Kiblat Muslim Sedunia, Inilah Sejarah Pemegang Kunci Ka'bah
Menu

Sejarah Pemegang Kunci Ka’bah al-Musyarrafah

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

 

blank

Sejarah Ka’bah al-Musyarrafah tidak dapat dilepaskan dengan Nabi Ibrahim alaihissalam, setelah ia membangun ka’bah yang rusak karena badai topan di zaman Nabi Nuh alaihissalam, Nabi Ibrahim alaihissalam-lah yang bertanggungjawab khidmah terhadap ka’bah. Kemudian dilanjutkan oleh putranya Ismail alaihissalam, kemudian oleh kabilah Jurhum, yang pada akhirnya tidak dapat memegang amanah ini, dan dilanjutkan oleh kabilah Khuza’ah, serta dilanjutkan oleh Qushay bin Kilab, kakek Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di urutan keempat.

Qushay bin Kilab yang membangun masyarakat Makkah, dengan membangun sistem-sistem sidanah, hijabah, darunnadwah, qiyadah dan liwa, yang pada awalnya ia memegang jabatan ini sendiri kemudian diwariskan kepada keturunannya. Anak laki-laki pertama Qushay bin Kilab adalah Abdu ad-Dar, sedangkan ketiga anak lainnya berniaga pada perjalanan musim dingin dan musim panas atau rihlah syita wa shaif yang dikisahkan oleh al-Qur’an al-Karim di dalam surat Quraisy. Ketika wafatnya Qushay bin Kilab, datanglah ketiga saudara Abdu ad-Dar kepada Abdu ad-Dar dan berkata:

يا عبد الدار لقد أخدت عنا هذا الشرف العظيم في خدمة هذا البيت الحرام فأشركنا معك

“Wahai Abdu ad-Dar, sesungguhnya kamu telah mengambil dari kami kemuliaan berkhidmah kepada Ka’bah, maka berikanlah kepada kami kemuliaan ini”. Maka Abdu ad-Dar memberikan siqayah, rifadah dan qiyadah kepada saudara-saudaranya, adapun sadanah tetap dipegang oleh Abdu ad-Dar, dan diwariskan kepada keturunan Abdu ad-Dar. Abdu ad-Dar mewariskan sadanah ini kepada anaknya Utsman, kemudian diwariskan kepada Utsman bin Abi Thalhah. Orang yang memegang kunci ka’bah disebut Sadin, Adapun profesinya disebut Sadanah.

Pada Fathu Makkah atau Pembebasan Makkah di tahun 10 Hijriah, datanglah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Makkah, diutuslah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Utsman bin Abi Thalhah untuk meminta kunci ka’bah, pada awalnya Utsman bin Abi Thalhah tidak mau memberikan kunci tersebut kepada Ali, dan akhirnya Utsman memberikan kepada Ali, kemudian Ali kembali ke Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan membuka pintu Ka’bah, dan Bilal bin Rabah Radhiyallahu ‘anhu adzan diatasnya dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam salat di dalamnya. Turunlah firman Allah SWT:

إن الله يأمركم أن تؤدوا الأمانات إلى أهلها وإذا حكمتم بين الناس أن تحكموا بالعدل إن الله نعما يعظكم به إن الله كان سميعا بصيرا (النساء: 58)

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS An-Nisa: 58)

Ali bin Abi Thalib mengembalikan kunci ka’bah kepada Utsman bin Abi Thalhah, setelah diminta oleh al-Abbas bin Abdil Muthalib, yang pada waktu itu memegang tugas siqayah. Awalnya al-Abbas bin Abdul Muthallib berkeinginan memegang tugas siqayah dan sadanah, namun setelah turun ayat ini, berkata kepada Ustman bin Abi Thalhah:

يا عثمان هذا هو مفتاح وهي تبقى في أيديكم خالدة تالدة لا ينزعها منكم إلا ظالم

Wahai Utsman, inilah kunci ka’bah, dan ia akan tetap berada di tangan kalian, tidak ada yang akan mengambilnya dari kalian kecuali orang yang zhalim.

Maka tugas sadanah masih dipegang oleh Utsman bin Abi Thalhah, kemudian diwariskan kepada keponakannya, Syaibah bin Utsman al-Auqash bin Abi Thalhah, yang kemudian terus diwariskan kepada keturunan-keturunan yang disebut Bani Syaibah atau Al Syaibi. Ka’bah, kiswahnya, dan proses pembersihannya menjadi tugas bagi Bani Syaibah, Allah SWT telah memberikan kemuliaan kepada Bani Syaibah dengan turunnya ayat al-Qur’an. Kiswah Ka’bah pun selama beberapa waktu dikirim dari Kairo, Mesir, hingga pada zaman Raja Abdul Aziz Al Saud, dibangun Pabrik Pembuatan Kiswah Ka’bah di kota Makkah al-Mukarramah, yang mana kiswah yang baru akan dipasang menggantikan kiswah yang lama di setiap hari Arafah, 9 Dzulhijjah.

Sadin Ka’bah meskipun menjadi tugas bagi Bani Syaibah secara umum, namun dipegang oleh orang yang paling tua dari Bani Syaibah, kecuali orang yang paling tua ini memiliki udzur seperti sakit, atau tidak bisa memegang kunci Ka’bah maka dipegang oleh orang yang lebih muda dari orang yang paling tua tersebut. Kerajaan Arab Saudi pun masih megang teguh tradisi ini, dan memuliakan keluarga Bani Syaibah sebagaimana al-Qur’an surat an-Nisa ayat 58 dengan memberikan kesempatan kepada Sadin Ka’bah untuk memberikan kunci kepada Raja Arab Saudi di setiap prosesi pergantian kiswah ka’bah ataupun pencucian ka’bah.

Pada tanggal 1 Muharram 1436 Hijriah, Syaikh Dr. Shalih Zainal Abidin asy-Syaibi menjadi Sadin Ka’bah yang ke-109, dan bertugas sampai saat ini, menggantikan pamannya, Syaikh Abdul Qadir Thaha asy-Syaibi yang wafat pada 29 Dzulhijjah 1435 Hijriah/23 Oktober 2014. Adapun foto ini adalah prosesi pemberian kunci ka’bah dari Sadin Ka’bah Dr. Shalih Zainal Abidin asy-Syaibi kepada Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz Al Saud, yang diwakili oleh Gubernur Makkah sekaligus Penasehat Raja Arab Saudi, YM Pangeran Khalid bin Faisal bin Abdul Aziz Al Saud, 1 Dzulhijjah 1441 H/22 Juli 2020.

            Faidah dari Sejarawan Syaikh Dr. Fawwaz bin Junaidib ad-Dahhas, Kepala Pusat Studi Sejarah Makkah al-Mukarramah, Universitas Umm al-Qura, Makkah al-Mukarramah.

Ditulis oleh Imam Khairul Annas, Guru Pondok Pesantren Darunnajah, alumni Universitas Islam Madinah.

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Rapat Koordinasi Musyrif Kamar Pengasuhan Santri

Ahad (09/08/2020) Biro Pengasuhan Santri melakukan rapat bersama dengan para musyrif kamar seluruh rayon untuk menyampaikan beberapa poin mengenai peran musyrif sebagai pembimbing kamar setiap

blank
Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Tadabbur Al Qur’an, Memetik makna hikmah yang sesungguhnya

يُؤْتِى ٱلْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ “Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya.