Selektif Itu Wajib, Paranoid Jangan: Membedakan Mana ‘Pendidikan Karakter’ dan Mana ‘Eksploitasi’ di Pesantren

Selektif Itu Wajib, Paranoid Jangan: Membedakan Mana ‘Pendidikan Karakter’ dan Mana ‘Eksploitasi’ di Pesantren

Belakangan ini, linimasa media sosial sering diramaikan oleh berita kurang sedap dari dunia pesantren. Mulai dari kasus perundungan (bullying) hingga isu miring soal santri yang dipekerjakan layaknya kuli bangunan. Tak heran jika banyak orang tua kini dihinggapi trust issue; khawatir niat hati memondokkan anak untuk belajar agama, malah berakhir menjadi korban kekerasan atau eksploitasi.

Kewaspadaan itu wajar dan harus. Namun, jangan sampai ketakutan berlebih (paranoid) membuat kita menutup mata bahwa masih banyak pesantren kredibel yang memegang teguh amanah pendidikan.

Kuncinya adalah memahami sistemnya. Di pesantren modern yang terakreditasi dan memiliki manajemen jelas—seperti model Pesantren Darunnajah dan cabang-cabangnya—segala aktivitas santri didasarkan pada kurikulum pendidikan, bukan kebutuhan tenaga kerja gratisan.

Agar orang tua lebih tenang, berikut adalah ceklis untuk membedakan mana pesantren yang mendidik mental, dan mana yang berpotensi menyimpang:

1. Pahami Konsep ‘Panca Jiwa’: Kebebasan yang Bertanggung Jawab

Pesantren yang sehat tidak mencetak santri yang “membeo” atau tunduk buta. Justru, pesantren modern menanamkan Panca Jiwa Pondok, di mana salah satu nilainya adalah Kebebasan.

Kebebasan di sini berarti santri dididik untuk berpikir kritis, memilih minat bakatnya sendiri, dan berani berpendapat. Santri bukan robot yang dikendalikan Kyai, melainkan individu yang sedang dilatih untuk menjadi pemimpin masa depan. Jika sebuah pesantren melarang santrinya berpikir atau bertanya kritis, itu adalah “lampu merah” pertama.

2. Bedakan ‘Kemandirian’ dengan ‘Perbudakan’

Ini adalah garis tipis yang sering disalahpahami. Di pesantren, santri memang diwajibkan bekerja, tapi konteksnya adalah pendidikan kemandirian, bukan perbudakan ekonomi.

Contoh sederhananya: santri wajib membersihkan kamar, menyapu halaman asrama, atau mencuci piring makannya sendiri. Apakah ini eksploitasi? Tentu bukan. Ini adalah latihan tanggung jawab (disiplin diri) agar kelak mereka tidak menjadi pribadi yang manja.

Lantas, bagaimana dengan isu pembangunan gedung? Di pesantren yang benar, santri tidak dijadikan tukang bangunan utama. Keterlibatan mereka hanya sebatas edukasi amal jariyah dan membangun rasa memiliki (sense of belonging). Misalnya, kegiatan estafet mengoper pasir secara massal yang dilakukan dengan riang gembira selama satu jam di pagi hari. Tujuannya agar santri merasa, “Ini pondokku, aku ikut membangunnya,”bukan untuk menghemat biaya tukang.

3. Tidak Ada Kultur ‘Melayani Pribadi’ Kyai

Di lembaga pendidikan yang profesional, batas antara Kyai (Guru) dan Santri (Murid) adalah batas ta’dzim(penghormatan) karena ilmu, bukan penghambaan.

Waspadalah jika menemukan pesantren di mana santrinya diwajibkan melakukan pekerjaan domestik pribadi pimpinan pondok yang berlebihan, seperti memijat berjam-jam setiap malam, mencuci baju pribadi keluarga pengasuh, atau mengurus ladang pribadi tanpa nilai edukasi. Pesantren modern menghapus feodalisme seperti ini. Hormat kepada guru ditunjukkan dengan belajar sungguh-sungguh dan berakhlak mulia, bukan menjadi pelayan pribadi.

4. SOP Anti-Bullying yang Tegas dan Transparan

“Namanya juga anak laki-laki, berantem itu biasa.” Kalimat ini haram diucapkan di era sekarang.

Pesantren yang aman memiliki aturan tertulis yang kaku soal kekerasan. Tidak ada toleransi (zero tolerance) untuk perundungan fisik maupun verbal. Di Darunnajah misalnya, hukumannya sangat jelas: santri yang terbukti melakukan kekerasan atau bullying akan langsung dikembalikan kepada orang tua (dikeluarkan).

Orang tua berhak bertanya di awal pendaftaran: “Apa sanksi jika anak saya dipukul temannya?” Jika jawabannya tegas “Dikeluarkan”, maka pesantren tersebut serius menjaga keamanan santrinya.

5. Keamanan Fisik dan Transparansi Komunikasi

Terakhir, pastikan pesantren memiliki pagar fisik yang aman dan pengawasan 24 jam oleh ustaz/pembimbing yang tinggal sewisma dengan santri. Selain itu, pesantren yang baik tidak akan menutup akses komunikasi total. Meskipun gawai dilarang bagi santri, jalur komunikasi antara pihak pengasuhan dan wali santri harus selalu terbuka.

Memilih pesantren ibarat memilih tanah untuk menanam benih. Pilihlah tanah yang subur, yang sistem pengairannya jelas, dan pagarnya kokoh. Pesantren dengan sistem manajemen modern, sanad keilmuan yang jelas, dan penegakan disiplin yang manusiawi adalah tempat terbaik untuk menempa mental anak menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, namun tetap bahagia.

 

Pendaftaran Santri Baru