Alumni Pesantren yang Menjadi Fotografer Profesional — Melihat yang Tidak Dilihat Orang Lain
Perbedaan antara foto biasa dan foto yang membekas seringkali bukan pada alatnya melainkan pada apa yang dilihat oleh orang di belakang kamera. Dua orang bisa berdiri di tempat yang sama dengan kamera yang sama dan menghasilkan foto yang sangat berbeda. Yang satu memotret apa yang tampak, yang lain memotret apa yang terjadi. Kemampuan melihat inilah yang membedakan dan kemampuan ini tidak bisa dibeli bersama peralatan.
Bagi orang tua dengan anak yang aktif kreatif dan berminat seni visual, profesi fotografer menjadi jalur yang terbuka namun menuntut kejelasan tentang apa yang sesungguhnya dibangun. Fotografi sering dianggap terutama soal penguasaan peralatan dan teknik. Padahal justru kemampuan melihat yang paling menentukan sekaligus paling sulit dilatih.
Sejumlah lulusan pesantren pun menempuh profesi fotografer profesional. Ada yang menjadi fotografer dokumenter, sebagian fotografer jurnalistik, sebagian fotografer arsitektur, sebagian membangun studio foto sendiri.
Cerita di Balik Cara Melihat yang Terbentuk
Cerita di balik bagaimana alumni pesantren mengembangkan cara melihat yang khas biasanya berkaitan dengan pengalaman yang terlihat tidak berhubungan dengan fotografi sama sekali.
Pengalaman pertama adalah kebiasaan mengamati dalam diam. Kehidupan pesantren memiliki banyak momen di mana santri hanya duduk dan mengamati. Menunggu waktu shalat, duduk di halaqoh mendengarkan ustadz, atau duduk di serambi masjid setelah subuh. Momen-momen ini membentuk kebiasaan mengamati tanpa terburu-buru.
Kebiasaan mengamati ini berbeda dari kebiasaan orang yang terus menerus terpapar rangsangan. Otak yang biasa dibanjiri informasi cenderung melihat secara dangkal karena selalu berpindah ke hal berikutnya. Otak yang terbiasa dengan keheningan cenderung melihat lebih dalam pada satu hal.
Pengalaman kedua adalah kesabaran menunggu. Fotografi dokumenter yang baik menuntut kesabaran menunggu momen yang tepat. Seorang fotografer bisa menunggu berjam-jam untuk satu momen yang berlangsung dua detik. Kebanyakan orang tidak sabar dan pulang sebelum momen itu datang.
Santri sudah terbiasa menunggu. Menunggu giliran setoran hafalan, menunggu waktu shalat, menunggu ustadz selesai menjelaskan sebelum boleh bertanya. Kesabaran ini menjadi karakter yang terbawa.
Pengalaman ketiga adalah kepekaan pada cahaya. Kehidupan pesantren berjalan mengikuti pergerakan matahari karena waktu shalat ditentukan olehnya. Santri secara tidak sadar menjadi sangat peka pada perubahan cahaya sepanjang hari. Mereka tahu bagaimana cahaya subuh berbeda dari cahaya dhuha, dan bagaimana cahaya ashar berbeda dari cahaya menjelang maghrib.
Kepekaan pada cahaya ini adalah dasar fotografi. Fotografi sesungguhnya adalah seni melukis dengan cahaya. Fotografer yang tidak peka pada kualitas cahaya tidak akan menghasilkan karya yang baik meski peralatannya mahal.
Pengalaman keempat adalah kepekaan pada momen yang bermakna. Pendidikan pesantren melatih santri memandang kejadian sehari-hari sebagai sesuatu yang bermakna, bukan sekadar peristiwa acak. Cara pandang ini membuat mereka melihat makna dalam hal-hal yang tampak biasa. Inilah inti dari fotografi dokumenter yang baik.
Pada banyak kasus, yang membedakan karya seorang fotografer bukan teknik melainkan apa yang ia anggap layak dipotret. Kepekaan semacam itu membuat seseorang melihat kebermaknaan di tempat yang orang lain lewati begitu saja.
Bidang Fotografi yang Ditekuni
Bidang fotografi dokumenter menangani pencatatan kenyataan sosial. Fotografer di bidang ini bisa menghabiskan berbulan-bulan mengikuti satu komunitas untuk memahami dan memotretnya dengan jujur. Bidang ini menuntut kesabaran dan kemampuan membangun kepercayaan dengan orang yang difoto.
Bidang fotografi jurnalistik menangani pencatatan peristiwa untuk media. Bidang ini menuntut kecepatan sekaligus kejujuran. Ada dimensi etis yang berat karena satu foto bisa membentuk opini jutaan orang tentang sebuah peristiwa.
Bidang fotografi arsitektur menangani pemotretan bangunan untuk arsitek dan pengembang. Bidang ini menuntut kepekaan pada garis, bentuk, dan cahaya. Beberapa alumni pesantren yang memahami arsitektur masjid berkembang menjadi fotografer khusus bangunan keagamaan.
Bidang fotografi produk menangani pemotretan barang untuk keperluan penjualan. Bidang ini besar karena setiap usaha membutuhkannya. Sektor produk halal khususnya membutuhkan fotografer yang memahami sensitivitas konsumen Muslim.
Bidang fotografi pernikahan dan keluarga menjadi bidang yang paling banyak menyerap fotografer. Bagi keluarga Muslim, fotografer yang memahami adab dan menjaga batasan sangat dicari. Fotografer perempuan yang bisa memotret acara khusus perempuan sangat dibutuhkan dan jumlahnya terbatas.
Bidang fotografi perjalanan dan alam menangani pemotretan lanskap dan budaya. Bidang ini menuntut kesediaan bepergian dan ketahanan fisik.
Bidang fotografi untuk lembaga sosial menjadi area yang bermakna. Banyak lembaga kemanusiaan membutuhkan dokumentasi yang kuat untuk menceritakan pekerjaan mereka. Foto yang baik bisa menggerakkan bantuan bagi ribuan orang.
Dimensi Etis dalam Fotografi
Ada dimensi etis dalam fotografi yang jarang dibicarakan namun sangat nyata dan menjadi ujian bagi fotografer dengan kerangka nilai.
Pertanyaan pertama adalah tentang izin. Memotret orang tanpa izin, terutama dalam keadaan yang memalukan atau menyedihkan, menjadi persoalan etis yang serius. Ada dorongan kuat untuk memotret momen yang dramatis meski orang yang difoto tidak menginginkannya. Menahan diri menuntut kejelasan prinsip.
Pertanyaan kedua adalah tentang kejujuran. Sebuah foto bisa menyesatkan meski tidak diubah sedikit pun, hanya dengan memilih sudut dan momen tertentu. Fotografer bisa membuat kerumunan kecil tampak besar atau membuat suasana tenang tampak mencekam. Kejujuran menyampaikan kenyataan menjadi tanggung jawab yang berat.
Pertanyaan ketiga adalah tentang martabat orang yang difoto. Memotret kemiskinan atau penderitaan bisa menjadi cara membantu, bisa juga menjadi cara mengeksploitasi. Batasnya tipis. Fotografer yang menghormati martabat subjeknya akan menghasilkan karya yang berbeda dari yang sekadar mencari gambar yang mengejutkan.
Pertanyaan keempat adalah tentang batasan aurat dan adab. Bagi fotografer Muslim, ada pertimbangan tentang apa yang pantas dipotret dan bagaimana. Kejelasan tentang batas ini justru sering menjadi keunggulan karena banyak klien Muslim mencari fotografer yang memahaminya.
Alumni pesantren dengan kerangka adab yang sudah terbentuk biasanya memiliki kejelasan tentang batas-batas ini. Mereka bisa menghasilkan karya yang kuat tanpa melanggar prinsip. Kejelasan ini menjadi reputasi yang membangun karir jangka panjang.
Bagi orang tua dengan anak aktif kreatif yang berminat seni visual, jenjang pesantren modern memberi kepekaan melihat dan kesabaran menunggu yang justru menjadi inti fotografi. Yang perlu ditambahkan adalah penguasaan teknis dan pembangunan portofolio yang harus dikerjakan dengan tekun.
Menjadi fotografer, seperti yang diuraikan di sini, pada akhirnya bertumpu pada kemampuan melihat yang tidak bisa dibeli bersama peralatan. Kepekaan dan kesabaran itu tumbuh perlahan dari kebiasaan mengamati selama bertahun-tahun. Pesantren Darunnajah 2 Cipining berusaha menyediakan ruang tumbuh yang menyuburkan kepekaan semacam itu bagi anak yang dititipkan di sana. Setiap keluarga tentu memiliki caranya sendiri dalam mendampingi anak menekuni bakat seninya.
Bila Ingin Berbincang Lebih Jauh
Bila Bapak atau Ibu ingin berbincang lebih jauh, bisa langsung menghubungi WhatsApp di wa.me/62812111180. Pertanyaan apapun akan dijawab dengan tenang dari pengalaman keseharian, bukan dari brosur. Kunjungan langsung juga terbuka setiap hari tanpa perlu janji terlebih dahulu, dan biasanya pengamatan sendiri memberi gambaran yang lebih utuh dari apa yang bisa dijelaskan dalam tulisan.