SANTRI DEBAT BERBAHASA ARAB

SANTRI DEBAT BERBAHASA ARAB

Staf penggerak bahasa (STARAKSA) santri tahfizhul Qur’an mencoba menciptakan sebuah kegiatan yang baru. Kegiatan ini sengaja diselenggarakan tentunya masih berhubungan dengan peningkatan bahasa di pesantren Darunnajah Cipining. Dengan mengembangkan kegiatan conversation yang biasa dilakukan setelah takrir (mengulang hafalan) , STARAKSA membuat inovasi baru agar kemauan berbahasa santri tetap terjaga. Maka, acara debat  dengan bahasa arab yang bertemakan jihad di jalan Allah cukup membuat para santri tahfdz harus benar-benar mempersiapkan dari mutarodifat (perbendaharaan kata) dan dalil-dalil yang kuat agar dapat mengalahkan lawan. Kemudian yang paling penting, kemampuan menyampaikan dengan bahasa arab secara lancar dan cepat juga menjadi perhatian untuk kegiatan semodel ini.

Sabtu (5/9/09),  pukul 17.15 WIB seluruh santri tahfizh berkumpul di muka asrama untuk menyaksikan lomba debat. Adapu 2 kelompok yang bertanding adalah Ahmad Fahmi Kamil, Fajar Kurniawan,dan Fateh Abdul Azis sebagai kelompak A melawan kelompok B  oleh Aulia Tri Syamsul Alam, Mulla Sadra, dan Syaikhul Islam.

Dengan moderator Chairul Rahmat dan Andi Rahman, debat dimulai dari penjelasan tugas bagi kedua belah pihak yang pro dan kontra. Permainan telah disetting dengan kelompok A diposisikan sebagai pro, mereka harus berusaha mempertahankan posisinya bahwa jihad fii sabiilillah harus dilakukan dengan cara berperang. Karena hanya dengan cara itulah Islam akan menang dari kekuasaan kaum Musyrikin.

Di lain pihak, yaitu kelompk B, moderator menerangkan pemahaman bahwa Jihad Fii Sabiilillah bukanlah dengan cara berperang melainkan dengan cara ilmu pengetahuan.  Maka, Islam dikembangkan dengan pandai dalam menjalin diplomasi antarnegara. Karena hanya dengan kepiawaian menjalin diplomasi antarnegara itulah, Isalam akan dapat mengalahkan kaum musyrikin dengan mudah, tanpa mengeluarkan tenaga dan dana  yang besar.

Dengan bahasa yang cukup bagus dan kelancaran kelompok A dalam melontarkan kata-kata berbahasa arab, ditambah juga dengan dalil-dalil yang mereka argumenkan, maka merekalah yang dapat menjadi pemenang pada  debat kali ini.

Kemudian Rahmat dan Andi mengakhiri perdebatan dan menjelaskan untuk apa perdebatan ini diadakan. Tentunya dengan lemahnya bahasa santri pada saat ini, kedua MC yang notabene adalah bagian bahasa ingin menyadarkan kepada seluruh santri setahfizhul Qur’an bahkan seluruh santri Darunnajah  Cipining bahwa betapa masih perlunya latihan dalam berbahasa Arab.

”Mari kita tingkatkan bahasa di Pesantren  Darunnajah Cipining ini dengan cara-cara yang baru dan dengan berbagai inovasi-inovasi yang cemerlang. Demi menciptakan kembali bibit-bibit santri mahir berbahasa Arab maupun Inggris” kata Rachmat menutup acara. (Chairul R)

Pendaftaran Santri Baru