Alumni Pesantren yang Menjadi Sutradara Film Layar Lebar — Bercerita dengan Kesadaran Nilai

Alumni Pesantren yang Menjadi Sutradara Film Layar Lebar — Bercerita dengan Kesadaran Nilai

Sebuah film yang ditonton jutaan orang mengubah cara mereka memandang sesuatu dengan kekuatan yang jarang disadari. Film membentuk gambaran tentang siapa yang pantas dikagumi, apa yang pantas dicita-citakan, dan bagaimana seharusnya orang bersikap. Pengaruh ini bekerja secara halus tanpa penonton merasa sedang diajari. Justru karena bekerja secara halus itulah pengaruhnya menjadi begitu besar.

Bagi orang tua dengan anak yang aktif kreatif dan berminat pada film dan cerita, profesi sutradara menjadi jalur yang menarik sekaligus menuntut pertimbangan yang matang. Dunia film kerap dianggap bertentangan dengan nilai yang diajarkan di pesantren. Padahal ada sejumlah alumni pesantren yang justru masuk ke dunia ini dengan kesadaran ingin memberi warna yang berbeda.

Tidak sedikit lulusan pesantren modern yang kemudian menekuni industri perfilman. Ada yang menekuni penyutradaraan film panjang, sebagian menggarap film dokumenter, sebagian bekerja di bidang penulisan skenario, sebagian di bidang produksi. Pilihan mereka menarik untuk dipahami.

Sudut Pandang yang Jarang Dibicarakan

Ada sudut pandang tentang dunia film yang jarang dibicarakan di kalangan keluarga Muslim namun perlu dipertimbangkan dengan jujur.

Kenyataannya, film sudah menjadi medium yang paling kuat memengaruhi generasi muda saat ini. Anak-anak dan remaja menghabiskan waktu berjam-jam menonton berbagai konten visual. Nilai yang mereka serap sebagian besar datang dari sana, bukan dari ceramah atau buku.

Bila keluarga Muslim menjauhi dunia ini sepenuhnya, maka medium yang paling berpengaruh itu sepenuhnya diisi oleh orang lain dengan nilai yang mungkin berbeda. Anak-anak Muslim tetap akan menonton, hanya saja tidak ada satu pun karya yang berbicara dari kerangka nilai yang mereka pegang.

Sebagian alumni pesantren masuk ke dunia ini justru dengan kesadaran seperti ini. Mereka melihat kekosongan yang perlu diisi. Bukan dengan membuat film yang menggurui atau berisi ceramah, karena film seperti itu tidak akan ditonton orang. Melainkan dengan membuat karya yang bagus secara sinematik namun membawa nilai secara jujur dan tidak dipaksakan.

Pendekatan ini menuntut kemampuan ganda. Di satu sisi harus benar-benar menguasai bahasa film agar karyanya layak ditonton dan bersaing. Di sisi lain harus memiliki kejelasan nilai agar tidak terbawa arus. Menguasai satu saja tanpa yang lain menghasilkan karya yang gagal, entah gagal secara artistik atau gagal secara nilai.

Beberapa film Indonesia yang berhasil menyampaikan nilai keislaman dengan cara yang diterima luas dibuat oleh orang yang memahami keduanya. Karya-karya seperti ini menjangkau penonton yang tidak akan pernah datang ke pengajian namun tersentuh oleh cerita yang mereka tonton.

Ada juga pertimbangan tentang batas yang harus dijaga. Industri film memiliki banyak praktik yang bermasalah dari sisi nilai. Menjaga diri dalam lingkungan seperti ini menuntut kejelasan prinsip yang kuat. Sebagian memilih membangun tim produksi sendiri agar bisa mengendalikan lingkungan kerja.

Modal yang Terbawa dari Pesantren

Modal pertama adalah tradisi bercerita yang sangat kaya. Pendidikan pesantren dipenuhi kisah. Kisah para nabi, kisah sahabat, kisah para ulama, kisah dalam kitab-kitab klasik. Santri tumbuh dengan ribuan cerita yang mereka dengar dan pelajari.

Yang lebih penting, mereka belajar bagaimana sebuah kisah menyampaikan pelajaran tanpa menggurui. Kisah dalam Al-Quran kerap dibiarkan menyentuh hati pembaca lebih dahulu, dan di banyak tempat pelajarannya ditegaskan secara langsung. Cara bertutur yang menggugah renungan sekaligus jelas maknanya ini sesungguhnya sangat sesuai dengan prinsip film yang baik.

