DNKindergarten, 04/11
SALAH persepsi bila Anda mengatakan, merokok tidak menyakiti siapapun kecuali diri Anda. Tahukah Anda, efek buruk merokok juga akan menimpa keluarga tercinta?
Penasehat Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Hakim Sorimuda Pohan, mengingatkan para ayah perokok agar berhati-hati ketika menggendong anaknya. Apalagi, anaknya yang masih berusia balita. Secara tidak sengaja, sang ayah bisa menularkan penyakit pada anak. Ia menyebutkan kini ada tiga jenis perokok yang ada. “First hand smoker, second hand smoker dan third hand smoker,” kata Hakim di Jakarta, Rabu (2/11).
First hand smoker adalah perokok pertama. Orang ini merokok sehingga memasukkan sendiri racun ke dalam tubuhnya. Second hand smoker merupakan orang yang menghirup asap rokok. Yang mungkin jarang disadari yakni third hand smoker. Mereka ialah orang yang tidak merokok, tidak menghirup asap rokok tetapi berhubungan langsung dengan perokok. Baginya, ketiga jenis perokok ini memiliki akibat yang sama saja bahayanya.
Ia mencontohkan seorang ayah yang biasa merokok di kantor, ketika pulang langsung menggendong anaknya tanpa terlebih dahulu ganti baju atau cuci muka. Tanpa disadari, ayah tersebut telah menjadikan si anak sebagai third hand smoker.
“Ayah merokok di kantor, pulang tanpa berwudhu, cium si anak. Niatnya si mau sayang, tapi secara tidak sengaja ia malah memberikan racun pada anak,” ujar dia. Ia menjelaskan, sisa-sisa nikotin bisa saja masih menempel di wajah atau baju ayah. Racun itu akan menguap dan terhirup melalui udara. “Ya seperti orang yang merokok kan nafasnya juga bau rokok,” katanya.
Jika kebetulan si anak mempunyai penyakit bawaan asma, dengan udara yang kotor, maka asma akan sulit disembuhkan. “Jadi kalau anak asma dan nggak sembuh-sembuh, cek saja siapa yang bawa racun ke rumah,” ujarnya sambil tersenyum.
Faktanya, anak perokok memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena asma, meningitis (radang selaput otak), dan “congek” (cairan kental pada telinga karena radang), demam, batuk, dan mudah terkena kuman penyakit. Tidak cukup sampai di situ, suatu studi di Amerika Serikat pernah membuktikan bahwa anak umur 12 tahun yang memiliki orangtua perokok, dua kali lebih besar kemungkinannya untuk menjadi perokok antara umur 13-21 tahun dibandingkan anak yang tidak tinggal di lingkungan perokok.
Memang, tidak mudah untuk berhenti merokok karena dalam prosesnya, Anda akan mengalami gejala-gejala ketagihan (adiksi) nikotin, seperti ketagihan untuk merokok, mudah marah, labil, nyeri lidah/nyeri pada gusi, kesulitan untuk berkonsentrasi, post nasal drips, konstipasi, kembung, sakit perut, batuk, sakit kepala, sulit tidur, kelelahan, nyeri tenggorokan, mulut kering, dan nyeri dada. Namun, tidak ada kata terlambat untuk berhenti, berapa lamapun Anda sudah merokok.
Sebagai langkah mempermudah proses berhenti merokok, simak tip dari SSMH berikut:
1. Bersihkan rumah dari atribut-atribut rokok, seperti bungkus rokok, asbak, dan korek. Bau rokok akan merangsang Anda untuk tergiur merokok kembali. Ajaklah rekan-rekan Anda yang perokok untuk tidak melakukannya di depan Anda.
2. Bersabarlah, khususnya dalam 1-2 pekan pertama. Kemungkinan akan timbul perselisihan dengan teman-teman atau keluarga yang masih merokok.
3. Ambil sisi positifnya berhenti merokok dan dapatkan dukungan lingkungan sekitar dan keluarga agar membantu mempermudah proses dan merealisasikan stop merokok.
4. Lakukan kesibukan, berjalan-jalan, atau melakukan aktivitas fisik pada waktu-waktu biasanya Anda merokok untuk memerbaiki mood dan mengurangi gejala ketagihan.
5. Mintalah bantuan profesional seperti dokter dan ikuti program berhenti merokok yang mereka sarankan.
(sita,[email protected])
