Melalui e-mail dan komunikasi seluler, keinginan dari Sekolah Arab Mercing yang berlokasi di Johor Malaysia untuk berkunjung ke pesantren Darunnajah Cipining, disampaikan. Tujuan utama dari kunjungan ini adalah melihat pengembangan pesantren tahfizhul Qur’an dan pembelajaran bahasa Arab yang tengah diselenggarakan di Darunnajah Cipining. Dalam agendanya, rombongan tamu dari negeri Upin-Ipin yang berjumlah 25an peserta ini akan tiba di pesantren Darunnajah Cipining pada hari Kamis (15/6) sore hari.

Salah Satu Sudut Pesantren

Salah Satu Sudut Pesantren

Dalam rapat kepanitiaan penerimaan tamu, sebagai ketua panitia, Ustadz Muhlisin Ibnu Muhtarom, S.H.I. menyampaikan rencana kunjungan kerja tersebut di hadapan pimpinan pesantren dan seluruh panitia. Menanggapi hal itu, maka Bapak Kyai mengharapkan agar agenda mereka disesuaikan dengan agenda kegiatan pesantren.

Sementara itu, usai shalat Isya di masjid tadi malam (13/6), pimpinan pesantren menyampaikan acara kunjungan ini di hadapan para santri dan dewan guru. Beliau menginginkan agar kunjungan ini diapresiasi oleh para santri dengan sebaik-baiknya. Salah satu yang diinginkan oleh Bapak Pimpinan adalah agar para santri dapat beraktivitas sebagaimana biasanya. Terlebih lagi dapat menampilkan sebuah atraksi dari beberapa kegiatan ekstrakurikuler sebagai bentuk penyambutan.

Hal lain yang disampaikan beliau yaitu terkait dengan pengembangan bahasa Arab di pesantren. Menurut nasihat beliau, agar para santri mudah dan sukses belajar pelajaran yang berbau bahasa Arab adalah dengan membiasakan diri menghapal Al-Qur’an. “Bagi siapa yang mau menghapal Al-Qur’an, akan mudah juga mempelajari pelajaran lain. Hal ini telah dibuktikan oleh para santri peserta program tahfizhul Qur’an yang secara akademik menempati posisi 10 besar di kelasnya masing-masing”.

Nuansa Panorama Darunnajah Cipining

Nuansa Panorama Darunnajah Cipining

Maka beliau menekankan agar metode menghapal Al-Quran agar dipraktikkan oleh seluruh santri.  Salah satu kesempatan yang diberikan pesantren dalam mendukung program ini adalah memberikan kesempatan santri untuk membaca Al-Qur’an semaksimal mungkin termasuk juga pada saat menjelang shalat wajib setelah shalat sunnah ba’diyyah. Termasuk kebijakan yang berlaku di pesantren adalah membaca Al-Qur’an setelah shalat sunnah ba’diyyah dalam durasi 5 hingga 10 menit.

Selebihnya, dalam kesempatan itu pula Pak Kyai mengingatkan kepada para santri untuk menciptakan kehidupan di pesantren dengan senyaman-nyamannya. Menjaga kebersihan lingkungan dan menjaga hubungan baik kepada sesamanya. Beliau mencontohkan bahwa berita kehilangan uang akan sangat mudah berpotensi merusak hubungan karena akan muncul prasangka buruk (su’udzon). Maka solusi yang diberikan oleh pesantren adalah kewajiban para santri untuk menabungkan uangnya di TU pesantren. (Wardan/Billah)