“Maadza Turiid ?”, “Uriidu an Assytarika Al-Imtihana Assyafahi…”, begitulah sepenggal pertanyaan yang terlontar dari setiap penguji ujian lisan. Tidak hanya materi Bahasa Arab, karena dalam ujian lisan terbagi menjadi 3 kategori. Yaitu kategori Bahasa Arab yang terdiri dari banyak materi Bahasa Arab, kemudian Bahasa Inggris yang terdiri dari banyak materi Bahasa Inggris, dan yang terakhir yaitu kategori Al-quran yang terdiri dari banyak materi Al-quran yang didalamnya terkait juga fiqih ibadah dan do’a keseharian. Untuk tingkat kesulitan pun sudah disesuaikan dengan tingakatan kelas para santri, dimana soal bagi kelas 1 TMI pasti berbeda dengan soal kelas 5 TMI.

Berdiri hingga tertidur, berteriak hingga berlirih, berkelompok hingga menyendri, bertanya hingga ditanya, membuat ujian lisan ini adalah berbeda sekali dengan ujian yang lainnya, dimana itu semua dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat tak hanya para santri yang sibuk dengan belajarnya, tetapi juga segenap guru-guru yang harus mengerahkan tenaganya mulai dari membuat soal ujian, bersabar ketika menghadapi santri yang kesusahan menjawab pertanyaan, karena ketika hal itu terjadi tugas guru selanjutnya adalah meyakinkan kepada santrinya bahwa “kamu pasti bisa menjawabnya”, dengan memberikan soal yang lebih mudah kepada santri tersebut, dan hal yang harus selalu dijaga oleh para guru yaitu keikhlasan, karena mereka sadar bahwa tidak ada sepeser pun pundi-pundi rupiah masuk kedalam kantongnya. Keikhlasan yang melanda para guru yaitu kesadaran bahwa yang mereka kerjakan mendidik para pejuang yang akan memenuhi bumi Allah ini dengan keadilan dan kebenaran, Insyaallah Amiin.

 

Tercatat dalam ujian lisan semester 1 tahun ini yaitu peserta ujian terbanyak hampir menyentuh angka 1000 santri yaitu 900 Peserta Ujian, dan sebanyak 98 guru TMI yang terbagi 2 yaitu menjadi Panitia Ujian serta Guru Penguji dan tambahan sekitar 60 santri akhir TMI baik sebagai asisten penguji dan juga membantu dalam kepanitian ujian lisan ini, yang berlangsung dari tanggal 6 – 11 November 2019.

Sementara itu, pelajaran termahal dalam ujian lisan ini yaitu ujian lisan adalah salah satu dari sekian banyak pendidikan pesantren yang membentuk karaktek dan watak santri, baik dalam mengatur pola hubungannya dengan sesama manusia dan alamnya begitu pun dengan sang penciptanya. Belajar memanglah kunci utama dalam ujian tetapi hal tersebut terasa hambar jika tidak diiringi dengan do’a dan begitu nikmat rasanya jika dilakukan dengan bersama-sama, dengan menggunakan konsep panca jiwa ke 4 yaitu “ Ukhuwah Islamiyyah”, saling tolong menolong dalam kebaikan adalah sesuatu yang diajarka oleh-Nya dalam firmannya surat Al-Ashr, yang berbunyi: “Illallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa tawāṣau bil-ḥaqqi wa tawāṣau biṣ-ṣabr.”. Hiduplah dengan saling nasehat dan menasihati, tolong menolong dalam kebaikan dan kesabaran.

Semoga dengan hal-hal positif diatas Pesantren Annur Darunnajah 8 dapat istiqomah dalam mendidik santri-santrinya dengan selalu menjaga nilai-nilai Pendidikan, yang tak lepas dari nilai keislaman, nilai keagamaan, dan juga nilai kebangsaan yaitu Indonesia yang merdeka. Kesalahan dan sebagainya pastilah selalu hadir dalam setiap langkahnya, ibaratkan seorang manusia yang tidak akan terlepas dari bayang-bayangnya, karena kalau tidak ada bayangan yang mengikutinya maka dia mati begitu pun Pesantren. Maka kami selalu menjadikan kesalahan itu sebagai harta karun yang amat berharga yang dengan itu semua kami dapat mengevaluasi dan memperbaikinya pada kesempatan selanjutnya.