Search
Close this search box.
blank

Menyiapkan Anak Masuk Taman Kanak

Menyiapkan Anak Masuk Taman Kanak

blank

Apakah anak anda sudah siap untuk sekolah? Kebanyakan orangtua atau orang dewasa ingat dengan pasti bahwa Taman kanak-kanak adalah area bebas belajar pendidikan formal. Biasanya Taman kanak-kanak dijadikan tempat untuk mengenalkan berbagai macam kemampuan yang nantinya dibutuhkan anak ketika memasuki dunia sekolah yang sebenarnya. Pertanyaan yang seharusnya muncul di dalam benak orangtua adalah “Apakah anak saya sudah mencapai kematangan dalam perkembangannya, sehingga nantinya dapat menerima dan menyelesaikan tugas-tugas akademik secara baik?”

Sayangnya, filosofi tentang “siap masuk sekolah” adalah lebih memusatkan kepada kemampuan anak untuk mengikuti standar sekolah, dan bukan anak melakukan tugas akademis sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Tingginya tuntutan dari sekolah terkadang menimbulkan beban bagi anak sehingga dalam menjalani “sekolah” merupakan masa-masa yang tidak menyenangkan. Tentunya kondisi terbebani tersebut akan menimbulkan masalah lain seperti rendahnya nilai yang dicapai, perilaku yang mengganggu di sekolah dll.

Di Indonesia, anak biasanya mulai masuk dan mengenal dunia sekolah adalah usia 4-5 tahun (TK ) dan usia 6-7 tahun (SD). Namun, pada dasarnya usia bukanlah penentu mutlak seorang anak siap untuk memasuki dunia sekolah dan bisa beradaptasi dengan baik di sekolah. Kematangan anak dalam aspek-aspek perkembangan dapat menjadi penentu keberhasilannya dalam dunia sekolah.

Penelitian membuktikan bahwa banyak aspek dalam kehidupan anak yang dapat menjadi penentu apakah seorang anak mampu beradaptasi dengan dunia sekolah secara baik. Aspek-aspek tersebut diantaranya adalah kematangan anak secara emosional, kognisi, sosial, dan motorik, termasuk juga didalamnya adalah stimulasi dari lingkungan, pola pengasuhan dan pengalaman masa TK.

berikut ini 4 faktor yang harus diperhatikan orang tua seperti dipaparkan Drs. Bambang Sujiono, M.Pd , kandidat Doktor Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Universitas Negeri Jakarta.

1. KESIAPAN FISIK

Aspek fisik meliputi motorik kasar dan halus. Pada motorik kasar, misal, anak sudah mampu menggerakkan seluruh anggota tubuhnya untuk melakukan gerakan-gerakan seperti berlari, memanjat, naik-turun tangga, melempar bola, bahkan melakukan dua gerakan sekaligus semisal melompat sambil melempar bola.

Aktivitas belajar di TK memang banyak mengandalkan motorik kasar. Karenanya, bila anak aktif bergerak, justru itu yang diharapkan. Nanti di TK dikembangkan aspek fisik yang lain seperti keseimbangan, kelenturan, daya tahan dan lainnya. Jadi jangan sampai anak itu, misal, kekuatan kakinya bagus tetapi keseimbangannya kurang sehingga gampang jatuh. Semua aspek fisik yang menjadi bagian motorik anak, selanjutnya harus dikembangkan di TK.

Sedangkan motorik halus akan sejalan dengan pembelajaran yang diberikan di TK. Anak akan belajar menggunting, melipat, memasukkan bola-bola, memilih biji-bijian. Nah, itu semua pasti akan jalan bila ditunjang oleh fisik yang bagus.

2. KESIAPAN EMOSIONAL

Kesiapan emosional yang paling penting menyangkut kemandirian. Paling tidak, ketika si anak berada di kelas, dia sudah duduk sendiri, tidak tergantung pada siapa-siapa, dan mau mengikuti perintah.

Kesiapan emosional lainnya ditunjukkan dengan kesiapan anak menerima situasi yang baru. Tentu wajar saja bila pada hari-hari pertama, anak menangis menghadapi situasi yang berbeda dari rumah. Akan tetapi, anak yang lebih siap, beberapa hari kemudian sudah mampu berbaur dengan teman-temannya dan siap menerima bimbingan serta pembelajaran. Dia sudah tidak lari-lari lagi di kelas ketika diminta duduk oleh gurunya.

