إِنَّ اْلإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا , إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا , وَإِذَا مَسَّهُ اْلخَيْرُ مَنُوعًا
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, Dan apabila ia mendapat kebaikan ia Amat kikir” (QS. Al-Ma’arij 19-21)
Hadirin yang dirahmati Alah
Berdasarkan ayat tersebut manusia pada umumnya terkesan manja, yang selalu mengeluhkan segala sesuatu yang sekiranya hal tersebut tidak mengenakka baginya. Waktu yang ia miliki digunakan untuk berandai-andai dan panjang angan-angan yang tidak ada batasnya yang menjadikan dirinya malas untuk berbuat dan bertindak. Maka yang akan timbul adalah sifat iri dan dengki terhadap kesuksesan orang lain. Mencari-cari kesalahan dan kekurangan pada diri orang lain pada hakekatnya yang sebenarnya mencari dan mengorek kesalahan dan aib orang lain adalah membuka cela dan aib yang ia milki sendiri
Namun apabila kesuksesan telah ia raih, segala segala kemudahan telah ia dapatkan, jabatan terhormat sudah terpegang, fasilitas lengkap tersedia ia akan lupa dan melupakan diri terhadap dirinya sendiri dengan sebenarnya yang tidak lain dan tidak bukan hanya sebagai hamba Allah swt. Seolah-olah segala kenikmatan yang ia rasakan dan bangga-banggakan ialah hasil prestasi yang selama ini ia tekuni tanpa adanya campur tangan dari pihak manapun. Kalau sudah demikian adanya yang ada dalam benak dan pikirannya adalah bagaimana agar semua orang yang setiap saat melihat dia terpesona dan kagum dengan aksesoris yang ia kenakan. Sungguh ironis seandainya diri kita berada dalam lingkaran kemunkaran dan kekufuran ini. Terkecuali orang-orang yang senantiasa aktif dan konsekuen dalam melaksanakan sholat sebagaimana lanjutan ayat tersebut diatas
إلاَّ اْلمُصَلِّيْنَ , الَّذِيْنَ هُمْ عَلَى ضَلاَتِهم دآئمون , والذين في أموالهم حقّ مّعلوم , لّلسّآئل والمحروم , والذين يصدقون بيوم الدّين والّذين هم من عذاب ربهم مشفقون , إنّ عذاب ربّهم غير مأمون , والذين هم لفروجهم حافظون , إلاّ على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم فإنهم غير ملومين
“kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. karena Sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki[1512], Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela” (QS Al-Ma’arij 22-30)
Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Pengecualian karakteristik manusia yang Allah identifikasikan diatas, bahwa manusia cenderung manja tertuju kepada orang-orang yang konsekuen dalam melaksanakan ibadah Sholat. Sebagaimana kita maklum, bahwa Shalat adalah salah satu sarana komunikasi langsung antara pencipta dan ciptaannya. Manusia yang melaksanakan Shalat senantiasa menyeru kepada Allah untuk minta pertolongan dan hidayah serta keredhoan-Nya. Orang yang mengerjakan Shalat dengan baik dan benar akan mempunyai rasa confident yang tinggi, rasa percaya diri yang mantap karena mempunyai sandaran vertical yang kokoh. Ia menyadari bahwa tiada tempat mengadu dan berkeluh kesah kecuali kepada Allah, sebagaimana diajarkan dalam Surat Al-Fatihah ayat ke-5 yang berbunyi: “hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan”.
Segala sesuatunya hasil akhir diserahkan kepada Allah, yang tentunya terlebih dahulu telah melaksanakan usaha maksimal untuk suatu urusan. Lain halnya dengan seseorang yang tidak mempunyai sandaran kuat, rasa minder dan urakan akan senantiasa ia tampakkan demi menutupi kekurangan yang ada pada dirinya, dan tidak mau dirinya dikatakan bersalah dan tidak mampu.
Hadirin yang dirahmati Allah
Mungkin tidak salah jikalau kita berusaha untuk menjadi yang terbaik diantara yang baik, yang tentunya masih dalam koridor kewajaran usaha dan cara yang maslahah. Untuk hal tersebut, yaitu sukses dalam usaha ada 5 tahapan agar kita mencapai sukses diatas kesuksesan:
- Jujur (Honest/Shidiq)
Jujur adalah factor utama untuk mencapai kesuksesan. Rasulullah saw sukses dengan dakwah Islamiyah karena didasari kejujuran. Sebagai bukti kejujuran beliau adalah hingga saat ini, segala syari’at yang beliau dakwahkan bisa sampai kepada kita. Bahkan orang barat yang bernama Michael Hurt meletakkan Rasulullah saw dalam urutan pertama dalam penelitiannya dalam buku “The Most Influenza in The Word”, yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia; 100 Tokoh Yang Paling Berpengaruh di Dunia
- Ishlah (Reform)
Pembenahan diri dari segala kesalahan dan kekeliruan yang telah kita lakukan dimasa lampau, karena kita menyadari bahwa tak seorangpun didunia ini hidup dalam kesempurnaan. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. كلّ بني آدم خطّاء وخير الخطّائين التّوّابون “Setiap Keturunan Adam pasti pernah Salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang-orang yang memperbaiki kesalahannya”. Inilah sikap Kesatria yang mau mengaku salah jikalau dirinya dinyatakan bersalah oleh dirinya sendiri ataupun orang lain. Sekarang sudah bersikap kesatriakah kita dengan legowo mengakui kesalahan yang pernah kita lakukan dimasa lalu? Sebuah pertanyaan besar yang hanya kita sendiri yang tahu jawabannya.
