Ini topik yang jarang dibicarakan secara terbuka, padahal dialami oleh cukup banyak keluarga: anak yang sudah mondok tapi minta pulang. Apakah ini tanda kegagalan? Apakah harus langsung dituruti? Atau harus dipaksakan bertahan? Tidak ada jawaban yang mudah — tapi ada beberapa perspektif yang mungkin membantu.
Apakah ini hal yang umum?
Lebih umum dari yang dibayangkan. Banyak santri — mungkin sebagian besar — pernah mengalami momen di mana mereka ingin pulang. Terutama di minggu-minggu atau bulan-bulan awal. Ini manusiawi. Anak yang dipindahkan ke lingkungan yang sepenuhnya baru, jauh dari keluarga, dengan aturan yang belum dikenal — wajar kalau ada momen keraguan.
Yang penting dibedakan: apakah ini keinginan yang muncul sesaat di momen emosional, atau keinginan yang konsisten dan tidak membaik seiring waktu. Keduanya membutuhkan respons yang berbeda.
Apa yang biasanya menjadi penyebab?
Rindu rumah adalah penyebab paling umum, terutama di awal. Tapi ada juga faktor lain: belum menemukan teman yang cocok, kesulitan mengikuti pelajaran, merasa tidak nyaman dengan wali kamar atau teman sekamar, atau sekadar belum terbiasa dengan kepadatan jadwal.
Kadang penyebabnya bukan satu hal besar, tapi akumulasi hal-hal kecil yang menumpuk. Anak mungkin tidak bisa mengungkapkan dengan tepat apa yang membuatnya tidak betah — ia hanya tahu bahwa ia ingin pulang.
Pesantren yang peka biasanya berusaha mencari tahu akar masalahnya, bukan sekadar menyuruh anak bertahan. Tapi jujur — tidak semua pesantren atau wali kamar punya kemampuan ini secara merata. Ini area yang terus perlu ditingkatkan.
Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua?
Pertama, dengarkan. Ketika anak bilang ingin pulang, jangan langsung menolak atau langsung menyetujui. Dengarkan dulu alasannya. Kadang anak hanya butuh didengar — dan setelah didengar, ia merasa lebih baik dan siap mencoba lagi.
Kedua, komunikasi dengan pesantren. Bicarakan dengan wali kamar atau bagian pengasuhan tentang kondisi anak. Tanyakan bagaimana perilakunya sehari-hari — apakah hanya di telepon ia terlihat sedih, atau memang di keseharian juga menunjukkan tanda-tanda tidak nyaman. Perspektif dari pesantren bisa melengkapi apa yang disampaikan anak.
Ketiga, beri waktu yang cukup. Kebanyakan ahli dan praktisi pendidikan pesantren menyarankan untuk memberi waktu minimal satu semester sebelum mengambil keputusan final. Banyak anak yang di bulan pertama ingin pulang, tapi di bulan ketiga sudah tidak mau meninggalkan pesantren. Proses adaptasi memang tidak selalu nyaman, tapi sering berbuah manis.
Kapan harus serius mempertimbangkan untuk membawa pulang?
Ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai: anak menunjukkan penurunan kesehatan fisik yang signifikan, menarik diri sepenuhnya dari interaksi sosial, menolak makan dalam waktu lama, atau mengungkapkan keinginan pulang secara konsisten setelah waktu yang cukup lama tanpa ada perbaikan sama sekali.
Kalau tanda-tanda ini muncul, orang tua perlu berdiskusi serius dengan pesantren. Keputusan untuk membawa pulang bukan kegagalan — itu pengambilan keputusan yang bertanggung jawab berdasarkan kondisi nyata anak.
Tidak semua anak cocok dengan model pendidikan yang sama. Dan mengakui itu membutuhkan keberanian yang lebih besar daripada memaksakan anak bertahan demi gengsi.
Apa yang bisa dilakukan pesantren?
Pesantren yang baik tidak akan membiarkan anak yang ingin pulang tanpa pendampingan. Wali kamar seharusnya menjadi garis pertama — mengidentifikasi masalah, memberikan dukungan emosional, dan mencari solusi yang sesuai. Kadang solusinya sesederhana memindahkan anak ke kamar lain, atau menghubungkannya dengan kegiatan yang lebih sesuai minatnya.
Komunikasi dengan orang tua juga penting. Pesantren seharusnya transparan tentang kondisi anak — tidak menyembunyikan masalah dan tidak juga membesar-besarkannya.
Apakah semua pesantren melakukan ini dengan baik? Jujur, belum semua. Tapi kesadaran bahwa pendampingan individual itu penting sudah semakin berkembang di banyak pesantren modern.
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat, berusaha mendampingi santri yang mengalami kesulitan adaptasi melalui wali kamar dan sistem pengasuhan. Prosesnya belum sempurna — masih ada yang perlu ditingkatkan terutama dalam hal kecepatan respons dan kepekaan individual. Tapi kesadaran bahwa setiap anak unik dan butuh pendekatan yang berbeda sudah menjadi bagian dari prinsip pendampingan.
Orang tua yang punya kekhawatiran tentang proses adaptasi anak bisa menghubungi WhatsApp 0812111180 untuk berdiskusi.
Keputusan apapun yang diambil — bertahan atau membawa pulang — yang terpenting adalah keputusan yang diambil bersama, berdasarkan informasi yang cukup, dan mengutamakan kepentingan anak.