Shalat Sunnah Tarawih Dan Pelaksanaannya
Menu

Shalat Sunnah Tarawih Dan Pelaksanaannya

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan berikut ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema Shalat Sunnah Tarawih Dan Pelaksanaannya

Alhamdulillah, anak-anak sekalian, sampailah kita kepada sepuluh hari yang kedua. Kita sekarang pada hari yang ke-15. Nanti malam berarti tanggal berapa? Tanggal 16. Dalam pelajaran selama ini ada apa pada tanggal 16? Kita setiap malam melakukan shalat tarawih. Setelah shalat tarawih kita juga melakukan shalat witir. Shalat witir itu kalau sudah setengah bulan, setengah bulan berikutnya harus ada qunut. Nanti malam berarti sudah harus ada qunutnya. Inilah ilmu kita. Saya takut di mushalla-mushalla, di masjid-masjid, di kampung-kampung tidak ada yang mengingatkan. Karena tidak tahu ilmunya, shalat witirnya jangan-jangan pada malam 16 tidak pakai qunut. Witir yang dilakukan pada malam tanggal 16 harus pakai qunut.

Anak-anak sekalian, kita sudah mempelajari shalat tarawih sejak zaman Umar bin Khatthab ra. Berapa rakaat yang dilakukan Umar? 20 rakaat ditambah shalat Witir 3 rakaat sehingga jumlahnya menjadi 23 rakaat. Sebelumnya shalat Tarawih itu tidak dalam bentuk jamaah. Ketika zaman Umar bin Khatthab saja menjadi berjamaah. Maka kemudian dipertanyakan bolehkah shalat Tarawih dengan berjamaah? Tentu saja hukumnya boleh. Jamaah itu pahalanya lebih besar atau sama saja dengan tidak jamaah? Jamaah itu pahalanya lebih besar.

صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة

“Shalat jama’ah itu pahalanya lebih besar daripada shalat sendiri-sendiri dengan Allah berikan 27 derajat.”

Jadi shalat tarawih dengan berjama’ah itu lebih afdhal karena mendapatkan pahala jama’ah. Kalau shalat sendiri, hanya mendapatkan pahala shalat Tarawih saja. Kalau kita shalat Tarawih jama’ah, Tarawih yang dilaksanakan dengan jama’ah lebih lebih afdhal daripada shalat Tarawih yang dilakukan sendirian. Ketika zaman Umar bin Khathab itu dimulailah shalat Tarawih dengan jama’ah besar dan yang ditunjuk menjadi imam adalah Ubay bin Ka’ab. Karena suaranya merdu, ia dipilih oleh yang lain menjadi imam. Jama’ah wanita juga ada imamnya, tetapi imamnya lelaki, yaitu sulaiman. Shalat Tarawih dengan berjama’ah ini berlangsung sejak zaman Umar bin Khatthab dan dilanjutkan pada masa khalifah-khalifah setelahnya, yaitu 23 rakaat. Pada masa berikutnya juga ada yang melakukannya tidak 20 rakaat, tetapi 36 rakaat. Dan ditambah lagi 3 rakaat menjadi berapa rakaat? 39 rakaat. Mungkin kalau di masjid ini, anak-anak sudah tidak kuat, apalagi imamnya membaca sampai 200 ayat. Jadi memang berat. Tetapi orang-orang yang imannya kuat, Tarawih seperti itu nikmat-nikmat saja. Orang yang imannya lemah, jangankan samapi 36 rakaat, kita shalat Tarawih 20 rakaat saja, kita masih berusaha untuk ngebut. Kalau ada shalat Tarawih hanya 1 rakaat saja, pasti akan shalat 1 rakaat saja. Ini yang dilakukan oleh orang-orang zaman sekarang. Tapi pada zaman dahulu sekalipun sampai 36 rakaat + 3 rakaat, yaitu 39 rakaat, masih kuat. Bahkan dikatakan ada juga yang mengadakan shalat Tarawih 40 rakaat ditambah 7 rakaat shalat Witir menjadi 47 rakaat. Jumlah raksasa-raksasa seperti ini dilakukan oleh orang-orang yang memang imannya sudah kuat. Kita mengakui bahwa iman kita memang masih lemah, maka 20 rakaat itu adalah jumlah yang sedang jika dibandingkan dengan yang 39 rakaat atau 47 rakaat.

Anak-anak sekalian, sedangkan pada zaman Rasulullah Saw. boleh dibilang bahwa Rasulullah Saw. melakukan shalat Tarawih di masjid itu hanya 2 kali. Rasulullah Saw. setiap malam mengerjakan shalat, tapi dilakukan di rumah. Saat Rasulullah Saw. melakukan shalat di masjid, orang-orang yang berada di masjid nimbrung, mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw., karena mereka mengetahui betul bahwa apa saja yang dilakukan oleh Rasulullah adalah contoh yang baik yang harus diikuti. Apa saja yang dilakukan oleh Rasulullah diikuti oleh para sahabat karena itu adalah contoh dari Allah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Pada saat itu Rasulullah Saw. melakukan shalat 8 rakaat kemudian ditambah 3 rakaat shalat witir menjadi 11 rakaat. Pada malam kedua semakin banyak orang yang mengikuti. Kemudian pada malam ketiga Rasulullah sengaja tidak datang ke masjid. Pada pagi harinya ketika Rasulullah bertemu dengan orang-orang, orang-orang bertanya, “Kenapa Rasulullah tidak ke masjid? Apakah Rasulullah sakit atau apa?” Tetapi Rasulullah Saw. menjawab, “Saya takut kalau shalat Tarawih ini menjadi wajib bagi kamu, maka saya sengaja tidak datang ke masjid.” Jadi hanya 2 kali saja Rasulullah Saw. melakukan shalat Tarawih. Ini yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Setelah Rasulullah meninggal, Abu Bakar masih melakukan shalat Tarawih biasa saja seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Saw., yaitu di rumah karena melakukan shalat malam memang sudah menjadi kebiasaan bagi mereka. Sebab Rasulullah Saw. bersabda,

أفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل

“Shalat malam itu adalah shalat yang paling utama setelah shalat fardhu.”

Shalat yang paling utama setelah kita melakukan shalat fardhu adalah shalat yang dilakukan pada waktu malam hari. Ini yang dilakukan oleh Abu Bakar seperti halnya yang dilakukan oleh Rasulullah; lebih banyak melakukan ibadah malam di rumah. Ketika Abu Bakar meninggal, kepemimpiman dipegang oleh Umar bin Khattab. Suatu malam Umar bin Khattab pergi ke masjid. Beliau melihat banyak orang sedang melaksanakan shalat. Ada orang yang diikuti oleh dua orang. Ada yang diikuti oleh tiga orang di masjid yang luas itu. Umar bin Khattab pun mengajak mereka, “Alangkah baiknya kalau imamnya satu saja. Sepertinya tidak kondusif kalau seperti ini.” Jama’ah di sini sudah selesai membaca surat al-Fatihah, di sana baru mengucapkan takbir, yang di sana lagi sudah selesai. Kelihatannya tidak kondusif. Umar mempunyai ide-ide yang cemerlang, “Wah, ini kalau dikumpulkan baik sekali daripada seperti ini,” Akhirnya setelah kumpul ditentukan imamnya. Maka ditunjuklah Ubay bin Ka’ab ra.

Saya kira masalah shalat Tarawih ini sudah jelas semuanya bagi anak-anak. Kalau anak-anak mau melakukan shalat Tarawih hanya 8 rakaat ditambah shalat Witir 3 rakaat, boleh-boleh saja, silakan saja, karena Rasulullah Saw. ketika melakukan shalat Tarawih di masjid yang hanya dua kali itu juga seperti itu. Tapi kalau kita mengikuti yang dilakukan oleh Umar bin Khatthab dan Khulafaur Rasyidin lainnya setelah itu hingga saat ini di masjid-masjid besar dunia, minimal 20 rakaat ditambah 3 rakaat. Biasanya di Masjidil Haram kalau sudah tanggal 15 seperti ini, jumlah rakaat shalat Witirnya bukan hanya 3, tapi 11 rakaat, sehingga menjadi 20 rakaat ditambah 11 rakaat. Cukup lama juga. Bacaannya juga cukup lama; masing-masing satu juz, shalat Witirnya satu juz, shalat Tarawihnya satu juz. Jarang ada anak-anak kecil yang bertahan sampai akhir. Ini yang terjadi di Makkah.

Tulisan ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema Shalat Sunnah Tarawih Dan Pelaksanaannya

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren An-Nur Darunnajah 8 Cidokom Bogor

Pengumuman Kenaikan Kelas Annur Darunnajah 8 Cidokom TA 2019-2020

PENGUMUMAN KENAIKAN KELAS TAHUN PELAJARAN 2019/2020 BISMILLAHRRAHMANIRRAHIM SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR TMI ANNUR DARUNNAJAH 8 CIDOKOM Nomor: 74/TMI-DN8/V/2020 HASIL UJIAN AKUMULATIF SELAMA TAHUN PELAJARAN 2019/2020 PONDOK PESANTREN