Urgensi Taubat

Urgensi Taubat

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung”. (Q.S. [24] An-Nur: 31).

Manusia mesti bersyukur kepada Allah, karena nikmat dan karunia-Nya kepada mereka amat banyak tak terhingga. Salah satu nikmat yang patut dikemukakan dalam konteks ini adalah diciptakan-Nya manusia dalam bentuk kejadian yang terbaik[1], dimuliakan atas segala makhluk[2], dan diciptakan dalam keadaan fitrah, sebagaimana disebutkan di dalam Q.S. [30] Ar-Rum: 30. Yang dimaksud dengan fitrah tersebut menurut ulama adalah kesucian tauhid. Ayat ini dikuatkan dengan hadits Rasul s.a.w. yang artinya;

Rasulullah s.a.w. bersabda: Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (tauhid). Maka kedua ibu-bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi (Muttafaq ‘Alaih, dari Abu Hurairah).

DSC_0302Nikmat dan kemuliaan ini niscaya kita jaga dan kita syukuri, agar Allah berkenan menambahkan nikmat-nikmat-Nya kepada kita. Terlebih (ruh) kita telah bersaksi bahwa benar Tuhan kita ialah Allah s.w.t., ketika dahulu ditanya oleh-Nya, “Bukankah Aku Tuhanmu”?[3] Bahaya yang paling harus kita waspadai bagi keselamatan iman kita ialah syirk (mempersekutukan sesuatu dengan Allah s.w.t.), padahal tiada sesuatu pun di langit dan di bumi ini melainkan makhluk-Nya. Dan Allah sendirilah Sang Maha Pencipta lagi Maha Kuasa atas segala sesuatu, tiada sekutu bagi-Nya.

Oleh karena itu benarlah ketika Luqman Al-Hakim menasihati putranya, dia mulai dengan, “Hai anakku, janganlah engkau mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah. Sesungguhnya syirk itu adalah kezhaliman yang amat besar.”[4]

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (Q.S. [4] An-Nisa’: 48).[5]

Bila kita telah dapat menghindarkan diri dari syirk, maka selanjutnya kita harus waspada terhadap berbagai perilaku yang disebut dosa atau maksiat. Apa itu dosa? Rasulullah s.a.w. memaknainya sebagai “Apa yang terbersit di hatimu dan engkau tidak mau orang lain mengetahuinya.”[6]

Setiap manusia potensial (dan pasti pernah) melakukan kesalahan dan dosa. Tidak ada orang yang ‘steril’ dari dosa (ma’shum), kecuali nabi/rasul. Untuk menghindari dosa mungkin bisa dengan diam, tidak melakukan apapun, tetapi itu juga salah. Oleh karena itu, berbuatlah. Namun jika terasa telah berbuat dosa, segeralah memohon ampun dan bertaubatlah kepada Allah s.w.t.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. [3] Ali Imran: 133).

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Setiap manusia itu (sangat mungkin) banyak berbuat dosa, dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang (bersegera) bertaubat.”

Dijelaskan pula bahwa di antara ciri-ciri orang yang bertakwa adalah:

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri[7], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Q.S. [3] Ali Imran: 133).

Dosa yang segera dimohonkan ampun dan taubat diibaratkan sebagai noda yang cepat dibersihkan dari pakaian. Dia akan dengan mudah dan cepat dihilangkan.

Taubat yang diterima di sisi Allah hanyalah taubatnya orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan[8], yang kemudian mereka bertaubat dengan segera; bukan taubatnya orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajalnya barulah ia mengatakan, “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. Dan bukan pula taubatnya orang yang mati di dalam kekafiran.[9] Dosa yang dilakukan berulang kali tanpa rasa penyesalan, niscaya menutupi hatinya (dari hidayah dan kebaikan), seperti noda yang merusak keindahan pakaian.[10]

