Menu

Wardan Juni 2008

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Pengantar Redaksi Dua puluh tahun adalah umur yang cukup matang. Angka itulah yang sebentar lagi akan dicapai oleh Pesantren Darunnajah Cipining, 18 Juli 2008. Tak terasa. Dimulai dengan jumlah santri yang sedikit, prasarana dan sarana yang minimum, dan berbagai keterbatasan lainnya pada 1988, alhamdulillah kini lembaga ini telah tumbuh menjadi sosok yang menginjak dewasa, dengan pertumbuhan dan perkembangan yang cukup ideal. Berbagai prestasi dan pengakuan hingga tingkat nasional yang diterimanya adalah bukti eksistensi dan kiprahnya, baik dalam lingkup core activity (pendidikan dan pengajaran), maupun bidang lainnya. Dalam suasana kesyukuran tersebut WARDAN edisi ini terbit. Selamat Milad ke­ 20. Semoga Pesantren Darunnajah Cipining terus maju dan berjasa bagi ummat, bangsa dan Negara. Pembaca yang budiman, awal Juni 2008 yang baru lalu TMI Darunnajah Cipining mewisuda alumni angkatan ke-15, sebanyak 75 orang laki-laki dan perempuan. Total alumninya kini telah mendekati angka 1000. Mereka tersebar di berbagai penjuru nusantara: melanjutkan studi, mengabdi di lembaga pendidikan, bekerja, dan berkarya bagi maslahat ummat. Belasan alumni juga sedang menyelesaikan studi S-1 di Al-Azhar Kairo Mesir. Bahkan, seorang alumni yang menjadi dosen di Bogor, Muhammad Muflih, M.A., kini sedang menempuh studi doktoral (S-3) di UIN Jakarta. Hal yang juga patut disyukuri adalah berkenan hadirnya Menteri Negara Koperasi dan UKM RI, Drs. H. Suryadharma Ali, M.Si, pada acara Wisuda Santri TMI tersebut di atas. Kehadiran beliau ini juga memberi motivasi dan menstimulasi pengembangan Koperasi dan UKM di pesantren kita yang sudah lama dirintis. Sembilan belas guru TMI (MTs dan MA) Darunnajah Cipining beberapa waktu lalu juga telah menerima sertifikat pendidik (guru profesional). Hal ini sebagai bukti mereka telah lulus program sertifikasi guru dalam jabatan yang dikoordinasikan oleh Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama RI. Seorang guru lainnya juga sudah dinyatakan lulus, tinggal menunggu penyerahan sertifikatnya. Darunnajah Cipining juga bertekad meluaskan kiprahnya di dunia pendidikan, dengan membuka Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Teknologi Informasi, mulai tahun pelajaran 2008-2009. Gagasan ini sebenarnya sudah muncul sejak 1996, namun kita yakin saat inilah momen yang tepat sesuai yang dikehendaki Allah untuk merealisasikannya, sekaligus sebagai kado ulang tahunnya yang ke-20. Websitekita, darunnajah-cipining.com, juga sudah efektif berfungsi dan ternyata memperoleh sambutan luar biasa, tercermin dari jumlah pengunjungnya yang terekam. Pembaca (orangtua/wali santri, alumni, dan siapapun yang berminat mengetahui perkembangan pesantren kita) dapat mengunjungi situs dimaksud. Kami sangat berharap saran dan kritik bagi penyempurnaan situs tersebut, dan bagi pengembangan pesantren kita tercinta. Berbagai kabar tentang kegiatan santri dan pesantren yang merupakan cerminan komitmen dan upaya perbaikan tiada henti dapat pembaca simak di halaman-halaman WARDAN berikut ini. Selamat membaca. Redaksi W awasan Siapakah Itu? Manusia Pertanyaan (pada judul) di atas sepintas terkesan naif. Mengapa harus bertanya seperti itu? Betapapun, perlu kiranya kita mempertanyakan ulang siapa kita (manusia) ini. Bukan untuk mendebat, mengingkari eksistensinya, apalagi kufur terhadap Tuhan yang telah menciptakannya. Sikap ini perlu kita