عن معاذبن جبل رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلّى الله عليه وسلم لَيْسَ يَتَحَسَّرُ أَهْلُ الْجَنَّةةِ اِلاَّ عَلى سَاعَةٍ مرَّتْ بِهِمْ لَمْ يَذْكُرُوا الله تعالى فِيْهَا
Dari Mu’adz bin Jabal r.a. berkata, Rasulullah saw bersabda, “Ahli surga tidak akan menyesali apa pun, kecuali satu saat yang telah mereka lalui tanpa dzikir kepada Allah Ta’ala di dalamnya.” (HR Thabrani dan baihaqi)
Apabila seseorang manusia memasuki surga, Allah swt akan memperlihatkan pahala yang berlipat ganda bagaikan gunung hasil dari menyebut nama Allah yang Maha suci yang ia lakukan ketika di dunia. Maka ia akan berkata, “Alangkah ruginya aku, karena aku banyak membuang waktu di dunia tanpa berdzikir.”
Hafidzh Ibnu Hajar rah.a. menulis dalam kitabnya al Munabbihat, bahwa Yahya bin Mu’adz Razi rah.a. sering berkata di dalam munajatnya.
اِلَهِى لاَيَطِيْبُ اللَّيْلُ إِلاَّ بمُنَاجَتِكَ وَلاَ يَطِيْبُ النَّهَارُ اِلاَّ بِطَاعَتِكَ وَلاَ تَطِيْبُ الدُّنْيَا اِلاَّبِذِكْرِكَ وَلاَ تَطِيْبُ الْأَخِرَةُ اِلاَّ بِعَفْوِكَ وَلاَ تَطِيبُ الْجَنَّةُ اِلاَّ بِرُؤْيَتِكَ
“Wahai Rabbku, malam tidak akan terasa indah kecuali dengan bermunajat kepada-Mu. Siang tidak terasa indah kecuali dengan mentaati-Mu. Dunia tidak terasa indah kecuali dengan menyebut nama-Mu. Akhirat tidak akan terasa indah kecuali dengan ampunan-Mu (terhadap dosa-dosaku). Dan surga tidak akan terasa indah kecuali dengan memandang wajah-Mu (yang Maha Indah).”
Sirri, rah.a. berkata, “saya melihat Jurjani rah.a. sedang menelan tepung gandum kasar. Lalu saya bertanya, “Mengapa engkau menelan tepung gandum kering ini?” Ia menjawab, “Setelah membandingkan waktu antara mengunyah roti dengan menelan tepung gandum ini ternyata banyak membuang waktu. Selisih waktunya dapat digunakan untuk berdzikir Subhanallah sebanyak 70 kali. Oleh karena itu, sejak 40 tahun yang lalu saya tidak memakan roti. Dan sebagai gantinya, saya meiup tepung gandum kasar ini lalu dimakan.”
Manshur bin Mu’tamar rah.a. menulis bahwa setiap setelah shalat isya ia tidak berbicara dengan siapa pun. Hal ini telah berlangsung selama 40 tahun. Dikisahkan pula mengenai Rabi’ bin Haitsam rah.a. selama 20 tahun menulis semua ucapannya pada sehelai kertas, lalu pada malam harinya ia akan muhasabah (menghisab diri), berapa banyak ucapan yang penting dan berapa banyak ucapan yang tidak penting.
[WARDAN/@abuadara]__________________
Disampaikan pada Talim Bakda Maghrib oleh santri Kelas 6 TMI di Masjid Jamik Pesantren Darunnajah Cipining, jumat 8 Februari 2013




