Khalid bin Walid bin Al- Mughirah Al Qurasyi bergelar Saifullah Al Maslul (pedang Allah swt yang terhunus). Ia memeluk Islam sebelum penaklukkan kota Mekah. Hijrah ke Madinah dan ikut serta dalam peperangan menyebarkan Agama Islam bersama Rasulullah saw sejak terbukanya kota Mekah hingga zaman Kekhalifahan ‘Umar bin Khatab.
Ia tidak pernah sekali pun lari dari peperangan. Rasulullah saw pun menggelarinya dengan sebutan “Pedang Allah” ketika pulang dari peperangan Mut’ah dengan selamat.
Khalid bin Walid ikut serta dan memimpin peperangan Ar-Riddah (kaum yang Murtad). Menghukum Musailamah Al Kadzdzab, orang yang mengaku sebagai Nabi di Yamamah setelah peperangan Syirsyah. Ia pun menjadi pemimpin kaum muslim saat berperang melawan tentara Persia, lalu memimpin peperangan Yarmuk melawan Romawi dan menang atas mereka. Ketika Khalifah Abu Bakar Shiddiq mengirimnya ke Romawi, ia berkata, “Khalid untuknya, demi Allah Romawi pastilah akan melupakan segala gangguan Setan dengan Khalid bin Walid.” Itulah yang terjadi, dan menang atas Romawi di ‘Abqariah Al Askariah Al Fazzah dengan iman dan keberanian tentara Muslim.
Ketika dekat tiba hari wafatnya ia menangis, dan berkata, “Saya telah temui ini dan ini dalam langkah peperangan. Tidak ada dari bagian tubuh Saya kecuali padanya bekas pukulan pedang atau lemparan anak panah, atau tusukan tombak, tetapi inilah Saya sekarang, yang sial sebentar lagi mati di atas kasur sebagaimana matinya unta, maka bagaimana mata yang lelah akan tertidur?.”

Allah meridhainya dan menjadikannya ridha.

Khalid bin Walid mengikuti banyak peperangan semenjak Rasulullah saw hidup. Begitu pula pada zaman Abu Bakar Shiddiq, ‘Umar bin Khathab, dan sekali pun tak pernah kalah. Ia selalu rakus dalam setiap peperangan mencari kematian dan predikat syahid, kecuali bahwa Ia mendapati dirinya saat ajal mendekat padanya justru terbaring di atas kasur. Karena itulah ia menangis dikarenakan takutnya kepada Allah swt, padahal Ia selalu berangan-angan untuk dapat mati di jalan-Nya.

Bekal hidup seorang Muslim pada kehidupan dunianya tidak lebih dari pada layaknya bekal hidup seorang Musafir.

(WARDAN/Rabiah Adawiyah)