KH. Imam Zarkasyi : Syarat Utama Nyantri

KH. Imam Zarkasyi : Syarat Utama Nyantri

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on telegram
Loading...
Loading...

Percaya dan Mengerti (Syarat utama nyantri)

– KH. Imam Zarkasyi

Pokok dari yang pokok adalah percaya. Kamu masuk pondok ini percaya bahwa pondok ini perlu bagimu dan baik, pondok ini sudah diatur dan sudah dipikir-pikir.

Terlebih dahulu kamu harus percaya itu. Kalau ada yang belum percaya, kamu rugi, tidak bisa belajar dengan baik dan terkutuk lagi. Kalau belum mengerti, bertanya.

Kita semua yakin dan percaya perintah Allah kepada manusia. Dan kita semua yakin bahwa semua perintah Allah ada hikmahnya. Tahu hikmahnya atau tidak, kita kerjakan.

Mengapa sholat shubuh hanya dua raka’at? Mengapa sholat dzuhur yang sudah payah-payah disuruh empat rakaat? Kalau bisa menjawab, jawablah. Kalau tidak bisa, jawablah “aamantu billah”. Begitu juga kepada pondok ini.

Mungkin belum mengerti betul segala-galanya, tapi percaya. Lebih-lebih percaya kepada keikhlasan guru-guru, keikhlasan pimpinan, keikhlasan segala peraturan. Ini supaya kamu catat sendiri dalam hatimu.

KH. Hadiyanto Arief Sampaikan Syarat Utama Nyantri Pada Pekan Perkenalan Khutbatul 'Arsy
KH. Hadiyanto Arief, S.H., M.Bs. – Ketua Yayasan Darunnajah

Yang betul-betul belum percaya, haram disini.

Sudah percaya tetapi belum tahu, masih lumayan. Tapi kalau belum dan tidak percaya, jangan disini.

Pekan perkenalan ini adalah pokok. Kalau sampati tidak mengerti, rugi. Lebih-lebih kalau dasarnya tidak mau mengerti.

Orang yang tidak tahu tapi tidak mau tahu ini dalam Al-Qur’an dikatakan kal an’am (seperti binatang) bahkan dikatakan bal hum adhallu (bahkan mereka lebih bodoh/sesat) orang yang tidak mau mendengarkan dan tidak mau tahu seperti itu, di dunia banyak.

Mungkin diantara siswa-siswa ini ada yang begitu. Mungkin di antara guru-guru ada yang begitu. Yang seperti itu penyakit.

Loading...

Kamu harus kembali kepada inti tujuan kesini. Kamu berangkat dari rumah kesini untuk apa. Tentunya sudah punya jawaban.

Tapi mungkin ada yang tidak mau bertanya kepada diri sendiri dan tidak mau ditanya, mengapa datang kesini. Apa datang kesini untuk memimpin? Tidak. Apa datang kesini untuk mengoreksi pondok? Jawablah dengan hati dan lisanmu.

Bukan hakmu mengoreksi pondok. Yang harus dikoreksi itu murid atau guru? Ada murid mau mengoreksi guru. Itu otak keblinger oleh setan.

Kalau guru-guru ada salahnya kita akui. Tapi yang mengoreksi itu bukan kamu. Yang mengoreksi itu pimpinan sedangkan guru dengan guru saling ingat-mengingatkan.

Tidak semua hal dimusyawarahkan dan di voting. Umpama di-voting, yang memvoting itu bukan kamu. Kalau segala sesuatu di-voting (diambil suara terbanyak) tidak betul.

Itu langkah setan iblis. Jangan –jangan daging babi di-voting. Kalau kalah suara harus ikut makan daging babi. Na’uzubillah.

Di pondok boleh mengkritik, tapi kalau memfitnah itu haram bin haram bin haram bin haram. Kewajiban kami memperbaiki kamu sekalian kalau ada sesuatu yang kurang tepat dengan kritik. Jagalah dirimu baik-baik, jangan sampai kemasukan fitnah yang dihembuskan iblis, dajjal.

Kamu disini tamu. Semua siswa itu hukumnya tamu. Tamu sementara, penumpang sementara. Pondok itu seperti bis. Kamu menumpang dari Jetis ke Ponorogo.

Nanti kalau sudah sampai di Ponorogo, mau turun. Seberapa hak-mu diatas bis itu? Seberapa hakmu kalau kamu naik kereta api?

Supaya dimengerti betul-betul punya hak apa. Kamu datang kesini tidak diundang. Kamu datang sendiri untuk belajar. Pokok ini harus senantiasa dipegang teguh, lebih-lebih anak-anak kelas 5 dan 6 TMI Darunnajah.

Pesan KH. Imam Zarkasyi, disampaikan ulang intisarinya oleh KH. Hadiyanto Arief, S.H., M.Bs. dalam Khutbatul ‘Arsy di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, 24 Juli 2021.

(DN.COM/almas_khalishah)

Loading...

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah