Seorang teman lama mengirim pesan singkat lewat grup angkatan. Isinya foto berdua dengan pasiennya di sebuah klinik pedalaman Kalimantan. Di bawah foto itu dia menulis: masih ingat waktu kita kesulitan bangun subuh? Sekarang aku bangun sebelum subuh setiap hari, bukan karena bel, tapi karena ada orang yang menunggu untuk diobati. Pesan itu dibaca ratusan orang di grup. Tidak ada yang membalas. Tapi kita tahu, banyak yang diam-diam menyimpannya.
Ada sesuatu yang jarang dibicarakan tentang alumni pesantren. Bukan soal hafalan atau bahasa Arab. Tapi tentang satu hal yang baru terasa belasan tahun setelah lulus: betapa beragamnya jalan hidup yang akhirnya ditempuh.
Benarkah pesantren hanya mencetak satu jenis profesi?
Orang luar sering mengira pesantren hanya mencetak satu jenis profesi. Ustaz. Guru agama. Pandangan itu tidak sepenuhnya salah, karena memang banyak alumni yang memilih jalan itu dan mereka luar biasa. Tapi pandangan itu tidak lengkap. Jauh dari lengkap.
Di antara teman-teman seangkatan, ada yang sekarang menjadi dokter spesialis di rumah sakit pemerintah. Ada yang mengelola startup teknologi. Ada yang menjadi pengacara, menangani kasus-kasus hak asasi di pengadilan tinggi. Ada yang memilih pertanian organik, membangun kebun di tanah kelahirannya, dan mengekspor hasilnya ke luar negeri. Ada pula yang mengajar di universitas, menulis buku, atau memimpin lembaga pendidikan yang didirikannya sendiri.
Seorang kawan memilih dunia seni. Dia pelukis. Karyanya pernah dipamerkan di galeri Jakarta dan Kuala Lumpur. Ketika ditanya apa hubungan pesantren dengan melukis, jawabannya sederhana: di pesantren aku belajar disiplin dan kesabaran, melukis butuh keduanya.
Yang lain ada di pemerintahan. Birokrat. Diplomat. Mereka tidak banyak bicara tentang masa pesantren di kantor. Tapi cara mereka bekerja — cara mereka memperlakukan bawahan, cara mereka mengambil keputusan di bawah tekanan — itu semua terbentuk jauh sebelum mereka mengenakan seragam dinas.
Apa yang sebenarnya membentuk alumni sampai bisa berkarir di mana saja?
Jawabannya bukan pada kurikulum formal saja. Memang, sistem pendidikan yang memadukan pelajaran umum dan keagamaan secara bilingual memberikan bekal akademik yang solid. Itu penting. Tapi bukan itu satu-satunya penjelasan.
Yang lebih menentukan adalah sesuatu yang tidak tertulis di rapor.
Bayangkan seorang anak berusia tiga belas tahun. Dia tinggal jauh dari rumah. Tidak ada orang tua yang membangunkan, tidak ada yang mengingatkan makan, tidak ada yang menyelesaikan konflik dengan teman sekamar. Dia harus belajar mengatur waktunya sendiri, menahan emosinya sendiri, menyelesaikan masalahnya sendiri. Setiap hari. Selama bertahun-tahun.
Anak itu mungkin tidak menyadarinya saat itu. Tapi puluhan tahun kemudian, ketika dia harus memimpin tim di kantor, atau mengambil risiko bisnis, atau bertahan di tengah kegagalan — dia tidak kaget. Dia sudah pernah merasakan tekanan. Dia sudah pernah kalah dan harus bangkit keesokan harinya tanpa pelukan siapa pun.
Fondasi karakter itulah yang portabel. Bisa dibawa ke mana saja. Ke ruang operasi. Ke ruang sidang. Ke ladang. Ke panggung. Ke meja negosiasi.
Kenapa kemampuan hidup bersama orang berbeda menjadi modal karir?
Pesantren mengajarkan hidup bersama orang-orang yang berbeda. Teman sekamar bisa berasal dari Aceh, Papua, Jawa, Sumatera. Mereka membawa kebiasaan berbeda, logat berbeda, cara berpikir berbeda. Dan kita harus tidur di ruangan yang sama, makan di meja yang sama, belajar di kelas yang sama. Selama bertahun-tahun.
Kemampuan itu — kemampuan untuk bekerja dengan siapa saja, memahami orang yang berbeda, menahan ego — sekarang disebut soft skill oleh dunia korporat. Perusahaan-perusahaan besar mengeluarkan upaya besar untuk pelatihan semacam itu. Alumni pesantren sudah mendapatkannya sejak remaja, tanpa sertifikat, tapi terpatri sampai tua.
Apa yang sebenarnya tidak pernah hilang dari alumni pesantren?
Kita yang pernah merasakannya tahu betul. Ada momen-momen kecil yang tidak akan pernah hilang. Suara adzan subuh dari menara yang terdengar samar saat mata masih berat. Bau tanah basah setelah hujan di bukit Bogor Barat Bogor. Tangan teman yang menepuk pundak tanpa kata ketika kita sedang rindu rumah.
Momen-momen itu kecil. Tapi mereka membentuk sesuatu yang besar di dalam diri kita.
Lebih dari tiga dekade lembaga pendidikan ini berdiri, dan setiap tahun meluluskan generasi baru. Sebagian besar dari mereka tidak akan terkenal. Tidak akan masuk berita. Tapi mereka ada di mana-mana. Menjadi guru yang sabar di pelosok. Menjadi insinyur yang jujur. Menjadi ibu dan ayah yang tahu cara mendidik karena mereka pernah dididik dengan cara yang tidak biasa.
Darunnajah 2 Cipining bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ini tempat di mana karakter dibentuk melalui pengalaman langsung, bukan teori. Dan karakter itulah yang akhirnya menentukan, bukan nilai rapor, bukan ranking kelas.
Bagi orang tua yang sekarang sedang mempertimbangkan pendidikan terbaik untuk anaknya, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan anakku nanti jadi apa. Tapi: anakku nanti jadi orang yang seperti apa? Itu pertanyaan yang layak direnungkan sebelum mengambil keputusan.
Kalau ingin berdiskusi lebih lanjut, silakan hubungi wa.me/62812111180. Kadang, percakapan singkat bisa membuka perspektif yang tidak terduga.