Menu

Rasanya Tak Ingin Menang!

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email
Timnas Italia Berpose Bersama
Timnas Italia Berpose Bersama

FIFA World Cup, Minggu (15/6) mempertemukan juara empat kali Italia versus Negeri Ratu Elisabeth, Inggris.

Pertandingan yang digelar pukul 04.45 WIB pagi ini begitu menyedot perhatian masyarakat dunia. Mungkin banyak menjagokan Inggris, mengingat trend positif liga yang bergulir di negara ini seakan tidak pernah lekang dari taburan super stars bola.

Lain halnya, Negeri Pizza yang sedang terpuruk, baik dari kondisi finansial negaranya maupun carut-marut bola yang kian kalah pamor dengan negara-negara benua biru lainnya.

Banyak meragukan Italy bakal menang. Bisa terlihat dari awal pertandingan, mereka selalu peragakan permainan membosankan. Tapi mereka enjoy, sangat rilex, berlari-lari keci, selangkah-dua langkah passing ball, begitu seterusnya.

Beda dengan Steven Gerrad dan kawan-kawan yang senantiasa peragakan bola-bola cepat, lari kencang gaya khas mereka dan sesering kali mengandalkan long pass.

Jenuh meungkin melihatnya, bila mereka tidak suka dengan gaya Italy. Senang mungkin yang dirasakan para fans Inggris.

Itulah permainan, disuka, di sisi lain dibenci. Ada yang menjadi pujaan, demikian ada yang jadi buah cibiran.

Tempo permainan rupanya dikendalikan Pirlo dan kawan-kawan, mereka tetap konsisten dengan pola-pola permainan dari kaki ke kaki, perlambat tempo, hingga mampu mendilai kegarangan pemain-pemain muda Inggris.

Sesekali Italy alancarkan serangan melalui sayap mereka Damian, Verata. Terkadang juga melalui sisi kanan, tengah. Demikian Inggris yang dimotori Roony, Sturradge dan Starling.

Kedua kubu saling memberikan ancaman-ancaman ke gawang masing-masing, baik langsung melalui penyerang maupun second strickernya.

Gaya dan tempo permainan seperti ini terus diperagakan anak asuh Brandeli. Hingga pada menit ke 35’ serangan dari sayap kanan Italy, diumpan terukur kepada Pirlo. Namun dengan cerdiknya, Ia membiarkan bola bergulir ke belakang dan diberikan kepada Marchicio yang kosong.

Benar saja, dengan sigap Marchicio tidak menyia-nyiakan peluang ini. Dengan menggunakan sekuat tenaga bola ditendang begitu keras menghujam ke arah gawang Jo-Hard, dan goolll.

Timnas Inggris
Timnas Inggris

Bola bersarang manis, tanpa bisa dihalau kipper Man. City ini. Berubahlah kedudukan menjadi 1:0 untuk Italy.

Mendapat kado pahit di menit 35, sontak para pemain Inggris tersengat. Mereka memperagakan permainan bola-bola cepat dan langsung menusuk ke jantung pertahanan lawan.

Bola dikirim langsung ke depan dari tengah, dengan sigap stricker Man. United Roony mengambil bola dari sisi kiri lapangan. Dengan kaki kirinya ia arahkan umpan terukur ke tiang dekat gawang.

Rupanya penyerang The Red, Sturradge sudah menunggu. Tanpa basa-basi, melalui tendangan first timenya menghujam deras ke gawang Italy, tanpi halangan berarti.

Akhirnya, menit 37’ British mampu merubah kedudukan, menjadi imbang satu-satu.

Pertndingan makin seru, makin menggairahkan penonton. Para pendukung Italy rupanya begitu gemas. Club kebanggaannya, tetap memperagakan tempo lambat, seakan permainannya tiada darah.

45 menit Babak pertama kedudukan sama kuat 1:1. Namun permainan baru berjalan lima menit, tepatnya menit ke 50’babak ke dua, Si Bengal Ballotelly mampu merubah kedudukan menjadi 2:1.

Ia mendapat umpat matang kawannya, melalui sudut sempit mampu masukkan bola melalu kepalanya, tanpa terhalang defender dan kipper Inggris.

Sepanjang pertandingan kedua team saling memberikan ancaman-ancaman serius. Namun sampai menit 95’ tidak ada gol yang tercipta lagi, hingga mentasbihkan Italia tundukkan Inggris 2:1.

Si Bengal, Marco Balotelli, Yang Dibneci, Yang Dipuja
Si Bengal, Marco Balotelli, Yang Dibenci, Yang Dipuja

Dari ulasan pertandingan, terlihat pertarungan strategi dimenangkan oleh Italia. Italy mempunyai filosofi dan visi permainan lebih matang. Mereka tidak sekedar mengandalkan kecepatan, tetapi taktis dalam bermain.

Filosofi permainan bola inilah mungkin yang mengantarkan mereka juara dunia empat kali, lebih sedikit satu kali bila dibanding Brasil.

Berbeda dengan Inggris misalnya, strategi yang diterapkan masih terbilang monoton, walaupun banyak dihuni talenta-talenta muda.

Selamat kepada Italia, menang terus hingga sampai ke babak final, syukur-syukur bisa menyamakan kedudukan menjadi lima, seperti halnya yang diraih Brasil saat ini.

Hasil akhir pada pertandingnan minggu ini adalah : Colombia vs Yunani (3:0), Uruguay vs Costarika (1:3), Jepang vs Pantai Gading (1:2).

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Informasi Perubahan Kalender Pendidikan Tahun 2019-2020 Kelas 3 TMI Darunnajah Jakarta

Perihal  : Informasi Perubahan Kalender Pendidikan  Tahun 2019/2020                                  31 Maret 2020                                                                 Yang terhormat, Bapak/Ibu Orang Tua Santri Kelas III