Alumni Pesantren yang Menjadi Penulis Skenario — Struktur Cerita dari Tradisi Kisah

Alumni Pesantren yang Menjadi Penulis Skenario — Struktur Cerita dari Tradisi Kisah

Sebuah cerita yang bekerja memiliki struktur yang sesungguhnya sudah dikenal manusia selama ribuan tahun. Ada tokoh yang menginginkan sesuatu. Ada halangan yang membuatnya sulit. Ada perjuangan yang mengubah tokoh itu. Ada akhir yang memberi makna pada seluruh perjalanan. Struktur ini muncul dalam kisah dari berbagai peradaban karena memang begitulah cara manusia memahami pengalaman.

Bagi orang tua dengan anak yang aktif kreatif dan berminat menulis, profesi penulis skenario menjadi jalur yang menarik. Kemampuan bercerita sering dianggap semata bakat alami yang tidak bisa dilatih. Padahal struktur cerita sesungguhnya keterampilan yang bisa dipelajari, dan yang paling cepat menguasainya biasanya orang yang telah menyerap banyak cerita sepanjang hidupnya.

Ada pula alumni pesantren yang menapaki jalur penulisan skenario. Sebagian menulis untuk film layar lebar, sebagian untuk serial televisi, sebagian untuk platform digital, sebagian menulis naskah untuk konten edukatif.

Satu Modal yang Sangat Menentukan

Bila diperhatikan lebih dalam, ada satu modal yang dimiliki alumni pesantren dan sangat menentukan kemampuan mereka menulis cerita. Modal tersebut adalah jumlah kisah yang mereka serap selama bertahun-tahun.

Pendidikan pesantren sesungguhnya dipenuhi kisah. Kisah para nabi dalam Al-Quran dengan struktur naratif yang sangat kuat. Kisah perjalanan hidup Rasulullah yang dipelajari secara rinci. Kisah para sahabat dengan berbagai pergulatan batin dan pengorbanan. Kisah para ulama dalam kitab-kitab biografi. Kisah-kisah hikmah dalam kitab adab.

Seorang santri yang menempuh enam tahun pendidikan pesantren telah menyerap ribuan kisah. Ini bukan sekadar membaca, karena kisah-kisah itu dibahas, dianalisis, dan diambil pelajarannya. Santri belajar mengapa sebuah keputusan tokoh masuk akal, apa yang menggerakkan seseorang untuk berkorban, dan bagaimana sebuah perjalanan mengubah orang.

Yang lebih penting, kisah-kisah ini memiliki kualitas naratif yang sangat tinggi. Kisah Nabi Yusuf misalnya memiliki struktur yang sangat canggih dengan pengkhianatan, kehilangan, godaan, penjara, kebangkitan, dan pengampunan. Kisah ini mengandung hampir semua elemen yang dipelajari di sekolah penulisan skenario.

Perbedaan penting terletak pada cara kisah-kisah ini disampaikan. Al-Quran kerap membiarkan kisah menyentuh hati pembaca terlebih dahulu, dan di banyak tempat menegaskan pelajarannya secara langsung. Cara bertutur yang menggugah renungan inilah yang dekat dengan prinsip penting dalam penulisan skenario, yaitu menunjukkan dan tidak sekadar memberi tahu.

Santri yang tumbuh dengan cara bercerita seperti ini secara tidak sadar menyerap prinsip tersebut. Ketika kemudian mereka belajar penulisan skenario secara formal, banyak prinsip yang terasa sudah dikenal. Mereka tidak perlu diyakinkan bahwa menggurui akan merusak cerita, karena mereka sudah merasakan sendiri bagaimana kisah yang baik bekerja.

Secara umum, yang kerap membedakan seorang penulis adalah kedalaman pemahaman tentang pergulatan batin manusia. Kajian tentang akhlak, tentang penyakit hati, tentang penyesalan dan tobat, memberi pemahaman yang dalam tentang apa yang terjadi di dalam diri seseorang. Pemahaman ini sangat dibutuhkan untuk menulis karakter yang meyakinkan.

Keterampilan Teknis yang Harus Dibangun

Perlu disampaikan dengan jujur bahwa modal berupa banyak kisah tidak otomatis membuat seseorang bisa menulis skenario. Ada keterampilan teknis yang harus dibangun dengan serius.

