Tibbunnabawi, Dulu dan Kini

blank

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Hidup sehat itu perlu. Jika terdapat salah satu organ tubuh yang sakit, maka akan berpengaruh pada yang lainnya. Sakit, juga akan menghambat aktivitas. Untuk itulah, perlu kiranya setiap orang menjaga kesehatannya. Juga untuk menambah wawasan soal kesehatan itulah, Darunnajah Cipining mengadakan acara seminar Pengobatan Tibbunnabawi yang bertempatkan di gedung sekretariat, Selasa (22/02/11).

Seminar ini dibawakan oleh Ustadz Deni Rusman dan Ustadzah Nani Karmila. Keduanya adalah santri terapis yang pernah mendapatkan pendidikan tentang pengobatan tibbunnabawi di BRC Bandung pada akhir tahun 2010 hingga awal 2011 lalu. Kali ini, seminar diperuntukkan bagi santriwati  kelas XI, XII MA dan SMK.

“Tibbunnabawi ini merupakan pengobatan secara alami yang biasa dipakai untuk penyembuhan berbagai macam penyakit dan pengobatan ini sudah dipraktekkan pada masa Rasulullah saw, para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in. Kenapa kita dianjurkan untuk menggunakan pengobatan ini? Karna seperti yang kita ketahui, obat yang biasa kita konsumsi merupakan campuran-campuran bahan  yang mengandung unsur kimia yang bisa merugikan organ tubuh” ujar Bu Mila, nama akrab Ustadzah Nani Karmila.

Lebih lanjut Bu Mila mengatakan bahwa menurut penelitian pengobatan tibbunnabawi adalah pengobatan herbal yang natural sehingga aman dikonsumsi. Pengobatan ini juga tidak bercampur dengan barang haram, syirik, khufarat atau bid’ah. Pada dasarnya tubuh manusia adalah alami, dan seharusnya diisi dengan sesuatu yang alami juga. Tubuh manusia sejak lahir mempunyai kesucian yang seharusnya tidak dirusak dengan berbagai macam zat-zat kimia yang merugikan.

Adapun prinsip-prinsip pengobatan tibbunnabawi ini antara lain:

1. Kepercayaan

2. Sugesti

3. Kontinuitas

Maksudnya, dari prinsip kepercayaan, pasien harus percaya bahwa segala kesembuhan itu berada pada Ridho Allah swt bukan obat ataupun dokter, karna mereka itu hanya perantara semata. Dan prinsip sugesti, pasien harus punya keyakinan bahwa setelah melakukan pengobatan tersebut, penyakit yang sedang diderita akan hilang. Untuk prinsip kontinuitas, harus berusaha dan berikhtiar untuk mendapatkan penyembuhan yang maksimal.

Contoh dalam pengobatan ini adalah Bekam (Hijamah). Bekam merupakan pengobatan yang biasa dilakukan oleh Nabi saw, karena sudah menjadi kebiasaan dan ketetapan Nabi saw, maka menjadi ibadah bagi kita yang mengamalkannya. Begitu pula dengan mengkonsumsi madu, karena madu dapat menyembuhkan dan mencegah dari berbagai macam penyakit.

Setelah berbagai macam materi disampaikan, peserta yang berjumlah + 100 santri itupun diberi beberapa tayangan menarik tentang  bahaya merokok. Dari tayangan tersebut, peserta menyimpulkan bahwa merokok dapat merusak seluruh organ tubuh terutama pada jantung dan paru-paru. Di akhir presentasi, nara sumber memberikan beberapa pertanyaan, bagi yang mampu menjawab mendapatkan reward yang menarik berupa Poster Anti Narkoba.

“Acara ini sangat banyak manfaatnya untuk kami semua terutama saya sendiri yang sebentar lagi meninggalkan pondok tercinta Darunnajah Cipining. Ilmu seperti ini sangat diperlukan di luar nanti” ujar Halimah Siregar santriwati dari kelas XII MA.

Alhamdulillah acara pun berjalan dengan lancar, dan terlihat kegembiraan yang terpancar dari wajah para peserta. Semoga ilmu pengetahuan kita tentang kesehatan karna kesehatan itu tiada tandingannya. (WARNA/ Putri khoirunnisa & Kurniati Muharom A).

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 Serang Banten

Detik-detik melepas K.H. Saifuddin Arief

KH. Saifuddin Arief, SH.MHKH. Saifuddin Arief, SH.MHKH. Saifuddin Arief, SH.MHKH. Saifuddin Arief Memotivasi Santri Untuk BerprestasiDokumentasi Pemakaman K.H. Saifuddin Arief, S.H., M.HKalimat Takziah K.H. Nasir