- Istiqomah (Stability)
Istiqoma dalam melaksanakan segala perintah Allah serta menjauhi segala larangan-Nya. Serta muwadhobatul A’mal Shalihah, terus melakukan pekerjaan-pekerjaan yang mendatangkan kemaslahatan dan kemanfaatan untuk dirinya serta selain dirinya. Biasanya kebiasaan senantiasa untuk senantiasa melakukan suatu pekerjaan yang bersifat rutinitas seseorang akan mengalami kebosanan, kecuali bila apa yang ia lakukan akan mendatangkan keuntungan. Baik yang bersifat materi maupun nonmateri. Namun jikalau apa yang ia lakukan tidak akan keuntungan maka dengan tegas ia akan menolak bahkan akan mencela dan ngomong yang tidak ada faedahnya bagi orang lain. Hal ini disindir oleh Allah dalam bahasa Qiyas yang halus dala surat Al-Baqarah ayat 20:
كلّمآ أضآء لهم مّشوافيه وإذآ أظلم عليهم قاموا
“Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti.”
Alangkah indah bahasa yang digunakan untuk menyindir orang yang hanya memerlukan keuntungan yang semu lagi sesaat.
- Amanah (Trusty)
Sifat yang bisa dipercaya,sifat yang menjadikan seseorang menaruh kepercayaan terhadap seseorang yang sekiranya amanah yang dilimpahkan tersebut dijaga dengan baik dan dilaksanakan dengan cerdas. Berbicara tentang amanah, maka figure yang tidak kita sangsikan lagi dengan sifat ke-amanahannya yaitu baginda Rasulullah saw, ini yang bisa kita pelajari dari kisah perjalannya serta biografinya. Inipun dipuji oleh Allah swt, وإنّك لعلى خلق عظيم “Sungguh engkau diatas akhlak yang agung”
- Tawakkal
Berserah diri adalah salah satu usaha final dimana seseorang telah melakukan suatu hal maksimal yang hasil akhirnya terletak atas keadilan dan kekuasaan Allah. Usaha maksimal akan mendatangkan hasil yang baik. Usaha yang setengah-setengah akan menimbulkan penyesalan pada akhirnya. Usaha tanpa niat akan menjadikan suatu prestasi yang kurang memuaskan dan begitu seterusnya. Namun bagaimana format tawakkal seseorang terhadap suatu usaha yang sama pasti akan berbeda, karena kadar keimanan dan ketaqwaanlah yang membedakan seseorang tersebut melakukan tawakkal terhadap suatu usaha, maka banyak-banyaklah kita bertawakkal dari usaha yang kita lakukan. ومن يتوكل على الله فهو حسبه “Barangsiapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”
Hadirin Jama’ah Shalat Jumat yang berbahagia
Sedikit apapun kesalahan pasti pernah dilakukan oleh kita, namun apakah kita menyadari kekeliruan yang telah kita lakukan dan mau untuk memperbaikinya? Orang yang bersyukur cenderung akan hidup dengan damai, apapun yang ia miliki ia pandai untuk berterima kasih kepada yang member. Seorang santri tidak akan takabbur dengan kecerdasan otaknya jikalau ia menyadari bahwa pengetahuan yang ia miliki adalah hasil Photo Copy dari para guru dan Ustadznya. Orang yang kaya tidak akan membusungkan dadanya dan membesarkan kepalanya jikalau ia menyadari bahwa kekayaan yang ia miliki tidak lain dan tidak bukan hanya sebagai titipan yang akhirnya akan kembali diambil oleh sang empunya. Seorang pemimpin tiak akan bertolak-pinggang dan menunjuk-nunjuk dengan angkuh menyuruh kepada bawahannya jikalau ia menyadari bahwa kepemimpin yang ia pegang itu bersifat semu dan sementara, dan masih banyak lagi profesi yang bersifat maya dan semu.
Mari kita kembali kepada fitrah sebagai seorang hamba yang penuh dengan kekurangan dan kedhoifan. Mari kita koreksi kesalahan dan kekurangan yang kita miliki untuk terus bersaha memperbaiki dan meningkatkan ibadah dan usaha pendekatan diri kepada Allah swt. Jikalau jita dekat dengan Allah, maka Allah pun akan dekat dengan kita. Kalau Kalau kita menjauhi Allah maka Allah akan terasa jauh dalam kehidupan kita. Alangkah beruntungnya seseorang jikalau hari ini lebih baik dari pada hari kemarin. Namun jika hari ini sama saja dengan hari kemarin, sungguh meruginya ia. Dan apabila hari esok justru lebih jelek dari pada hari ini, sungguh kehancuran yang senantiasa akan menghampirinya. [WARDAN/Kang DR]