Modal kedua adalah pemahaman tentang struktur naratif. Kisah-kisah klasik memiliki struktur yang kuat dengan konflik, perjalanan, dan perubahan. Santri yang menyerap ribuan kisah secara tidak sadar menyerap juga struktur naratif yang membuat kisah bekerja.

Modal ketiga adalah kemampuan public speaking dan memimpin yang dilatih melalui muhadhoroh dan organisasi santri. Seorang sutradara harus memimpin puluhan bahkan ratusan orang di lokasi syuting. Ia harus menjelaskan visinya, meyakinkan orang, dan menjaga semangat tim dalam kondisi yang melelahkan. Kemampuan memimpin ini sangat menentukan.

Modal keempat adalah kedisiplinan dan ketahanan kerja. Produksi film menuntut jam kerja yang sangat panjang dengan tekanan yang tinggi. Alumni pesantren dengan kebiasaan disiplin dan ketahanan menjalani rutinitas berat biasanya lebih siap.

Modal kelima adalah kepekaan pada dimensi batin manusia. Film yang baik menyentuh sesuatu yang dalam pada penonton. Kemampuan memahami pergulatan batin, rasa bersalah, penyesalan, harapan, dan penebusan datang dari kedalaman pemahaman tentang manusia. Latar pesantren dengan kajian tasawuf dan akhlak memberi kedalaman yang tidak dimiliki banyak orang.

Bidang yang Ditekuni

Bidang film panjang menjadi jalur yang paling menantang dan paling berpengaruh. Sebagian alumni pesantren pernah menekuni penyutradaraan film yang tayang di bioskop dan dinikmati banyak penonton.

Bidang film dokumenter menjadi jalur yang banyak diminati karena memberi ruang untuk menyampaikan kenyataan. Dokumenter tentang tokoh, tentang persoalan sosial, atau tentang tradisi yang terancam hilang menjadi karya yang bermakna. Dokumenter semacam ini pun terbuka untuk diikutsertakan ke berbagai festival, termasuk yang berskala internasional.

Bidang film pendek menjadi tempat memulai bagi banyak sineas. Biaya produksi lebih terjangkau dan menjadi sarana membangun portofolio. Banyak festival film pendek yang menjadi pintu masuk ke industri.

Bidang serial untuk platform digital berkembang sangat pesat. Kebutuhan konten yang terus meningkat membuka banyak kesempatan bagi sutradara baru.

Bidang penulisan skenario menjadi jalur yang sesuai bagi yang kuat dalam bercerita namun tidak berminat memimpin produksi. Penulis skenario yang baik sangat dicari dan jumlahnya terbatas.

Bidang produksi konten edukatif visual menjadi area yang bermakna. Membuat konten yang mengajarkan sesuatu dengan cara yang menarik menjadi kebutuhan besar di dunia pendidikan.

Bagi orang tua dengan anak aktif kreatif yang berminat film, jenjang pesantren modern memberi modal bercerita dan kejelasan nilai yang justru menjadi pembeda. Yang perlu ditambahkan adalah penguasaan teknis yang harus dibangun dengan serius melalui pendidikan dan latihan.

Perjalanan menjadi sutradara seperti yang dibahas di sini memang menuntut penguasaan teknis dan kejelasan nilai sekaligus. Yang efektif adalah kemampuan bercerita yang baik disertai kesadaran akan tanggung jawab atas pengaruh yang luas. Pesantren Darunnajah 2 Cipining berusaha menanamkan kesadaran nilai bagi anak yang dititipkan di sana. Tentu setiap keluarga juga punya cara sendiri untuk membantu anak mengembangkan bakat kreatifnya dengan arah yang tepat.

Bila Ingin Berbincang Lebih Jauh

Bila Bapak atau Ibu ingin berbincang lebih jauh, bisa langsung menghubungi WhatsApp di wa.me/62812111180. Pertanyaan apapun akan dijawab dengan tenang dari pengalaman keseharian, bukan dari brosur. Kunjungan langsung juga terbuka setiap hari tanpa perlu janji terlebih dahulu, dan biasanya pengamatan sendiri memberi gambaran yang lebih utuh dari apa yang bisa dijelaskan dalam tulisan.