(Berkaitan dg hari kEnaikan Isa almasih , di COPAS tulisan tahun lalu smg bermanfaat)

Kenaikan Isa Almasih

Antara Aqidah Islam dan Doktrin Kristen

13 Mei 2010, umat kristiani di seluruh dunia memeringati hari kenaikan Isa al Masih. Di negeri kita, peringatan tersebut dijadikan sebagai salah satu hari libur nasional.

Dalam Islam, Isa Almasih Alaihissalam diyakini sebagai salah seorang rasul dan bukan Tuhan. Ia diutus oleh Allah Subhaanahu Wata’ala kepada Bani Israil (Yahudi dan Kristen). Ia wajib diimani oleh setiap muslim dan tidak mendikotomikannya dari rasul yang lain, sebagaimana dalam firman-Nya, artinya,
“Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara para rasul-Nya.” (QS. al-Baqarah: 285).
Ia juga diyakini telah naik atau diangkat oleh Allah Subhaanahu Wata’ala ke sisi-Nya. Keyakinan naiknya Almasih dalam Islam ini, ternyata jauh berbeda dengan konsep naiknya beliau dalam doktrin Kristen.

Doktrin Kristen tentang Kenaikan Almasih

Keyakinan naiknya Almasih ke surga atau ke sisi Allah dalam doktrin Kristen, sangat terkait dengan klaim wafatnya beliau di tiang salib. Jika orang-orang Yahudi mengklaim bahwa mereka telah berhasil membunuh dan menyalibnya atas berbagai tuduhan, maka orang-orang Kristen meyakini wafatnya di tiang tersebut semata-mata untuk menebus dosa turunan Adam Alaihissalam. Beliau diyakini wafat pada hari Jumat dan dikuburkan pada malam Sabtu, dan masih berada di dalam kuburnya hingga malam Ahad.

Konon kabarnya, dua hari setelah ia mati disalib, yaitu pada pagi hari Ahad, ia bangkit dan keluar dari kuburnya dan akhirnya bertemu dengan para pengikutnya di daerah al-Jalil, di Palestina. Setelah empat puluh hari berada di tengah-tengah mereka—pasca penyaliban, beliau pun naik ke langit.

Akidah Islam tentang Naiknya Almasih

Sangat berbeda dengan keyakinan Kristen, dalam Islam beliau diyakini tidak mati disalib. Ia telah diselamatkan oleh Allah Azza Wajalla dari konspirasi orang-orang yahudi. Beliau lolos dari penyaliban setelah Allah Azza Wajalla menyerupakannya dengan seseorang. Pada akhirnya, orang yang serupa dengan Almasih itulah yang disalib.

Setelah Allah Subhaanahu Wata’ala membantah klaim orang-orang Yahudi, “Kami telah membunuh Isa Almasih”, Allah menjelaskan peristiwa yang sebenarnya, yaitu, “Mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, akan tetapi ia telah diserupakan (dengan seseorang) untuk mereka.” Lalu Allah pertegas posisi Almasih setelah selamat dari upaya pembunuhan tersebut.
“Bahkan Allah telah mengangkatnya ke sisi-Nya, dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Lihat QS. an-Nisa: 157-158).

Jumhur ulama Islam memandang bahwa beliau saat itu diangkat dengan ruh dan jasadnya dalam keadaan masih hidup, dan akan terus seperti itu sampai Allah menurunkannya kembali di akhir zaman sebagai salah satu tanda semakin dekatnya hari kiamat. Keyakinan ini, didukung dengan beberapa argumen dan fakta, antara lain:

Pertama; Allah menyebutkan peristiwa diangkatnya Almasih ke sisi Allah dalam konteks bantahan terhadap klaim orang-orang Yahudi bahwa mereka telah berhasil membunuhnya. Sekiranya ia diangkat hanya dengan ruhnya saja tanpa jasad dalam keadaan telah wafat, maka bantahan Allah terhadap mereka sama sekali tidak memiliki arti apa-apa, sebab semua orang yang telah wafat, baik secara normal maupun yang mati disalib, semuanya terangkat rohnya ke langit.

