Bagaimana Karakter Santri Yang Intelek Di Pesantren? Bagaimana Karakter Santri Yang Intelek Di Pesantren?

Bagaimana Karakter Santri Yang Intelek Di Pesantren?

Menurut literatur resmi, santri dimaknai sebagai seseorang yang menuntut ilmu kepada kiai dipesantren. Santri dianggap sebagai salah satu unsur pendukung pondok pesantren karena dari situ dakwah Islam bisa tersebar luas berkat peran santri. Santri telah terbukti membawa kontribusi besar bagi negara Indonesia atau Mancanegara.

Tapi saat ini, banyak santri yang memiliki citra yang buruk dimasyarakat karena banyak yang mengalami krisis adab seperti seenaknya melecehkan wanita didepan umum, memberikan gelar yang buruk kepada orang lain dan lain-lain semuanya bermuara kepada peran santri itu sendiri, Apakah selama ini ilmu yang mereka pelajari sia-sia atau bagaimana? lantas bagaimana karakter santri yang Intelek itu?

Santri intelek kita umpamakan sebagai orang yang tidak hanya menyalakan api saja, tapi juga tahu cara memelihara apinya supaya tidak akan membahayakan lingkungan sekitar, Maksudnya apa? Maksudnya adalah santri intelek bukan sekedar hafal tapi dia juga paham, bukan hanya paham tapi bisa mengaplikasikan kedalam lapisan masyarakat yang dinamikanya terus berubah-ubah. Santri Intelek memiliki karakteristik yang cukup beragam yaitu:

1. Memiliki akar spiritual yang kokoh

Seorang santri tidak kehilangan identitasnya melainkan ia tetap menjaga identitasnya dengan tawadhu’, disiplin ibadah, dan menjadikan adab sebagai poros hidup. Santri harus paham bahwa kecerdasan seseorang tanpa dibarengi dengan adab akan melahirkan keangkuhan yang halus. K.H Hasyim Asyhari menegaskan dalam bukunya Al-Adab wal Muta’allim bahwa pencarian ilmu harus dibangun diatas kesucian hati dan sikap hormat terhadap guru.

2. Berpikir kritis, Tidak taklid buta

Santri intelek bukan robot yang mengulang apapun yang ia dengar. Santri dituntut harus bisa memverifikasi dan menyaring berbagai informasi di era Globalisasi saat ini. Nurcholish Madjid yang biasa dipanggil dengan sebutan “Cak Nur?” Menegaskan bahwa umat Islam harus mempertimbangkan kembali tradisi secara kritis. Bagi Cak Nur, berpikir adalah ibadah yang berarti santri intelek boleh dan harus bertanya bukan untuk memberontak melainkan dapat meningkatkan pemahaman.

3. Menguasai tradisi dan sains modern

Selain memahami kitab kuning, santri intelek harus bisa memahami tren global dari berbagai bidang seperti ekonomi, politik, sosial budaya dan lain-lain. Ia bukan hanya “Pembaca Kitab” tetapi ia juga berperan sebagai “Navigator Masa Depan”. Gus Dur (K.H Abdurrahman Wahid, Mantan Presiden Republik Indonesia ke-4) dikenal selalu menyuarakan pentingnya seorang santri terbuka pikirannya kepada berbagai ilmu pengetahuan, Karena sejatinya Islam tidak pernah membatasi seseorang untuk belajar apapun asalkan tidak keluar dari koridor Syari’at Islam.

4. Peka terhadap sosial dan berorientasi luas

Seorang santri juga dituntut harus paham terhadap berbagai permasalahan masyarakat serta turun tangan memberikan solusi yang membangun bahkan santri harus bisa membawa akhlak sebagai etika publik.

5. Siap memimpin zaman

Santri intelek tidak sekedar mengikuti arus perkembangan zaman, melainkan ia harus memimpin arus itu sendiri. Ia mampu memetakan masa depannya, membaca peluang serta mampu menggerakkan perubahan itu dengan nilai-nilai pesantren yang tertanam dalam dirinya.

Jadi bisa disimpulkan bahwa santri intelek itulah yang bisa diharapkan untuk membawa kontribusi nyata bagi Umat Muslim. Semoga kita termasuk santri yang karakteristiknya disebutkan diatas, Aaminn Yaa Rabbal Alaminn.