photo_2016-01-26_21-15-28

Salah satu kegiatan wajib bagi kelas Niha’i (kelas XII MA dan SMK) adalah Amali Tadris dimana kegiatan ini juga dijadikan sebagai syarat kelulusan bagi santri Niha’i disamping hasil UN (Ujian Nasional) dan lainnya.

Tahun ini Amalia Tadris dilaksanakan dibulan Januari-Februari 2016 tepatnya tanggal 20/1-4/2/2016 diawali dengan pembekalan sampai praktik Amalia Tadris. Selama pembekalan berlangsung para peserta benar benar ditempa dengan ilmu agar mereka mampu mengajar seperti guru yang profesional oleh para nara sumber yang ahli dalam bidangnya.

Setelah pembekalan selesai para peserta diajarkan cara membuat i’dat yang benar oleh pembimbing yang sudah ditentukan oleh panitia. Dalam Amalia Tadris ini mereka diwajibkan mengajar menggunakan Bahasa Arab dan Inggris, beberapa materi yang dapat mereka pilih adalah Mahfudzat, Tarikh Islam, Muthala’ah, Bahasa Arab, Tafsir, Hadits, Nahwu, Bahasa Inggris, TIK dan lainnya. Dan kelas yang dijadikan untuk praktek adalah kelas 2, 3 SMP/MTs dan Intensive dimana kelas tersebut dalam KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) menggunakan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.

Sebelum peserta Amalia Tadris praktik didalam kelas mereka terlebih dahulu harus meminta judul kepada guru pengajar materi untuk mempersiapkan i’dat serta meminta ijin kepada guru kelas yang seharusnya mengajar pada waktu yang diambil sebagai praktik. Persiapan yang tidak kalah penting adalah persiapan mental dimana mereka untuk pertama kalinya akan berperan sebagai seorang guru pengajar dihadapan puluhan santri, teman kelompok yang akan mengoreksi setiap tindakannya juga dihadapan pembimbing yang akan menyatakan lulus atau tidaknya ia dalam praktik mengajar tersebut. Seperti yang disampaikan oleh Fajar Dzikriansyah “dalam Amalia Tadris kita perlu mempersiapkan materi/i’dat dengan baik juga latihan dengan maksimal tapi hal yang tidak kalah penting adalah kesiapan mental yang bagus karena tanpa kesiapan mental yang bagus persiapan yang maksimal bisa saja menjadi berantakan karena adanya keraguan, kegugupan dan lainya” usai melaksanakan percontohan praktek Amalia Tadris dengan Bahasa Arab. (Abs)