Keterampilan pertama adalah penguasaan format skenario. Skenario memiliki aturan penulisan yang sangat khusus dan berbeda dari novel atau esai. Cara menulis adegan, dialog, dan petunjuk aksi memiliki aturan baku yang harus dikuasai.

Keterampilan kedua adalah kemampuan berpikir visual. Skenario menulis apa yang terlihat dan terdengar, bukan apa yang dipikirkan tokoh. Penulis harus mampu menerjemahkan gejolak batin menjadi tindakan yang bisa dilihat kamera. Ini adalah keterampilan yang menuntut latihan panjang.

Keterampilan ketiga adalah penguasaan struktur tiga babak dan variasi-variasinya. Meski struktur cerita sudah terserap secara alami, memahaminya secara sadar memungkinkan penulis mengendalikan cerita dengan sengaja.

Keterampilan keempat adalah kemampuan menulis dialog yang terasa alami. Dialog dalam film berbeda dari percakapan nyata. Ia harus terasa alami namun sesungguhnya padat dan bertujuan. Menulis dialog yang baik menuntut telinga yang terlatih.

Keterampilan kelima adalah kesediaan merevisi berkali-kali. Sebuah skenario bisa direvisi puluhan kali sebelum diproduksi. Penulis harus tidak terlalu terikat pada tulisannya dan bersedia membuang bagian yang tidak bekerja meski susah payah membuatnya.

Keterampilan keenam adalah kemampuan menerima kritik. Skenario dibaca dan dikritik oleh produser, sutradara, dan aktor. Kritik bisa terasa menyakitkan. Kesediaan menerima koreksi yang dilatih selama bertahun-tahun di pesantren menjadi karakter yang sangat membantu.

Bidang Kerja yang Terbuka

Penulisan film panjang menjadi jalur yang paling dihargai namun paling sulit ditembus. Persaingan sangat ketat dan proses dari naskah sampai produksi bisa memakan waktu bertahun-tahun.

Serial untuk platform digital berkembang sangat pesat dengan kebutuhan naskah yang terus meningkat, sehingga menjadi pintu masuk yang lebih terbuka bagi penulis baru.

Serial televisi masih menyerap banyak penulis, sebab kebutuhan naskah harian membuat bidang ini terus memerlukan tenaga.

Ada pula penulisan naskah dokumenter yang menuntut kemampuan menyusun kenyataan menjadi cerita yang mengalir, sesuai bagi yang lebih tertarik pada kenyataan daripada fiksi.

Penulisan naskah iklan menuntut kemampuan bercerita dalam waktu yang sangat singkat dengan kepadatan yang ekstrem.

Penulisan konten edukatif visual menjadi area yang bermakna. Menyusun materi pembelajaran menjadi cerita yang menarik membantu banyak orang memahami hal yang sulit.

Adaptasi karya sastra menjadi film menuntut kemampuan menerjemahkan bahasa tulis menjadi bahasa visual, dan sangat menantang secara kreatif.

Bagi orang tua dengan anak aktif kreatif yang berminat menulis, jenjang pesantren modern memberi modal berupa ribuan kisah yang terserap dan pemahaman mendalam tentang batin manusia. Yang perlu ditambahkan adalah penguasaan teknis penulisan skenario yang harus dipelajari dengan tekun.

Perjalanan menjadi penulis skenario seperti yang dibahas di sini memang menuntut penguasaan teknis yang serius. Yang menjadi pembeda adalah kekayaan kisah yang sudah terserap dan kedalaman pemahaman tentang manusia. Pesantren Darunnajah 2 Cipining berusaha menyediakan kekayaan tradisi bercerita bagi anak yang dititipkan di sana. Tentu setiap keluarga juga punya cara sendiri untuk membantu anak mengembangkan bakat menulisnya.

Bila Ingin Berbincang Lebih Jauh

Bila Bapak atau Ibu ingin berbincang lebih jauh, bisa langsung menghubungi WhatsApp di wa.me/62812111180. Pertanyaan apapun akan dijawab dengan tenang dari pengalaman keseharian, bukan dari brosur. Kunjungan langsung juga terbuka setiap hari tanpa perlu janji terlebih dahulu, dan biasanya pengamatan sendiri memberi gambaran yang lebih utuh dari apa yang bisa dijelaskan dalam tulisan.