Hendaknya kita tidak memandang ringan karena merasa hanya melakukan dosa kecil. Dosa memang terbagi menjadi dua kategori: dosa besar dan dosa kecil. Dosa besar ialah dosa yang sanksi hukumnya jelas di dunia ini, dan juga diancam dengan adzab di akhirat. Adapun dosa kecil ialah dosa yang tidak secara tegas disebutkan sanksi hukumnya di dunia, juga tidak disebutkan secara spesifik jenis siksanya di akhirat. Tetapi menurut ulama yang lain dosa besar ialah dosa yang dilakukan dengan sengaja dan menganggap remeh (tanpa rasa menyesal, dan berulang-ulang). Adapun dosa kecil ialah dosa yang dilakukan secara tidak sengaja, tidak berulang-ulang, dan disertai rasa bersalah.[11]

Oleh karena itu dikenal ungkapan,

“Tiada (dinamai) dosa besar selama pelakunya bersegera memohon ampun (beristighfar), dan tiada (dinamai) dosa kecil bila pelakunya terus-menerus mengulanginya.”

Taubat itu hukumnya wajib atas setiap orang yang (telah) berbuat dosa. Taubat yang diterima oleh Allah s.w.t. ialah taubat yang sebenar-benarnya (taubat nasuha). Para ulama menyebutkan syara-syarat taubat nasuha itu sebagai berikut[12]:

  1. Meninggalkan perbuatan maksiat tersebut;
  2. Menyesali perbuatan maksiat tersebut;
  3. Ber’azam (berniat sungguh-sungguh) untuk tidak mengulanginya selama-lamanya. (Jika salah satunya tidak terpenuhi, tidaklah sah taubatnya).

Ini kalau dosanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhannya Allah s.w.t., dan tidak bersangkut paut dengan hak sesama manusia.

Kalau ada kaitannya dengan hak sesama manusia, maka ditambahkan:

4. Menyelesaikan perkara hak dimaksud: kalau berupa harta atau sejenisnya, dikembalikan kepada si empunya; kalau berupa sanksi (had) tuduhan dan sejenisnya, dieksekusi, atau meminta maaf kepada yang dizhaliminya; dan kalau berupa ghibah (menggujing), meminta maaf kepada yang digunjingkannya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai”. (Q.S. [66] At-Tahrim: 8).

Wallahu a’lam bis-shawab

Disampaikan Oleh Ust. Mufti Abdul wakil, S.Pd.I

Pada Khutbah Jum’at di Masjid Jami’ Pondok Pesantren Darunnajah Cipining.


[1] Q.S. [95] At-Tin: 4.

[2] Sehingga para malaikat pun diperintahkan oleh Allah s.w.t. untuk “sujud” (yakni tunduk dan hormat) kepada Adam a.s. Baca Q.S. [2] Al-Baqarah: 34.

[3] Q.S. [7] Al-A’raf: 172.

[4] Q.S. [31] Luqman: 13.

[5] Baca juga Q.S. [4] An-Nisa’: 116; juga Q.S. [5] Al-Ma’idah: 72.

[6] H.R. Muslim.

[7] Yang dimaksud perbuatan keji (fahisyah) ialah dosa besar yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba. Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana mudharatnya hanya menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil.

[8] Maksudnya ialah: 1. orang yang berbuat maksiat dengan tidak mengetahui bahwa perbuatan itu adalah maksiat kecuali jika dipikirkan lebih dahulu; 2. orang yang durhaka kepada Allah, baik dengan sengaja atau tidak; 3. orang yang melakukan kejahatan karena kurang kesadaran lantaran sangat marah atau karena dorongan hawa nafsu.

[9] Baca Q.S. [4] An-Nisa’: 17-18.

[10] Baca Diktat Tauhid Kelas IV TMI Darunnajah, 1995, Bab Pengaruh Maksiat Terhadap Iman.

[11] Ibid, Bab Hukum Pelaku Dosa Besar.

[12] Baca Riyadhus Shalihin, Kitab Syu’ab al-Iman, Bab Taubat.

Pendaftaran Santri Baru