Pengertian Minat

blank

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Minat merupakan salah satu faktor yang sangat berperan dalam kegiatan proses belajar mengajar. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu diluar diri. Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal dari pada hal yang lainnya, dapat pula di manifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Siswa yang memiliki minat terhadap subyek tertentu. Untuk mengetahui lebih jauh tentang minat akan dikemukakan beberapa pengertian menurut bahasa dan para ahli.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, minat adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.
•Abdul Rahman Shaleh mendefinisikan secara sederhana, minat dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan untuk memberikan perhatian dan bertindak terhadap orang, aktivitas atau situasi yang menjadi objek dari minat tersebut dengan disertai perasaan senang

•Menurut Dr. Zakiah Dradjat, dkk “minat adalah kecenderungan jiwa yang tetap kejurusan suatu hal yang berharga bagi orang. Sesuatu yang berharga bagi seseorang adalah sesuai dengan kebutuhan

•Menurut Decroly, minat itu adalah pernyataan suatu kebetulan yang tidak terpenuhi. Kebutuhan itu timbul dari dorongan hendak memberi kepuasan kepada suatu instink. Minat anak terhadap benda-benda tertentu dapat timbul dari berbagai sumber antara lain perkembangan instink dan hasrat, fungsi-fungsi intelektual, pengaruh lingkungan, pengalaman, kebiasaan, pendidikan dan sebagainya.

•Menurut Whitherington, minat adalah kesadaran seseorang, bahwa suatu subyek, seseorang, suatu soal atau suatu situasi mengandung sangkut paut dengan dirinya. Minat, menurut Slameto (1991 : 182), adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu dari luar diri. Semakin kuat atau dekat dengan hubungan tersebut, semakin besar minat.

•Drs. H.Abu Ahmadi, berpendapat minat adalah sikap jiwa orang seorang termasuk emosi, yang tertuju pada sesuatu, dan dalam hubungan itu unsur perasaan yang terkuat. Muhibbin Syah, M,Ed. Berpendapat secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegiatan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.

•Ovide Dekroly mengatakan bahwa minat adalah semacam pernyataan terhadap suatu kebutuhan yang tidak terpenuhi, kebutuhan itu timbul dari dorongan hendak memberi kepuasan suatu insting.

•Muhibbin Syah menurutnya minat adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.

•Ahmad D. Marimba mengatakan bahwa minat adalah kecenderungan jiwa kearah sesuatu karena sesuatu itu mempunyai arti bagi kita.

•Menurut Crow and Crow sebagaimana dikutip oleh Abd. Rahman Abror dalam bukunya Psikologi Pendidikan bahwa minat atau interest bisa berhubungan dengan daya gerak yang mendorong kita cenderung atau merasa tertarik pada orang, benda, atau kegiatan itu sendiri

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa minat adalah suatu proses kejiwaan yang bersifat abstrak yang dinyatakan oleh seluruh keadaan aktivitas, ada objek yang dianggap bernilai sehingga diketahui dan dinginkan. Sehingga proses jiwa menimbulkan kecenderungan perasaan terhadap sesuatu, gairah atau keinginan terhadap sesuatu. Bisa dikatakan pula bahwa minat menimbulkan keinginan yang kuat terhadap sesuatu. Keinginan ini disebabkan adanya rasa dorongan untuk meraihnya, sesuatu itu bisa berupa benda, kegiatan, dan sebagainya baik itu yang membahagiakan ataupun menakutkan.

Minat juga tergantung kepada penilaian dan perasaan seseorang terhadap sesuatu. Jika sesuatu itu mendapat perhatian yang banyak dan melahirkan perasaan senang maka seseorang akan selalu tertarik terhadap objek yang diminati. Sehingga minat juga diartikan sebagai kesediaan jiwa seseorang yang sifatnya aktif menerima sesuatu yang datang dari luar.