Kedua; Allah menyinggungkan kasus diangkatnya ke sisi Allah dalam surat Ali Imran ayat: 55 dalam konteks penyebutan keistimewaan-keistimewaannya. Sekiranya ia diangkat hanya dengan ruhnya, maka hal itu bukan sesuatu yang istimewa, karena semua manusia baik nabi maupun manusia lainnya juga mengalami hal yang sama.

Agumentasi ini diperkuat oleh fakta yang disebutkan oleh Allah dalam firmannya:
“Dan tidak ada seorang pun di antara Ahlul Kitab, kecuali pasti ia akan beriman kepadanya (Isa) sebelum wafatnya, dan pada hari Kiamat dia (Isa) akan menjadi saksi atas mereka.” (QS. An Nisa:159)

Ayat ini sangat transparan menjelaskan bahwa beliau tidak akan wafat sebelum Ahlul Kitab seluruhnya beriman kepadanya, padahal sejarah—baik klasik maupun kontemporer—telah mencatat bahwa tidak semua mereka beriman kepadanya, bahkan mayoritas mengingkarinya. Secara faktual, Ahlul Kitab yang beriman kepada Isa Almasih saat berdakwah di tengah mereka sangat sedikit, sebagian ahli sejarah menyebutkan hanya sebelas atau dua orang saja, yaitu; mereka yang dikenal dengan istilah kaum hawariyyiin. Sementara ayat tersebut telah menegaskan bahwa ia tidak akan wafat sebelum semua Ahlul Kitab beriman kepadanya. Fakta ini menunjukkan bahwa tugas Almasih belum sempurna, tetapi kelak ia akan menyempurnakannya sebelum ia wafat.

Fakta lain yang mendukung bahwa beliau belum wafat, dan hanya diangkat oleh Allah adalah bahwa beliau akan berkomunikasi dengan umat manusia saat usianya telah senja, Allah berfirman, artinya, “Dan dia berbicara dengan manusia (sewaktu) dalam buaian dan saat usia senja, dan dia termasuk di antara orang-orang shaleh.” (QS. Ali Imran: 46).

Sebenarnya, kemampuan seseorang berkomunikasi pada usia senja, yang dalam bahasa Arab diistilahkan dengan fase kahl atau kuhulah, yaitu umur yang telah lewat empat puluh tahun ke atas, bukanlah sesuatu yang istimewa, tapi mengapa Allah menyebutkannya dalam konteks keistimewaan dan memaralelkannya dengan kemampuannya berbicara saat masih bayi? Hal tersebut dapat terjawab dengan memahami fakta perjalanan hidupnya, yaitu; beliau diangkat oleh Allah ke sisi-Nya saat usianya baru berkisar 33 tahun.

Dan pada saat kembali ke permukaan bumi ini di akhir zaman, ia akan hidup selama 40 tahun, maka apabila usia 33 tahun dikalkulasi dengan 40 tahun, hasilnya menjadi 73 tahun, yaitu usia yang benar-benar tepat dikatakan sebagai fase alkahl atau alkuhulah. Dengan demikian, ayat tersebut mengindikasikan bahwa ia akan melanjutkan perjalanan hidupnya di atas muka bumi ini sebelum akhirnya beliau menemui ajalnya.

Turunnya Isa Almasih ke Permukaan Bumi

Perjalanan hidup Isa Almasih belum berakhir dengan diangkatnya ke sisi Allah, tapi masih akan berlanjut dengan turunnya kembali di akhir zaman ke permukaan bumi ini untuk menunaikan tugas mulia yang belum sempat ditunaikannya atau belum sempurna pada priode kehidupannya yang lalu. Kedatangannya nanti di akhir zaman menjadi salah satu tanda dekatnya hari kiamat, sebagaimana dalam firman Allah Azza Wajalla, artinya,

“Dan sesungguhnya dia (Isa) benar-benar menjadi pertanda akan datangnya hari kiamat, karena itu maka janganlah engkau ragu tentang hari kiamat tersebut.” (QS.az Zukhruf : 61)
Turunnya kembali Isa putra Maryam juga ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam beberapa sabdanya, antara lain,

