Babies Of Smokers

DNKindergarten, 01/12

Semua orang pasti tahu mengenai bahaya merokok bagi kesehatan. Meskipun kampanye antirokok santer digembar-gemborkan, namun merokok tetap menjadi budaya yang diwariskan turun-temurun. Hal ini terbukti dengan maraknya fenomena balita merokok, karena pengaruh keluarga dan lingkungan perokok. Seperti Reno Adriansyah yang akrab dipanggil Enno itu usianya baru dua tahun, hanya selisih beberapa bulan dengan Ardi Suganda – balita berusia 2,5 tahun dari Desa Teluk Kemang, Musi Banyuasin, yang beberapa bulan lalu sempat menghebohkan tanah air karena sanggup menghabiskan empat bungkus rokok per hari.

Reno Adriansyah tinggal bersama kedua orangtunya Deli Kusnadi (34) dan Tika Nurhasanah (34) di Dusun III, Desa Karya Mulya, Kecamatan Rambang Kapak Tengah (RKT), Kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Tanggal 27 September 2010 ini, usia Enno genap 2 tahun empat bulan. Namun di usianya yang masih hijau itu, Enno sudah mengenal dan sanggup menghabiskan rokok satu bungkus sehari. Padahal, tinggi badan Enno baru 90 cm dan berat 15 kg, menandakan dia masih balita. Orangtuanya pun sehari-hari bekerja sebagai buruh penyadap karet yang penghasilan per harinya hanya sekitar Rp 10 ribu sampai Rp. 20 ribu. Artinya untuk kebutuhan makan, bagi orang tua Enno masih lebih berharga dibandingkan dengan kebutuhan rokok, apalagi rokok bermerk yang rata-rata harga per bungkusnya mencapai Rp 4 ribu sampai Rp. 15 ribu per bungkusnya.

Menurut  Komnas Perlindungan Anak, sepanjang tahun 2010, setidaknya ada 6 kasus balita merokok di usia 11 bulan hingga 4 tahun. Ini baru kasus yang terpublikasi dan terdeteksi. Bisa jadi, diantara anak-anak jalanan yang terbiasa merokok, terdapat balita merokok juga di dalamnya.

Balita Merokok, Meniru Orang Tua

Balita cenderung meniru perilaku orang-orang di sekitarnya. Keluarga dan lingkungan perokok menjadi alasan utama mengapa balita merokok.  Ditambah lagi jika balita mendapat tepukan tangan dari orang-orang sekitar ketika menunjukkan aksi merokoknya. Alih-alih berhenti, sang balita malah semakin hanyut dalam kecanduannya.

Menurut Kak Seto Mulyadi, setidaknya butuh 2,5 tahun untuk memulihkan balita dari kecanduan merokok. Hal ini beliau ungkapkan ketika menangani kasus Ardi, balita berusia 2,5 tahun yang ketagihan merokok dan sanggup mengisap 40 batang rokok setiap harinya.

Terapi yang digunakan Kak Seto untuk mengobati kecanduan balita merokok adalah dengan bermain. Secara bertahap, intensitas merokok Ardi dikurangi  dan dialihkan melalui permainan yang disukainya. Beliau optimis, jika terapi ini terus dijalankan, maka lambat laun Ardi akan terlepas dari kebiasaan merokoknya.

Angka Kematian Balita sebagai Perokok Pasif

Sebanyak 90% dari ayah perokok mengaku merokok di rumah ketika seluruh anggota keluarganya berkumpul. Menurut riset yang dilakukan oleh American Association for Cancer Research, semakin muda usia anggota keluarga, maka penyerapan racun asap rokok ke dalam tubuhnya pun sebagai besar. Balita dan anak-anak di bawah 6 tahun ternyata memiliki kadar nikotin 12% lebih tinggi daripada orang dewasa yang  terpapar polusi asap rokok di rumahnya.

Pada tahun 2006, UNICEF mengungkapkan fakta bahwa sebanyak 32,4 ribu balita meninggal akibat perilaku merokok orang tuanya. Hasil riset  American Journal of Public Health (2008) juga mengungkapkan bahwa angka kematian balita di lingkungan orang tua merokok lebih tinggi daripada angka kematian balita di lingkungan orang tua yang bukan perokok.

Jelas sudah bahwa budaya merokok, selain menjadi penyebab balita merokok, tapi juga meningkatkan angka kematian balita akibat terpapar polusi asap rokok. Angka kematian ini bisa dikurangi jika masyarakat sadar dan peduli untuk merokok di tempat khusus perokok (smoking area) atau menghilangkan kebiasaan merokoknya.

Kak Seto berkata, kasus ini diperlukan penanganan lebih serius terhadap balita seperti itu dalam mengubah perilaku dengan membatasi pergaulan di lingkungan tempat ia tinggal. Diharapkan semua pihak turut membantu. Terutama diperlukan pemberdayaan masyarakat sekitar dan orang tua demi kebaikan masa depan anaknya.

Mudah-mudahan kejadian Kasus Balita Merokok ini menjadi yang terakhir dari berbagai kasus dampak rokok terhadap anak-anak. Untuk itu diharapkan untuk semua pihak agar lebih memperhatikan aktivitas dan kebiasaan anak-anak yang berada dilingkungannya, utamanya orang tua.