Untuk yang ketiga kalinya, mahasiswa universitas jepang mengunjungi Pesantren Darunnajah. kali ini (12/03/2019) 9 Mahasiswa dan 12 Mahasiswi juga 1 dosen, dari shonan Fujisawa Campus, datang ke darunnajah dalam rangka belajar dan melihat bagaimana santri belajar di pesantren secara langsung.

“Banyak berita yang kurang baik mengenai islam yang masuk ke jepang, ini membuat saya sedih dan ingin melihatkan kepada mahasiswa/i bagaimana islam itu.” Ucap Ibu yonanaka dosen keio University saat menjelaskan alasan mereka datang ke Indonesia.

Para mahasiswa tiba di darunnajah siang hari, kemudian berkeliling pesantren untuk melihat kegiatan dan beberapa tempat seperti kantor kurikulum, kantor tata usaha juga lab yang biasa digunakan Santri belajar. Mereka pun masuk ke beberapa kelas untuk melihat proses KBM (Kegiatan belajar mengajar)

Menjelang sore para tamu tersebut diajak keliling sekitar asrama, melihat bagaimana potret santri menghabiskan waktu sore mereka, dengan bercengkrama bersama teman, piket sore, juga santri yang menghabiskan waktu dengan orangtua yang menjenguk mereka.

Salah satu mahasiswa sudah ada yang ke darunnajah 3 kali, saat ditanya jurnalis kami, apakah tidak bosan setiap tahun berkunjung ke darunnajah ? Sambil tersenyum mahasiswa tersebut menjawab “tidak pernah bosan, karena selalu menarik, belajar bagaimana cara berfikir muslim di Indonesia khususnya di pesantren.”

Pukul 20.00 WIB beberapa santriwan/i yang dipilih berkumpul di Aula darunnajah untuk mendengarkan presentasi yang d berikan oleh mahasiswa Universitas Keio mengenai project mereka, yaitu simbiosi bersama Muslim di Jepang. Project ini ditujukan untuk membantu Muslim yang ada di jepang menemukan tampat beribadah dan Restoran halal, diantara Project tersebut ialah :

Keesokan harinya (13/03/2019) mereka mengingukuti untuk mengamati kegiatan santri, mulai dari sholat subuh, halaqoh mengaji, olahraga bersama dan lain sebagainya. Para mahasiswa juga sempat masak bersama santri dan ustazah darunnajah makanan khas Indonesia : nasi goreng, rujak dan soto ayam.

“Kami suka semuanya, tapi kami paling suka nasi gorengnya, karena ini adalah nasi goreng terbaik yang pernah kita coba.” Ujar Hana salah satu mahasiswi keio University.

Santri di berikan kesempatan untuk berinteraksi bersama mereka, pada kegiatan interview. Tentu momen ini selain untuk meningkatkan kelancaran berbicara bahasa inggris, tentu untuk saling mengenal kebudayaan, situasi dan perbedaan antara Indonesia dan Jepang.

Selama Mahasiswa/i jepang berada di darunnajah, beberapa santri ikut mendapampingi untuk membantu menjelaskan perihal apapun yang ada di pesantren. Kehadiran tamu ini tentu membuat bahagia para santri karena bisa menjadi sarana mereka untuk belajar tentang kebudayaan dan perbedaan lebih luas.

(dn.com/iffa)