“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh sudah dekat turunnya putra Maryam sebagai pemimpin yang adil. Ia akan menghancurkan salib, membunuh babi dan mengapus jizyah (pajak).” (Muttafaqun alaihi)

Kesimpulan:

Meskipun doktrin orang-orang Kristen juga meyakini kenaikan Isa Almasih Alaihissalam, tapi keyakinan tersebut sangat berbeda dengan akidah islamiyah. Dalam Islam, beliau diyakini sebagai sosok hamba yang dijadikan rasul kepada Bani Israil, lalu diangkat oleh Allah Azza Wajalla ke sini-Nya dalam keadaan hidup setelah orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuh dan menyalibnya. Ia masih hidup dan tidak akan wafat kecuali setelah ia turun kembali ke permukaan bumi ini di akhir zaman. Pada saat itu, semua Ahlul Kitab pasti beriman kepadanya.

Abu Yahya Shalahuddin Guntung, Lc.
(Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Malik Su’ud, Riyadh-KSA)

Referensi Utama:
-Asyraatus Saa’ah, Dr. Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al-Wabil.
-Az-Zatul Ilahiyah bainal Islam wan Nashraniyah, Dr. Abdus Syakur bin Muhammad Aman al-‘Arusiy.
-Dirasat fil adyaan, al-Yahudiyah wan Nashraniyah, Dr. Su’ud bin Abdul Aziz al-Khalaf.
(Al Fikrah No.12 Tahun XI/22 Jumadil Ula 1431 H)
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Sumber email dari Ust : Sulaiman Effendi <[email protected]
nanink

Kesehatan sehari-hari

Kesehatan adalah sesuatu yang sangat penting dan sangat mahal harganya. Kadang kita terlalu menyepelekan kesehatan. contoh saja dalam berolahraga. Dengan banyak beraktivitas kita jarang melakukan olahraga. Padahal kita harus menyempatkan waktu minimal 3 kali dalam seminggu unutk berolahraga. Apalagi diusia 30 tahun keatas yang rentan akan penyakit.

Cara yang lain adalah dengan menjaga pola makanan yang sehat. Kita harus mengurangi makanan yang berlemak, kita harus banyak akan buah-buahan dan makan sayur-sayuran segar.

Cara yang tidak kalah pentingnya adalah dengan menjaga lingkungan, contoh mengenao sampah, kita kadang menyepelekan sampah yang tercecer disekitar kita, padahal sampah-sampah menimbulkan penyakit yang sangat berbahaya bagi kesehatan.

sumber : Latihan Menulis dari Ibu Muzdalifah, S.Pd,I guru wali kelas 2D

nanink

KEWAJIBAN TAAT KEPADA RASUL saw.

Kewajiban tatat kepada Rasulullah saw, Ittiba’ kepada beliau, taslim (menyerah) kepada keputusan beliau, menjadikan beliau sebagai hakim satu-satunya dan tidak menyalahi perintah beliau, itulah aqidah seorang muslim.

Allah swt telah berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

قُلْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ فإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

Artinya:

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.” ( Ali Imran: 31-32)

Allah swt. Memerintahkan Rasul-Nya yang mulia Shalaullahu ‘alihi wa sallam untuk mengatakan kepada seluruh manusia yang mendakwahkan dirinya cinta kepada Allah. “Ittiba’-lah kepadaku jika memang benar-benar mencintai Allah.”

Ayat yang mulia ini merupakan ujian dan sekaligus sebagai hakim yang mengadili setiap manusia yang mengaku cinta kepada Allah akan tetapi tidak Ittiba’ kepada Rasulullah saw. Menurut ustadz Abdul Hakim Abdat dalam hal ketaatan kepada Rasul, terbagi menjadi dua golongan manusia:

Golongan pertama: setiap manusia yang berada diluar Islam. Mereka yang mengatakan kami bertuhan, kami mencintai Tuhan, dan jika ditanyasiapa yang menciptakan langit dan bumi mereka menjawab Allah, akan tetapi mereka tidak beriman kepada Rasul, bahkan menentang dan memusuhinya, mereka itulah orang-orang yang berpaling dan sesungguhnya Allah tidak menyukai (mencintai) orang-orang yang kafir.