kemukakan justru untuk lebih menghayati dan meyakini “ apa dan siapa” serta fungsi dan peran manusia di dunia tempat dia hidup dan berpijak. Pemahaman tehadap konsep dan paradigma yang benar tentang manusia ini juga menjadi lebih penting bagi lembaga pendidikan, terutama jajaran pengelolanya. Modalitas ini niscaya berpengaruh besar bagaimana pesantren, sekolah, atau madrasah itu memperlakukan anak didiknya, serta ke arah mana mereka akan dibawa. Istilah manusia di dalam al-Qur’an dikenal dengan tiga penyebutan, yaitu: (1) Al-Basyar, yaitu anak turun Adam AS, makhluk fisik yang suka makan dan berjalan ke pasar. Aspek fisik inilah yang membuat pengertian basyar mencakup anak turun Adam AS secara keseluruhan. Kata basyar sebagai nama jenis yang memiliki makna seperti itu, disebut dalam al-Qur’an di 35 tempat. (2) An-Nas dan al-Ins. Kata an-nas menunjukkan nama jenis bagi keturunan Adam AS, atau menunjuk keseluruhan makhluk hidup secara mutlak. Kata an-nas diulang penyebutannya dalam al-Qur’an sebanyak 240 kali. Sedangkan kata al-Ins berarti tidak liar atau tidak biadab, merupakan kesimpulan yang jelas, bahwa manusia insia itu merupakan kebalikan dari jin yang menurut dalil artinya bersifat metafisik. Metafisik itu identik dengan liar atau bebas karena tak mengenal ruang dan waktu. Kata al-Ins dalam al-Qur’an diulang penyebutannya sebanyak 18 kali. (3) Al-Insan. Nilai kemanusiaan pada manusia yang disebut dalam al-Qur’an dengan terma (istilah) al-insan itu terletak pada tingginya derajat manusia yang menjadikannya layak menjadi khalifah di bumi dan mampu memikul akibat-akibat taklif (tugas keagamaan) serta memikul amanat. Sebab ia mendapat keistimewaan ilmu, pandai berbicara, mempunyai akal dan kemampuan berpikir, berikut medan penerapannya dalam menghadapi ujian untuk memilih antara yang baik dan yang buruk, mengatasi kesesatan yang lahir dari kekuatan dan kemampuannya, serta mengendalikan segala sesuatu yang dapat menutupi kesadaran nuraninya lantaran tergoda oleh kemampuan, kedudukan, dan derajatnya yang lebih tinggi dari derajat dan martabat berbagai makroorganisme dan makhluk-makhluk lainnya. Dalam al-Qur’an kata al-insan disebut di 65 tempat. Di dalam surat al-‘Alaq sendiri kata al-insan diulang penyebutannya sebanyak 3 kali di awal surat tersebut (ayat 1 s.d 8), dengan pesan sebagai berikut: Pertama, mengingatkan manusia akan asal-usul kejadiannya, yaitu dari segumpal darah; Kedua, memberitahukan tentang kelebihan manusia, yaitu diberi ilmu; dan Ketiga, menggugah kesadaran akan kemungkinan munculnya masalah serius, yaitu sikap melampaui batas. Sehingga ketika ia merasa serba cukup maka ia melihat dirinya tidak lagi membutuhkan Tuhan yang menciptakannya. Lihat Dr. Aisyah Bintu Syati. Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an, terjemahan Ali Zawawi (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003). Cet. Ke-2. hlm. 1­ 8. Al-Qur’an bahkan juga mengkhususkan satu surat penuh untuk menggambarkan siapa sebenarnya manusia itu dalam surat yang juga diberi nama manusia (al-Insan). Seperti telah dimaklumi, manusia terdiri atas dua unsur penting, yaitu raga dan jiwa. Mengenai jiwa (nafs) ini penulis memperoleh penjelasan dari Dr. Aisyah Bintu Syati. Ibid. hlm. W awasan 151-177 sebagai berikut. Al-Qur’an membedakan antara pengertian ruh dan nafs. Dalam al-Qur’an dua kata itu tidak sinonim. Dalam al-Qur’an kata ruh disebut sebanyak 21 kali, di antaranya bermakna malaikat Jibril yang dipercaya