Menu

Sekilas Perjuangan KH. Abdul Manaf Muhayyar Mendirikan Pesantren Darunnajah

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema “Sekilas Perjuangan KH. Abdul Manaf Muhayyar Mendirikan Pesantren Darunnajah”

KH. Abdul Manaf Muhayyar adalah pendiri serta pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah. Beliau adalah yang mewakafkan Pesantren Darunnajah.

KH. Abdul Manaf Muhayyar dilahirkan di Jakarta. Pada saat kecil beliau sekolah di Jam’iyatul Khair, Tanah Abang. Beliau pergi sekolah dengan berjalan kaki. Belum ada ojek, dokar, delman, atau becak. Untuk membiayai sekolahnya kalau pagi beliau mencari daun kemudian dijual untuk biaya sekolah. Sangat-sangat prihatin. Tetapi beliau tekun belajar di Jam’iyatul Khair.

Sekalipun beliau tidak pernah sekolah Tsanawiyah ataupun Aliyah, tapi ilmu beliau mengungguli mereka yang sekolah Aliyah, bahkan mungkin perguruan tinggi. Beliau mampu berbahasa Arab dengan fasih. Beliau juga mampu memahami kitab-kitab gundul, kitab-kitab berbahasa Arab yang tidak ada harakatnya, mampu mempelajarinya dan membacanya.

Setelah selesai dari belajarnya, beliau menikah. Kebetulan istrinya juga siswi Jam’iyatul Khair sehingga komunikasi dengan istri tidak ada kesulitan.

Hidup rumah tangga diawali dengan berjualan minuman ringan di tepi jalan. Beliau juga mendirikan sekolah di lingkungannya. Beliau bercita-cita ingin membantu orang-orang miskin agar bisa sekolah.

Bahkan beliau berikrar, “Sepertiga dari harta yang aku miliki aku infakkan untuk sabilillah.” Kalau misalnya beliau mempunyai uang 3 juta, 1 juta untuk fi sabilillah. Kalau beliau mempunyai tanah 3 hektar, 1 hektar harus fi sabilillah. Tidak pikir panjang lagi. Ikrar beliau seperti itu. Dengan berikrar seperti itu, ternyata beliau menjadi  orang kaya. Luar biasa. Sekarang tanah Darunnajah jumlahnya sudah ratusan hektar.

Di dalam Islam, kita tahu semuanya dari ayat yang kita baca,

مثل الذين ينفقون أموالهم في سبيل الله كمثل حبة أنبتت سبع سنابل في كل سنبلة مائة حبة والله يضاعف لمن يشاء

Orang-orang yang menafkahkan hartanya fi sabilillah itu seperti orang menanam padi atau tanaman, yang setiap tanaman itu menumbuhkan 7 tangkai, dan setiap tangkai ini menghasilkan seratus. Jadi luar biasa. Ini sudah terbukti.

Orang yang suka berderma akan terus menerus dikasih rizkinya. Teladan yang dilakukan oleh pendiri pesantren ini, bapak KH. Abdul Manaf Muhayyar ini perlu ditiru. Kita belum bisa menandingi apa yang dilakukan oleh beliau. Ini yang perlu anak-anak jadikan pelajaran. Saya setuju kalau masing-masing anak berikrar. Mau seperempat, mau seperlima, mau sepersepuluh, mau seperseratus, silahkan saja. “Saya ikrar. Demi Allah, kalau saya punya harta seperempatnya saya infakkan fi sabilillah.” Semakin banyak kita memberi, maka akan semakin banyak pula kita mendapatkan apa yang kita tanam.

Selanjutnya, ternyata sekolah yang beliau dirikan tadi digusur oleh pemerintah. Karena lokasi itu akan dijadikan gedung olah raga, yaitu Senayan dan gedung DPR. Gusuran itu mendapatkan ganti, sehingga bisa digunakan untuk membeli tanah di luar Jakarta, di daerah Tangerang, yaitu di Ulujami. Ulujami dulu masih belum Jakarta, masih Tangerang. Daerah itu masih jauh dari jalan, sulit untuk dikunjungi, karena tidak ada kendaraan yang menuju ke tempat itu sehingga gusuran tanah di sana bisa mendapatkan tanah lima hektar di Ulujami. Dari lima hektar itu empat hektar beliau wakafkan untuk pesantren, satu hektar untuk keluarganya.

Yang empat hektar ini kemudian didirikan pesantren. Pesantren ini berkembang sedemikian rupa. Pada tahun 1961 pesantren tersebut dibuka. Tapi, 1961 belum banyak murid, masih sedikit. Pada tahun 1974 dibuka lagi pesantren. Murid pertama hanya tiga orang. Tapi hebatnya tahun kedua naik seratus persen, dari 3 orang menjadi 6 orang. Pada tahun 1985 peminatnya begitu meluap sehingga hikmahnya pada tahun 1986 tanah di Cipining ini dibebaskan. Tahun 1987 dibangun pesantren ini. Dan pada tahun 1988 pesantren ini dibuka.

Tulisan ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema “Sekilas Perjuangan KH. Abdul Manaf Muhayyar Mendirikan Pesantren Darunnajah”

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait