Sejauh manapun pengembaraan, ia pasti bermula dari langkah pertama. Seluas apapun lautan, ia terhasil dari titisan-titisan air. Semegah dan setinggi apapun sebuah gunung, ia pasti tertegak dari batuan-batuan kecil. Demikian juga, sebagus apapun buku, ia pasti tersusun dari salinan kata-kata. Sebuah jalinan kata. Terdiri dari rangkaian huruf. Dan sebuah huruf adalah rangkaian titik.
Begitu pula dengan hidup ini. Kita dilahirkan dari setetes mani yang kemudian berubah menjadi mahluk yang sempurna di antara mahluk-Nya yang lainnya. Kita diciptakan bukan karena kebetulan. Namun kita diciptakan sebab kita kuat dan mampu karena kita adalah pemenang. Setiap manusia yang dilahirkan di dunia ini mempunyai garis kehidupan masing-masing. Semua sama, tiada yang berbeda. Kalaupun ada yang berbeda itu adalah karena usahanya yang mampu mengubah takdirnya tanpa menunggu hasil akhir yang belum tentu memuaskan.
”Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa malaikat yang mencatat amalan-amalannya. Dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut malaikat Hafazhah. Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka” (Ar-Ra’d: 11)
Wahai jiwa-jiwa yang dirundung kesedihan, kegundahan, dan keresahan karena ujian, sakit atau keletihan akan hidup ini, janganlah gentar! Walaupun semuanya seakan-akan menghentikan nafas kehidupan, sabarlah! Ambillah secara positif semua masalah lalu yakinlah bahwa kesedihan, kegundahan dan keresahan di dunia merupakan kegembiraan di akhirat kelak!
Jika perkara semakin sempit, maka solusinya akan semakin luas. Jika tali semakin dikencangkan, maka akan terputus. Dan jika kegelapan semakin pekat, maka fajar akan tampak dan memancarkan cahaya. Ketetapan yang berlaku, hikmah yang telah ditetapkan, maka hendaknya dihadapi dengan jiwa yang ridha. Setelah dahaga akan ada air yang membawa keteduhan. Begitu pula dengan kegersangan, pasti akan disusul herimis dan hujan. (red/santri)