Golongan Kedua: Setiap manusia yang berada di dalam Islam dan mereka ini terbagi lagi menjadi dua golongan.

Pertama: Manusia yang dzahirnya beriman akan tetapi batinnya kufur. Meraka itulah oarang-orang yang munafik yang banyak tersebut dalam al-qur’an, diantaranya diawal surat Al-Baqarah sampai ayat 20.

Kedua: Mereka yang lahir batinnya beriman kepada Allah dan Rasulnya, akan tetapi mereka tidak Ittiba’ sepenuhnya kepada Rasulullah saw. baik dalam Itiqad , manhaj yang haq dakwah dan lain sebagainya. Maka pengakuan mereka bahwa mereka mencintai Allah, mendakwahkan Islam dan lain-lain dari pengakuan yang dusta dan batil dan amal mereka tertolak (AlMasaa-il (hal 18) oleh Abdul Hakim bin Amir Abdat), sebagaimana Rasulullah telah bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ اَمْرُنَا فَهُوَرَدٌّ (رواه مسلم وغيره

“Barang siapa yang mengerjakan sesuatu amal yang tidak ada ketengannya dari kami (dari agama kami), maka tertolaklah amalan tersebut.” (HR. Muslim 5/133).

Menurut Ust. Yazid bin Abdull Qadir Jawas “kita wajib mantaati Nabi saw. dengan menjalankan apa yan diperintahkannya dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Hal ini merupakan konsekuensi dari syahadat (kesaksian) bahwa beliau adalah rasul (utusan) Allah.” Selain itu beliau (Ust. Yazid) mengatakan bahwa “dalam Al-qur’an, Allah telah menyebutkan ketaatan kepada Rasulullah saw dan meneladaninya sebanyak 40 kali.” Demikianlah, karena jiwa manusia lebih membutuhkan untuk mengetahui apa yang Nabi saw. bawa dan mengikutinya dari pada kebutuhan kepada makanan dan minuman, ia hanya berakibat mati di dunia. Sementara jika tidak mentaati dan mengikuti Rasulullah saw. maka akan mendapat siksa dan kesengsaraan yang abadi. (Syarah Aqidah Ahlus sunnah wal jama’ah hal.262 oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas).

Nabi saw. telah memerintahkan kit, agar mengikutinya dalam melakukan berbagai Ibadah sesuai dengan apa yang telah beliau contohkan seperti beliau saw bersabda :

صَلُوْاكَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلَيِ

“Shalatlah sebagimana kalian melihat aku sholat.” (HR. Bukhari 631)

لَتَأْ خُذُ وْا عَنّىِ مَنَا سِكَكُمْ

“Hendaklah kalian mengambil tata cara manasik (haji) kalian dariku.” (HR. Muslim 1297)

مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتَيِ فَلَيْسَ مِنِّي

“Barang siapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Bukhari 2697 dan Muslim 1719/118)

Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’anul Karim dan terjemahannya
  2. Shahihul-Bukhari, Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (wafat th.256 H) cet. Daarus-Salaam. Riyadh,1417H.
  3. Shahihul Muslim, Ilham Abu Husain Muslim bin Hajjaj Al-Qusyairi Fuad Abdul Baqy, Cet. Daarul Hadist Kairo. 1412 H.
  4. Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Cet. Ke 7, pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta. 1430 H.
  5. Al Masaa-il (jilid 3), Abdul Hakim bin Amir Abdat. Cet. Ke 4 Darus sunnah Jakarta. 2007.

(Farhan Kamilullah, S.H.I./ DJ)

Air Bersih

Mengapa kita harus menjaga kesehatan? tentunya agar hidup kita menjadi lebih baik, sumber kesehatan diantaranya berasal dari air bersih yang dapat dimanfaatkan untuk banyak hal dalam hidup kita, diantarnya minum, masak dan mencuci.

Air bersih dapat ditandai denga warna yang jernih, tidak keruh dan tidak bau. Bagaimana merawat agara air tetap bersih? Membiasakan membuang sampah tidak sembarangan terutama pada sumber air.

