Pesantren Darunnajah 2 Cipining Adalah tempat pertama yang memaksaku belajar sendiri tanpa sandaran meskipun diriku sebenarnya memiliki kemauan untuk memasukinya. Hari pertama aku melangkah ke dalamnya, aku yang tergolong anak yang introvert pun masih membawa banyak ketergantungan: pada orang tua, pada kenyamanan rumah, dan juga kebiasaan lamaku yaitu menonton TV. Gerbang pesantren yang kumasuki bukan hanay sekedar pintu masuk, melainkan justru itulah titik awal sebuah perjuangan dalam mempelajari ap aitu kemandirian.
Disini, telah kusadari bahwa tidak ada yang menungguku siap sedia. Waktu terus berjalan cepat tanpa toleransi, aturan yang telah berdiri tegak, dan akupun harus menyesuaikannya. Rasa lelah, rindu, dan takut bercampur menjadi satu. Namun justru di titik rapuh itulah akupun mulai belajar bahwa berdiri bukan berarti tidak goyah melainkan tetap bertahan meski kaki terasa gemetar.
Hari-hari pertamaku sebagai santri dipondok terasa panjang sekali seakan-akan waktu berhenti untuk tempo yang lama. Seandainya ada mesin waktu mungkin bisa saja aku melompat waktu dengan cepat ke masa depan tanpa harus melewati fase santri, tapi tetap saja itu tidak mungkin itu hanya teori saja dalam fisika. Terkadang tubuh dan hati lelahku seakan bertanya bisakah aku bertahan selama 6 tahun dipondok?. Namun pondok tidak mengizinkanku untuk terus berlarut terlalu lama dalam keraguan.
Aturan pesantren berjalan dengan tegas namun mendidik, jadwal kegiatan menuntut kita untuk selalu patuh terhadapnya. Aku sebagai santri boleh saja goyah tetapi tidak akan diberi ruang oleh pondok untuk mudah menyerah begitu saja. Dari fase inilah aku belajar bahwa berdiripun dimulai bukan dari keyakinan yang dipupuk penuh, melainkan ternyata berawal dari kesediaan menjalani hari demi hari meski hati belum sepenuhnya kuat untuk menjalaninya.
6 tahun di Darunnajah 2 Cipining berarti menandakan hidup dalam lingkungan dengan disiplin yang konsisten alias istiqomah. Bangun sebelum fajar, shalat berjama`ah, belajar formal, piket, belajar berorganisasi hingga ditutup dengan doa didepan rayon serta evaluasi. Hari-hari berjalan terus menerus tanpa jeda.
Awalnya memang disiplin itu rasanya mengekang hidupku. Namun perlahan akupun memahami bahwa disiplin ibarat tulang punggung supaya aku tidak runtuh ditengah perjalanan. Dari rutinitas yang sangat padat, aku belajar cara mengelola waktu, tenaga, dan sikap dalam bertindak. Pesantren telah mengajarkanku bahwa orang yang bertahan sampai akhir adalah orang yang mampu mengendalikan diri.
Hidup di pesantren itu telah mengajarkanku cara menerima sesuatu yang bernama kesederhanaan. Makan apa yang ada, cuci pakaian sendiri, menggosok sendiri dan hidup bersama dalam ruang yang sama. Disini tidak ada satupun kemewahan yang bisa dimanjakan, hanya kecukupan yang bisa disyukuri.
Dari kesederhanaan itu tumbuhlah kekuatan batin. Disitulah aku belajar bahwa berdiri tidak selalu berarti memiliki segalanya, tetapi mampu bertahan dengan apapun yang terjadi. Dari kesederhanaan kitab isa melatih rasa Syukur, dan Syukur dapat menguatkan kita dalam melangkah. Darunnajah 2 Cipining bukan sekedar tempat untuk kita belajar ilmu, tetapi juga ruang latihan dalam bertanggung jawab. Amanah organisasi, tugas harian, tuntutan akademik dan berbagai tuntutan sering kali datang bersamaan. Ada masa kita lelah, jenuh, bahkan keinginan untuk menyerah juga tidak ketinggalan.
Namun pondok justru tidak membesarkanku dengan kemanjaan. Ia bahkan membiasakanku dalam menghadapi tekanan, menyelesaikan berbagai persoalan, dan tetap berdiri Ketika beban terasa berat. Disinilah aku belajar bahwa kekuatan sejati bukan tentang bebas dari berbagai permasalahan, melainkan kemampuan untuk tidak selalu tumbang saat masalah datang.
Disini aku tidak berdiri seorang diri karena dipondok, aku belajar bersosialisasi dengan santri dari berbagai latar belakang. Kami juga belajar mengendalikan ego, memahami segala perbedaan serta saling menguatkan. Kebersamaan di kamar, kelas dan dalam berbagai aktivitas pondok telah mengajarkanku arti sebuah persaudaraan. Saat satu lelah, yang lainpun menguatkan. Dari sinilah aku belajar bahwa berdiri tegak juga berarti tahu kapan harus bersandar lalu bangkit Kembali dengan lebih kuat.
Tanpa terasa waktu telah berjalan begitu cepat berlalu. Tahun demi tahun mengubah caraku memandang hidup. Aku tidak lagi sekedar bertanya apa yang kudapatkan selama ini, tetapi apa yang harus aku tanggung. Pesantren telah membentuk kesadaran dalam diriku bahwa hidup itu adalah amanah. Setiap peran membawa konsekuensi yang ditanggung, setiap pilihan menuntut kesiapan yang harus dipenuhi. Disinilah aku benar-benar memahami makna berdiri: siap menerima akibat dari setiap langkah yang kuambil.
Menjelang masa akhir sebagai santri, aku menyadari bahwa semua pesantren menanamkan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekedar menuntut ilmu: kemampuan untuk berdiri menghadapi berbagai rintangan hidup. Ketika aku melangkah keluar dari pesantren, aku membawa lebih dari ribuan kenangan berharga tapi juga membawa nilai-nilai, kebiasaan, dan keteguhan dalam bersikap. Pesantren ini adalah tempat yang mengajarkanku bagaimana cara berdiri bukan untuk merasa paling kuat, tetapi agar tidak mudah tumbang.
Darunnajah 2 Cipining akan selalu menjadi bagian dari diriku, sebab disanalah aku belajar untuk jatuh lalu bangkit kSembali sebagai pribadi yang lebih tangguh dan siap melangkah untuk masa depan yang akan datang.




