Alhamdulillah, Di Malam Nan Berkah Santri Mengenal Qira’ah ‘Asyrah

Upaya peningkatan ketrampilan dan kemahiran santri dalam berbahasa meliputi berbagai cara, baik pengajaran formal di dalam kelas maupun berbagai kegiatan ekstrakurikuler di lingkungan asrama pesantren. Salah-satu upaya peningkatan tersebut  adalah dengan diadakannya presentasi oleh alumni Darunnajah yang sudah tamat atau sedang belajar di beberapa perguruan tinggi luar negeri. Mereka yang sedang mengunjungi almameter tercinta, diberi kesempatan untuk sharing informasi dan pengalaman kepada para santri. Beberapa tahun terakhir ini sudah beberapa alumni Al Azhar Mesir yang menyampaikan presentasi di depan para santri.

Seperti malam ini, Kamis 7 April 2011, kedatangan Ust. Arief Wardhani, Lc ke pesantren Darunnajah Cipining dimanfaatkan untuk membangkitkan semangat santri dalam berdisiplin berbahasa asing; Arab dan Inggris dan menghafal Al Qur’an. Dalam pertemuan ba’da Isya di Masjid Jami’ Darunnajah yang dipandu oleh Ust. Romansyah, Lc itu diawali dengan contoh percakapan sehari-hari masyarakat Mesir yang dipraktekkan oleh kedua alumni Azhar tersebut. Ust. Romansyah adalah alumni dari Al Azhar Tantha dan Ust. Arief Wardhani merupakan alumni Al Azhar Kairo. Dengan antusias mereka berdua mempraktekkan beberapa hiwar/percakapan. Seluruh santriwan, santriwati dan beberapa asatidz yang hadir tampak khusyu’ menyimak percakapan tersebut.

Selanjutnya Ust. Arief  menyampaikan pengalamannya belajar di negeri seribu menara tersebut. Alumni Darunnajah tahun 2002 ini lulus seleksi ke Mesir pada tahun 2004, namun karena satu dan lain hal, Al Hafidz perdana Ma’had Tahfidz Darunnajah tersebut baru berangkat ke negeri Piramida pada tahun berikutnya, 2005. Sesuai dengan bakat dan minat beliau mendalami Qira’at Al Qur’an, beliau akhirnya dapat menguasai qira’ah ‘asyrah dan sudah memiliki sanad dalam bacaan Al Qur’annya yang sampai kepada Rasulullah SAW.

Masih menurut Ust. Arief, bahwa Qira’ah itu dinisbahkan kepada Imam, setiap Imam memiliki Rawi dan setiap Rawi ini memiliki Thariq (cara dan metode) yang aneka ragam. Qira’ah terbagi menjadi dua; Qira’ah ‘Asyrah Kubra dan Qira’ah ‘Asyrah Sughra,  3 syarat utama dalam bacaan Al Qur’an yaitu memiliki sanad yang sampai kepada Rasulullah, sesuai dengan mushaf Utsmani dan sesuai dengan kaidah Bahasa Arab. Ustadz asal Kendal yang beralamat tinggal di Purwakarta ini juga mencontohkan beberapa cara dalam membaca Surat Al Fatihah dan beberapa ayat suci Al Qur’an.

Beberapa tempat talaqqi dan guru qira’ah ust. Arief di Mesir antara lain; Syaikh Hasan Mahmoud Syerif (Mu’adzin dan Imam Masjid Amr bin ‘Ash-masjid tertua di pertama di Afrika), Syeikh Hasan Ragab (mantan anggota lembaga tashih Al qur’an Republik Arab Mesir dan pengajar qira’ah di ma’had qira’ah Khozindarah Shubro, Syeikh Ahmad Abdul Rahim (tokoh qira’at Mesir, Ma’had Ar Rahmah Boulaq Kairo,  Syeikh Ahmad Shobir (markaz Tahfidz Qur’an Dr. Ahmad Ma’syarawi -ketua lembaga Tahfidz Qur’an dan syaikhul Qurra Mesir).

Seusai penyampaian yang 99 % dalam bahasa Arab tersebut, para santri diberi kesempatan untuk bertanya. Kesempatan emas ini langsung diambil oleh Sopyan Tsauri (santri kelas V TMI) yang menanyakan cara terbaik dalam membaca Al Qur’an. Ust. Arief menjelaskan, yang wajib adalah membaca dengan satu macam dan satu cara bacaan yang paling masyhur di dunia qira’ah yaitu qira’ah  Imam Hafs dari Imam ‘Ashim , namun bagi yang ingin lebih menguasai aneka macam dan cara bacaan hendaknya mendalami qira’ah sab’ah atau qira’ah ‘asyrah.

Pertanyaan berikutnya disampaikan oleh Saifurrahman tentang kesulitan yang dihadapi mahasiswa Indonesia di Mesir, dan kesulitan tersebut berupa perbedaan dan perubahan iklim, makanan dan tentunya sistem perkulihan yang bebas namun terkendali. Juga, banyaknya materi pelajaran / muqarrar. Namun dengan kesungguhan dan kesabaran,  rintangan-rintangan tersebut bisa diatasi dengan baik. Demikian tutur ust. Arif yang pada tahun ketiga perkuliahnya di Al Azhar pada Fakultas Ushuluddin JurusanTafsir dan  Ulumul Qur’an dapat lulus  dengan kriteria Jayyid Jiddan / Baik Sekali.

Di akhir pertemuan, pemuda kelahiran 1981 ini menyampaikan pengalamannya dalam mengelola Halaqah Qur’an yang dipimpinnya selama di Mesir dan diikuti oleh 30 orang peserta talaqqi dari berbagai provinsi di Indonesia, juga keterlibatan beliau dalam pengelolaan Kampus Al Qur’an binaan PPMI, dan yang tidak kalah menarik adalah pengalaman menjadi Imam sholat Tarawih di Sekolah Indonesia Cairo (SIC) dan Masjid As Salam di Abbas Akkad City. Beliau juga menjadi tutor dalam daurah tajwid dan qira’ah di beberapa almameter, organisasi kekeluargaan dan PPMI Daerah dan memilki beberapa murid yang merupakan anak-anak Mesir, Sudan, Palestina, Perancis dan Belanda. Semoga para santri mendapatkan tambahan energi positif dari pertemuan dengan pembimbing tetap Halaqah Mudzakarah Qur’an (HMQ) IKPDN Cabang Mesir yang kini sedang melanjutkan  dua progam S2 di Mesir; Al Azhar Kairo dan Ma’had Dirasat Ulya Zamalek. (WARDAN/Mr.MIM)