Apa yang harus kita lakukan bila air sudah dipenuhi sampah dan tercemar? Peduli lingkungan dengan mengadakan program kebersihan.

Siapakah yang harus menjaga kebersihan air? Penduduk sekitar dan dan aparat pemerintah yang berwenang dalam mensukseskan program air bersih. Timbulkan rasa kesadaran yang tinggi dan penuh tanggung jawab. Kapan saja dan dimana saja kita berusaha menciptakan suasana yang bersih dan asri.

Air sebagai sumber utama kehidupan kita sebaiknya kita jaga dan kita pelihara agar senantiasa dapat menciptakan hidup yang sehat. Risna Novi/nanink

Teknologi saat ini

Teknologi yang sedang berkembang di zaman modern ini pengaruhnya bagi masyarakat luas tidak bisa dihindarkan lagi karena sudah dirasakan dari berbagai kalangan ataupun isnstansi dan di dunia bisnis.

Semakin berkembangnya teknologi dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sebesar itulah kekurangan dan keterlibatan usser dalam teknologi ini. Akibat dari perkembangan teknologi ini menimbulkan banyak masalah seperti timbul ide atau informasi baru. Untuk mengambangkan teknologi baik pada teknologi komputer beserta jaringannya yang disebabkan karena timbul kekurangan dari teknologi komputer tersebut.

Pengaruh selanjutnya adanya kejahatan di dunia maya yang kita kenal dengan hacker, akan tetapi hikmah dari adanya hacker ini adalah para pelaku atau orang-orangnya yang mempelajari IT dimana dapat mengambangkan ilmu-ilmu baru dari masalah yang ditimbulkan hacker. zaenudin/nanink

Hari Pendidikan Nasional

Posted by redaksi in Uncategorized | Edit

Jakarta/DNKids_ Tanggal 2 Mei di Indonesia di peringati sebagai hari Pendidikan Nasional, tanggal tersebut merupakan tanggal lahir seorang pahlawan dalam bidang pendidikan yaitu Ki Hajar Dewantara. Berikut adalah sejarah hidup beliau semoga menjadi inspirasi bagi kita yang membacanya.

Raden Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD: Ki Hajar Dewantara, beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 – meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun; selanjutnya disingkat sebagai “Soewardi” atau “KHD”) adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun emisi 1998.

Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Soekarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959)

Masa muda dan awal karier

Soewardi berasal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Ia menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial

Aktivitas pergerakan

Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.

Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD). Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Soewardi diajaknya pula.

Als ik eens Nederlander was

Sewaktu pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis pada tahun 1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Ia kemudian menulis “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” atau “Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga”. Namun kolom KHD yang paling terkenal adalah “Seandainya Aku Seorang Belanda” (judul asli: “Als ik eens Nederlander was”), dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan DD, tahun 1913. Isi artikel ini terasa pedas sekali di kalangan pejabat Hindia Belanda. Kutipan tulisan tersebut antara lain sebagai berikut.

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”.

Beberapa pejabat Belanda menyangsikan tulisan ini asli dibuat oleh Soewardi sendiri karena gaya bahasanya yang berbeda dari tulisan-tulisannya sebelum ini. Kalaupun benar ia yang menulis, mereka menganggap DD berperan dalam memanas-manasi Soewardi untuk menulis dengan gaya demikian.

Akibat tulisan ini ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri). Namun demikian kedua rekannya, DD dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913). Ketiga tokoh ini dikenal sebagai “Tiga Serangkai”. Soewardi kala itu baru berusia 24 tahun.

Dalam pengasingan

Dalam pengasingan di Belanda, Soewardi aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia).

Di sinilah ia kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akte, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya. Dalam studinya ini Soewardi terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan pendidikan India, Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh inilah yang mendasarinya dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.

Taman Siswa

Soewardi kembali ke Indonesia pada bulan September 1919. Segera kemudian ia bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922: Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa.

Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. (“di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, dari belakang mendukung”). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.

Pengabdian di masa Indonesia merdeka

Dalam kabinet pertama Republik Indonesia, KHD diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia (posnya disebut sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan) yang pertama. Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari universitas tertua Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, ia dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959).

Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 26 April 1959. (anggra/wikipedia)