menurunkan wahyu. Pada intinya kata ruh sebagian berarti nyawa, yang merupakan rahasia Ilahi. Secara keseluruhan, pembahasan mengenai istilah ruhdapat dipungkasi dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Isra'[17]:85, yang artinya lebih kurang sebagai berikut: Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “ Ruh itu termasuk urusan (rahasia) Tuhanmu dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” Sedangkan kata nafs (jiwa, diri) disebut dalam al-Qur’an dalam bentuk mufrad (tunggal) sebanyak 116 kali, dan dalam bentuk jama’ yang menggunakan kata nufus sebanyak dua kali, dan jama’ dengan bentuk kata anfus sebanyak 153 kali. Secara umum, dapat dikatakan bahwa nafs itu mencakup aspek fisik dan psikis itu. Mungkin, yang mendekati kebenaran adalah bahwa nafs adalah jiwa (dhamir) atau unsure psikis manusia, berdasarkan bukti-bukti berupa nash-nash al-Qur’an yang tegas, misalnya, dalam surat al-Qiyamah [75]:1-2; Yusuf [12]:68; dan Luqman [31]:34. Dalam al-Qur’an, kata nafs diberi sifat “ tenang” atau “ diridhai Tuhan” (al-Fajr [89]:27); juga ada yang diberi sifat rendah diri dan takut kepada Allah SWT (al-A’raf [7]:205); yakin akan kebenaran (an-Naml [27]:14); mengalahkan diri sendiri (al-Hasyr [59]:9); menipu (al-Baqarah [2]:9); dengki (al-Baqarah [2]:109); benci (Ghafir [40]:10); dan bimbang, ragu-ragu (Qaf [50]:16). Ada juga nafs yang berhubungan dengan keimanan, kekufuran, hidayah, dan kesesatan (al-Isra’ [17]:15; al-An’am [6]:104; Yunus [10]:107; az-Zumar [39]:41; Saba’ [34]:50; dan al-Naml [27]:92). Juga berhubungan dengan hal khianat, kefasikan, dan ketakwaan (an-Nisa’ [4]:107; dan asy-Syams [91]:7). Nafs (jiwa) itu pulalah yang menyatakan bersedia memikul tugas-tugas keagamaan (taklif) (al-An’am [6]:152; dan ath-Thalaq [65]:7), sebagaimana nafs juga menerima balasan: pahala maupun siksa (misalnya dalam surat an-Anbiya’ [21]:102; dan al-A’raf [7]:9). Al-Qur’an tidak mempergunakan kata jasad (tubuh, raga) atau jism dalam rangkaian pembicaraan tentang pembalasan atau hisab (perhitungan amal). Hal itu menunjukkan bahwa masalah pahala dan siksa tidak semata-mata berkaitan dengan jism (fisik) saja, tapi juga berkaitan dengan nafs(jiwa). Sementara itu pakar psikoterapi muslim kenamaan, Dr. Malik Badri, menjelaskan tentang jiwa (nafs) dengan bahasa perumpamaan. Beliau mengutip pendapat Ibn Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Al-Fawaid, sebagai berikut: Allah SWT telah menciptakan nafs (jiwa) seperti alat penggiling yang terus bergerak dan menuntut adanya sesuatu yang dapat digiling. Biji-bijian yang dimasukkan ke dalamnya akan terus digilingnya; demikian juga kalau dimasukkan ke dalamnya batu-batu kecil atau pasir. Pikiran dan niat yang masuk ke dalam nafs seperti bijian yang dimasukkan ke dalam alat penggiling itu. Gilingan itu terus berputar, tidak pernah berhenti; terus harus diisi dan diisi. Di antara manusia ada yang alat penggilingnya itu menggiling biji-bijian yang kemudian mengeluarkan tepung yang berguna. Ada juga yang alat penggilingnya memproses pasir dan batu-batu kecil, sehingga pada waktu menghidangkan hasil gilingan itu, barulah ketahuan apa yang sebenarnya diproses dalam alat penggilingnya itu. (Dr. Malik Badri, Tafakur; Perspektif Psikologi Islam, terjemahan Usman Syihab Husnan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), Cet. Ke-2, hlm. 21). Wallahu a’lam bis-shawab. <M. Mufti AW Pulungan>

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait