Dalam perang Tabuk, selain orang-orang yang udzur yang tidak dapat menyertai, juga ada sekitar delapan puluh orang, munafik dari kaum Anshar yang tidak ikut dalam perang ini. Juga ada sebagian kecil dari orang-orang Badwi. Bukan saja mereka tidak mau melaksanakan perintah Rasulullah saw., bahkan mereka pun mempengaruhi orang lain supaya tidak menyertai perang itu. Mereka berkata:

“Janganlah kalian pergi dalam panas terik.” (Qs. At Taubah [9]: 81) Allah Swt. menjawab perkataan mereka dalam ayat yang sama :

“Katakanlah, ‘Api neraka Jahannam itu lebih panas Lagi.

Selain kaum munafikin tadi, ada tiga orang sahabat yang benar-benar mukmin yang tidak ikut perang Tabuk. Mereka adalah Ka’ab bin Malik r. a., Hilal bin Umayyah r.a., dan Murarah bin Rabi r.a.. Ketiga sahabat itu bukanlah orang munafik walaupun mereka tidak ikut menyertai perang Tabuk, ketidakikutan mereka juga bukan karena sebab tertentu. Mengenai ketidak-ikutan mereka dalam perang ini, Ka’ab r. a. menuturkan sendiri kisahnya seperti yang akan diceritakan pada lembaran berikut.

Adapun Murarah bin Rabi r.a., ketika itu kebun kurmanya sedang panen besar. Dia berpikir, “Jika saya menyertai perang ini, panen saya akan gagal, sedangkan sebelumnya saya selalu menyertai Rasulullah saw: dalam setiap pertempuran. Seandainya sekarang saya tidak ikut perang ini, itu bukan masalah.” Di kemudian hari Rasulullah saw. mengingatkan bahwa kebun kurmanyalah yang menyebabkan dia tidak ikut ke Tabuk, maka akhirnya dia segera menyedekahkan seluruh kebun miliknya.

Mengenai ketidakikutan Hilal bin Umayyah r.a. ke Tabuk, karena waktu itu bertepatan dengan kepulangan keluarga dan kaum kerabatnya ke Madinah setelah beberapa hari lamanya pergi ke luar kota, sehingga ia sibuk menemani mereka. Dia pun berpikiran sama dengan Murarah bin Rabi’, bahwa sebelumnya dia banyak menyertai peperangan, jika saat ini ia tidak ikut serta, tentu tidaklah mengapa. Di kemudian hari dia pun diperingatkan, bahwa dirinya dianggap telah melakukan kesalahan, karena lebih mementingkan keluarganya daripada Allah. Setelah menyadari kekeliruannya, dia pun kemudian memutuskan hubungan dengan semua kaum keluarganya.

Sedangkan kisah mengenai Ka’ab bin Malik r.a. telah banyak ditulis dalam kitab-kitab hadits. Dia bercerita: Sebelum perang Tabuk, saya belum pernah memiliki kekayaan sebanyak saat itu. Pada saat itu saya memiliki dua ekor unta, padahal sebelumnya saya belum pernah memiliki dua ekor unta sekaligus. Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah saw. apabila beliau akan berperang, maka beliau tidak akan memberitahukan tujuannya. Namun dalam perang ini, beliau mengumumkan medan pertempuran secara jelas kepada para sahabat, karena perjalanan sangat panas dan jauh. Selain itu, jumlah pasukan musuh yang besar, maka Rasulullah saw. mengumumkannya dengan jelas, agar orang-orang mempersiapkan segala keperluannya. Pada saat itu, jumlah kaum muslimin yang menyertai Rasulullah saw. dalam perang Tabuk sangat banyak, sehingga sangat sulit untuk mengetahui mereka yang tidak ikut. Sedangkan pada saat itu, kebun-kebun di Madinah sedang panen besar.

Sesungguhnya saya ingin membuat persiapan sejak pagi hari. Namun hingga sore hari keinginan saya itu belum terlaksana. Saya berpikir, saya akan mendapatkan keuntungan yang banyak, dan seandainya saya mau, saya dapat menyusul pasukan itu kapan saja. Hingga Nabi saw. berangkat ke medan perang bersama kaum muslimin, saya belum juga melakukah persiapan. Sekali lagi saya berpikir, saya dapat menyusul pasukan muslimin kapan saja. Hal itu terjadi hingga keesokan harinya, diperkirakan Nabi saw. sudah sampai di tujuan. Kemudian saya melihat yang tertinggal di Madinah al Munaw-warah hanyalah orang-orang munafik dan orang-orang yang memiliki udzur.

Setibanya di Tabuk, Nabi saw. bertanya, “Saya tidak melihat Ka’ab. Ada apa dengannya?”

Salah seorang sahabat menjawab, “Ya Rasulullah, kebanggaannya kepada harta dan kesenangan hidupnya telah menyebabkan dia tertinggal di belakang.”

Mu’adz r.a. membantah, “Tidak, perkataanmu tidak benar! Setahu kami dia benar-benar seorang mukmin.” Mendengar jawaban itu, Nabi saw. hanya terdiam.

Beberapa hari kemudian saya mendengar bahwa Nabi saw. telah kembali ke Madinah. Tiba-tiba saya merasa sangat sedih dan menyesal yang amat dalam. Saya mengemukakan berbagai alasan kepada Rasulullah saw. agar beliau tidak memarahi saya. Mengenai hal ini, saya telah bermusyawarah dengan seluruh keluarga saya. Tetapi akhirnya saya memutuskan, lebih baik saya berterus terang kepada Rasulullah saw..

Telah menjadi kebiasaan Nabi saw. yang mulia, setiap kembali dari perjalanan, yang pertama kali beliau lakukan adalah pergi ke masjid, kemudian melakukan shalat Tahiyyatul Masjid dua rakaat. Setelah itu beliau duduk sebentar untuk memberi kesempatan kepada orang-orang yang ingin berjumpa dengan beliau. Ketika itu datang sejumlah orang munafik sambil mengemukakan beberapa alasan sehubungan dengan ketidakikutan mereka ke Tabuk. Secara lahir, Rasulullah saw. menerima alasan-alasan dan tipu daya mereka!. Namun secara batin, beliau menyerahkan urusan mereka kepada Allah.

Saya pun datang menghadap Rasulullah saw. dan mengucapkan salam kepada beliau. Beliau tersenyum hambar sambil memalingkan wajahnya yang mulia. Saya berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah berpaling dari saya. Demi Allah, saya bukanlah orang munafik dan saya meyakini keimanan saya.”

Rasulullah saw. bersabda, “Kemarilah, mengapa engkau tidak menyertai perang itu, bukankah engkau sudah membeli unta untuk kendaraan?”

Saya menjawab, “Ya Rasulullah, kalau kepada orang lain sudah tentu saya dapat memberikan berbagai alasan agar ia tidak marah, karena Allah telah mengaruniakan kepada saya kepandaian berbicara. Tetapi kepada engkau, walaupun saya dapat memberikan keterangan dusta yang dapat memuaskan hati engkau, sudah tentu Allah akan murka kepada saya. Sebaliknya jika saya berkata jujur sehingga engkau marah, saya yakin Allah akan menghilangkan kemarahan engkau. Oleh karena itu, sekarang saya akan berkata dengan sejujurnya. Demi Allah, saya tidak memiliki halangan apa pun. Seperti halnya orang lain, saya berada dalam keadaan lapang dan bebas. Bahkan pada saat ini saya memiliki kesempatan yang lebih baik daripada masa-masa sebelumnya.

Rasulullah saw. bersabda, “Engkau telah berkata benar, berdirilah, Allah akan memutuskan segala urusanmu.” Kemudian saya meninggalkan Nabi saw. dan pulang ke rumah.

Sesampainya di tengah kaum keluarga saya, mereka mencaci saya, “Mengapa engkau berkata jujur kepada Rasulullah? Selama ini engkau belum pernah melakukan kesalahan. Jika engkau meminta Rasulullah agar memohonkan ampunan untukmu, itu sudah cukup.” Saya berkata, “Banyak orang lain yang berbuat demikian kepada Nabi saw..”

Saya mendengar kabar bahwa selain saya, ada dua orang lain yang telah berbuat sama dengan perbuatan saya kepada Nabi saw. Mereka adalah Hilal bin Umayyah dan Murarah bin Rabi’. Saya melihat, dua orang sahabat saya yang sama-sama telah menyertai perang Badar itu juga mendapat perlakuan yang sama dari Nabi saw., bahwa Rasulullah saw. telah melarang kami untuk berbicara dengan siapa pun.

Tidak ada seorang pun yang berani bergaul dan berbicara dengan kami, bahkan memisahkan diri dari kami. Kami merasa bahwa dunia ini telah menjadi sempit. Saya khawatir, jika saya meninggal dunia, Rasulullah saw. tidak akan menyalatkan jenazah saya. Yang lebih saya khawatirkan apabila Rasulullah saw. wafat ketika saya sedang dikucilkan, maka selama-lamanya saya akan dikucilkan. Tidak akan ada yang mau menyalatkan jenazah saya. Semoga hal ini tidak terjadi.

Selama lima puluh hari saya dikucilkan. Dua orang sahabat saya itu tidak berani keluar rumah, sedangkan saya masih memberanikan diri, berjalan-jalan di pasar dan shalat berjamaah, tetapi tidak ada yang mau berbicara dengan saya. Saya masih sering menghadiri majelis Rasulullah saw. dan memberikan salam serta mengharapkan keringanan dari beliau. Seringkah selepas menunaikan shalat fardhu saya menunaikan shalat sunnat berdekatan dengan Nabi saw. karena ingin mengetahui apakah beliau akan memandang saya atau tidak. Ternyata beliau memandang saya ketika saya sedang shalat. Namun ketika saya memandang wajahnya yang mulia, beliau memalingkan wajah. Seluruh kaum muslimin tidak mau berbicara dengan saya. Sungguh, ini adalah penderitaan batin yang sangat berat.

Suatu hari, ketika saya sudah mulai tidak tahan lagi hidup dikucilkan, saya memanjat tembok kebun saudara sepupu saya, Abu Qatadah r.a.. Saya mengucapkan salam kepadanya, tetapi dia tidak menjawab salam saya. Saya Berkata, “Apakah engkau mengetahui atau tidak, bahwa saya mencintai Allah dan Rasul-Nya? Dia tetap diam. Setelah pertanyaan ini saya ulangi tiga kali, barulah dia menjawab, “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui.” Mendengar jawaban itu saya menangis lalu meninggalkannya.

Suatu ketika, saya berjalan-jalan di pasar Madinah al Munawwarah. Saya melihat seorang Nasrani bangsa Qibti (Mesir) yang datang dari Syam. Ternyata orang itu sedang mencari saya. Dia berkata, “Saya telah mendengar berita, tentang Ka’ab bin Malik. Tunjukkan rumahnya kepada saya.” Kemudian orang-orang menunjuk ke arah saya. Dia segera mendekati saya sambil menyerahkan sepucuk surat dari raja kafir yang menguasai Ghassan. Surat itu berbunyi demikian, “Kami mengetahui bahwa engkau sedang dianiaya oleh pemimpinmu. Allah tidak akan membiarkan engkau dalam keadaan hina dan malu. Maka datanglah kepada kami. Kami akan memberi pertolongan kepadamu.”

Ketika saya membaca surat itu, saya mengucapkan, “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Demikian buruknya keadaan saya sehingga orang-orang kafir mengira bahwa saya akan murtad dari agama Islam. Ini adalah suatu musibah yang sangat besar bagi saya. Saya segera melemparkan surat itu ke dalam api. Kemudian saya pergi menghadap Nabi saw. dan berkata, “Ya Rasulullah, karena keputusanmu, sehingga orang-orang kafir menginginkan saya memasuki agama mereka.”

Setelah empat puluh hari berlalu, seorang utusan Rasulullah saw. mendatangi saya dan membawa surat dari Nabi saw.. Isi surat itu memerintahkan saya agar berpisah dengan istri saya. Saya bertanya kepada utusan itu apakah istri saya harus diceraikan. Dia menjawab bahwa Rasulullah saw. hanya memerintahkan saya berpisah dari istri saya untuk sementara. Perintah yang sama diberikan kepada dua orang sahabat saya (Hilal dan Murarah). Saya berkata kepada istri saya, “Pergilah, tinggallah bersama orang tuamu hingga Allah memberi keputusan tentang masalah ini!”

Tetapi istri Hilal r.a. kemudian mengadu kepada Nabi saw., “Ya Rasulullah, Hilal sudah tua dan tidak ada orang yang menjaganya, jika saya meninggalkannya sudah tentu ia akan menderita, izinkan saya agar berkhidmat (melayani) kepadanya.”