Dalam kehidupan ini kita akan selalu berkomunikasi atau berhubungan dengan orang lain, benda, situasi dan aktivitas yang terdapat disekitar kita. Dalam berhubungan tersebut kita mungkin bersikap menerima, memberikan atau menolaknya. Apa bila menaruh minat, itu berarti kita menyambut atau bersikap positif dalam berhubungan dengan objek atau lingkungan tersebut dengan demikian maka akan cenderung untuk memberikan perhatian dan melakukan tindakan lebih lanjut.
Sebagaimana dengan minat juga merupakan sesuatu yang harus diteruskan pada hal-hal kongkrit. Karena sebenarnya minat masih merupakan hal yang abstrak. Upaya kita dalam membedakan minat inilah yang dituntut dalam Islam. Jika kita memiliki minat yang besar terhadap sesuatu namun tidak melakukan upaya untuk meraih, mendapatkan atau memilikinya maka niat itu tidak ada gunanya.

Sesuatu hal yang naif jika seseorang memiliki minat pada suatu namun tidak meresponnya dengan tindakan nyata. Karena pada dasarnya jika kita menaruh minat pada sesuatu, maka berarti kita menyambut baik dan bersikap positif dalam berhubungan dengan objek atau lingkungan tersebut. Misalnya, seseorang yang berminat menguasai Bahasa Indonesia maka dia akan melakukan upaya untuk dapat mengetahui, memahami bahkan untuk berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia.

Dalam Al-Qur’an pemberian tentang hal ini terdapat pada surat pertama turun. Pada ayat pertama dari surat pertama turun perintah-Nya adalah agar kita membaca. Membaca yang dimaksud bukan hanya membaca buku atau dalam artian tekstual, akan tetapi juga semua aspek. Apakah itu tuntutan untuk membaca cakrawala diri, sehingga dengan kita dapat memahami apa yang sebenarnya hal yang menarik minat kita dalam kehidupan ini. Sebagaimana firman Allah swt dalam surat Al-Alaq ayat 3-5.

“Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Pemurah! Yang mengajarkan dengan kalam. Mengajarkan manusia apa yang ia tahu.9

Jadi, betapapun minat merupakan karunia terbesar yang dianugerahkan Allah swt, kepada kita. Namun, bukan berarti kita hanya berpangku tangan dan minat itu berkembang dengan sendirinya. Tetapi, upaya kita adalah mengembangkan sayap anugerah Allah itu kepada kemampuan maksimal kita sehingga karunia-Nya dapat berguna dengan baik pada diri kita dan kepada orang lain serta lingkungan dimana kita berada.

_______________________
Daftar Pustaka
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka. Jakarta ; 1988
Abdul Rahman Shaleh dan Mahlib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam, Kencana, Jakarta : , 2004
Zakiah Drajat, DKK, Metode Khusus Pengajaran Agama Islam, Bumi Aksara, Jakarta :, 1995
Syaiful Bahri Djamah, Psikologi Belajar, Rineka Cipta, Jakarta :, 2002
H.Abu Ahamdi, Psikologi Umum, : Rineka Cipta, Jakarta, 2003
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, Rajawali Pers, Jakarta :, 2003
Abdul Rahman Shaleh dan Mabib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam, Kencana, Jakarta : , 2004
Abdurrahman Shalih, Didaktik Pendidikan Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976)
H.C. Witherington, Psikologi Pendidikan, alih bahasa M. Buchari, (Jakarta: Aksara Baru, 1997)
Muhibbin Syah, Psikiologi Pendidikan, (Bandung: Rosdakarya, 1999)
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: Al Ma’arif, 1962)

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 Serang Banten

Detik-detik melepas K.H. Saifuddin Arief

KH. Saifuddin Arief, SH.MHKH. Saifuddin Arief, SH.MHKH. Saifuddin Arief, SH.MHKH. Saifuddin Arief Memotivasi Santri Untuk BerprestasiDokumentasi Pemakaman K.H. Saifuddin Arief, S.H., M.HKalimat Takziah K.H. Nasir