bertahan lama memang bukan yang dipelajari di kelas. Tapi yang dipraktikkan setiap hari, dikoreksi dengan sabar, dan akhirnya menjadi bagian dari cara kita berpikir dan berkomunikasi.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang program bahasa dan pendidikan di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.