Nabi saw. menjawab, “Baiklah, tetapi engkau jangan melakukan hubungan badan dengannya.”

Istri Hilal r.a. berkata, “Ya Rasulullah, dia sudah tidak mempunyai keinginan untuk itu. Sejak dikucilkan, dia telah menghabiskan waktunya dengan menangis.”

Ka’ab r.a. berkata. “Ada orang yang mengusulkan agar saya pun meminta izin kepada Rasulullah saw. untuk tinggal bersama istri saya. Saya enggan berbuat demikian karena saya masih muda, sedangkan Hilal sudah tua. Lagi pula saya tidak berani mengajukan permintaan seperti itu. Hingga kini pengucilan kami sudah berjalan lima puluh hari.”

Pada hari yang kelima puluh, setelah shalat Shubuh saya duduk di teras rumah saya dengan penuh kesedihan. Tiba-tiba saya mendengar suara orang berteriak dari arah bukit. Dia berkata, “Hai Ka’ab, ada berita gembira untukmu.” Begitu mendengar berita itu saya bersujud dengan gembira sambil mengucapkan syukur kepada Allah. Saya tahu bahwa saya telah memperoleh ampunan dari Allah dan kesempitan ini segera berakhir.

Sebenarnya Nabi saw. telah mengumumkan ampunan Allah kepada kami bertiga setelah shalat Shubuh tadi. Orang yang menyampaikan berita dari bukit itulah yang pertama kali sampai kepada saya. Kemudian datang lagi seorang penunggang kuda membawa berita yang sama. Karena sangat gembira, saya menghadiahkan pakaian yang saya pakai kepada pembawa berita itu. Sungguh, saya tidak mempunyai pakaian yang lain selain pakaian yang kupakai saat itu.

Kemudian saya meminjam pakaian untuk menghadap Rasulullah saw.. Kabar gembira itu disampaikan juga kepada dua orang sahabat saya. Ketika saya sampai di Masjid, beberapa orang sedang berbincang-bincang dengan Nabi saw. kemudian Nabi saw. memegang tangan saya dan mengucapkan selamat. Orang yang pertama kali mengucapkan selamat setelah Nabi saw. adalah Abu Thalhah r.a.. Kemudian saya pun menyampaikan salam kepada Nabi saw.. Wajahnya berseri-seri dengan cahaya kegembiraan. Saya berkata kepada beliau, “Ya Rasulullah, saya berniat akan menyedekahkan semua harta saya sebagai tanda syukur kepada Allah yang telah menerima taubat saya.”

Nabi saw. bersabda, “Jangan habiskan semua hartamu. Tinggalkan sedikit untuk kepentingan dirimu.” Saya segera menyedekahkan harta saya kecuali sedikit harta ghanimah yang diperoleh dalam peperangan Khaibar.

Hikmah: Dari kisah ini dapat diambil kesimpulan, bahwa para sahabat begitu taat dan takwa kepada Allah Swt.. Walaupun sebelumnya mereka telah mengikuti berbagai peperangan menyertai Rasulullah saw., mereka merasa sangat menderita karena tidak menyertai satu peperangan saja. Kendatipun mereka menerima hukuman yang amat berat, namun mereka tetap menjalaninya dengan sabar dan penuh ketaatan. Harta kekayaan yang membuat mereka lalai telah disedekahkan di jalan Allah. Walaupun karena peristiwa itu, orang-orang kafir menginginkan mereka menjadi murtad dari agama Islam, namun mereka tetap teguh dengan keimanan mereka.

Diamnya Allah dan Rasul-Nya atas perbuatan mereka, telah membuat mereka sadar, bahwa begitu lemahnya keimanan mereka, sehingga orang-orang kafir menginginkan mereka menjadi murtad.

Bagaimana dengan keadaan kita saat ini? Walaupun kita telah memahami firman-firman Allah dan sabda-sabda Rasulullah, namun perintah Allah yang paling besar, yaitu shalat yang tidak ada lagi perkara paling besar daripadanya setelah iman, sering kita tinggalkan. Berapa banyakkah perintah Allah yang telah kita laksanakan? Kita juga perlu mempertanyakan tentang ibadah haji, zakat, shaum, dan sebagainya yang memerlukan pengorbanan harta. [WARDAN/Deni]

Transkrip dari Buku Fadilah Amal, Bab Kisah Para Sahabat