Jika anak sudah tak takut bertemu orang, menunjukkan minat untuk berkawan, berarti dia sudah siap. Ini memang harus disiapkan. Tetapi sebenarnya tak cuma ini. Anak bukan hanya tidak takut berhadapan dengan orang lain, tapi juga mau mendengarkan orang lain. Kemampuan ini penting dalam bersosialisasi dan kalau guru bicara tetapi anak lari ke sana-ke mari, maka rangsangan emosional yang diterimanya kurang lengkap. Jadi, anak juga harus diajarkan, bagaimana menjadi pendengar sebelum masuk TK.

3. KESIAPAN KOGNITIF

Salah satunya adalah kemampuan bahasa karena di TK anak diharapkan mampu memahami intruksi yang diberikan oleh guru. Ia pun diharapkan mampu menyampaikan pendapat, perasaan, dan isi pikirannya meski belum runtut. Dengan demikian, anak juga harus memunyai perbendaharaan kosakata yang cukup untuk seusianya.

Bagaimana dengan baca-tulis? Kemampuan ini bukan menjadi syarat masuk TK. Namun, bila anak sudah mampu melakukannya, disarankan agar orang tua mencarikan sekolah yang cocok untuknya.

4. KESIAPAN SOSIAL

Di TK, anak berkumpul bersama teman-teman yang baru saja dikenalnya. Dia akan berusaha menyesuaikan diri dalam lingkungan sekolah yang baru. Ia pun akan mengenal aturan-aturan baru hidup bersama dan menyimak “pelajaran” dari guru-guru sambil belajar bersama teman-temannya.

Kesiapan sosial dilihat dari kemampuan anak untuk tidak takut menghadapi orang asing, berani memasuki lingkungan baru dan tak ragu diajak berkomunikasi.

Berikut ini adalah beberapa aktivitas yang dapat dijadikan bentuk kegiatan untuk membantu anak mempersiapkan diri memasuki dunia sekolah, yaitu :

– Berikan informasi menyenangkan tentang TK sebagai pembentukan persepsi awal tentang sekolah. Misal, ia akan bertemu dengan teman-teman baru dan mainan baru. Ada juga guru-guru baru yang ramah dan baik.

–  Menghabiskan waktu dengan anak bermain, tertawa, memeluk, mendengarkan .Lakukan dengan cara bermain peran. Misal, ibu jadi guru dan anak jadi murid atau sebaliknya.

– Membuat aturan-aturan sederhana yang dapat diikuti oleh anak dan bersifat rutin seperti waktu makan, waktu tidur siang dll

– Berusaha untuk selalu menjawab dan menggali pertanyaan dari anak sehingga mereka merasa didengarkan.

– Melatih kemampuan membaca dalam setiap situasi (tidak harus bersifat formal), dengan cara mengenal huruf dan mencoba merangkaikannya menjadi suku kata.

– Menstimulasi kemampuan kognisinya dengan mengeksplorasi lingkungan dan menambah wawasan anak akan semua hal disekitarnya.

– Menjadikan aktivitas bermain untuk melatih anak berfikir praktis, melatih mencari jalan keluar atas permasalahan, dll.

– Mengenalkan apa itu kemandirian dengan membiarkan anak melakukan tugas-tugas sederhana secara mandiri namun tetap diawasi.

– Mengajarkan tanggung jawab semenjak dini, seperti membereskan mainan setelah selesai bermain, meletakkan baju kotor di keranjang dll.

– Mengenalkan artinya penerimaan diri secara baik.

Sebaiknya orang tua sudah mulai memberikan gambaran ini jauh-jauh hari sebelum sekolah sesunggguhnya dimulai. Paling tidak tiga bulan sebelum anak masuk TK sehingga mental anak untuk sekolah pun telah kuat dan siap. Bila perlu, lewatlah di depan sekolahnya atau masuk ke dalam kelasnya untuk beberapa hari sebelum sekolah dimulai. Hingga ketika tiba gilirannya masuk sekolah, tak ada kesulitan lagi. Malah anak akan senang dan bahkan bisa jadi saat masuk di hari pertama, dia sudah percaya diri dan tak perlu ditemani masuk kelas oleh orang tua atau pengasuhnya.

 

Pendaftaran Siswa Baru Pesantren Darunnajah