Istighfar Penyebab dihapuskannya Dosa-dosa dan Kesalahan
Menu

Istighfar Penyebab dihapuskannya Dosa-dosa dan Kesalahan

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Qatadah r.a. berkata, “Sesungguhnya Al-Quran itu menunjukkan kepada kalian akan penyakit dan obat kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa-dosa, sedang obat kalian adalah istighfar.” Jadi Istighfar ialah sebab diampunkannya dosa-dosa serta dihapuskannya kesalahan-kesalahan. Allah swt berfirman;

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (١٣٥)

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran: 135)

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Dalam Kitab Allah, ada dua ayat bila dibaca oleh seorang hamba yang melakukan suatu dosa, kemudian diikuti dengan beristighfar kepada Allah, maka Allah akan mengampuninya.” Kemudian beliau menyebutkan ayat diatas.

Diantara sekian ayat yang menunjukkan atas karunia dan kemurahan hati Allah, yaitu dengan mengampuni dosa-dosa dan menghapuskan kesalahan-kesalahan ialah firman Allah swt;

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا (١١٠)

“Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan Menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nisa: 110)

MaafAli r.a. “Aku ialah seseorang laki-laki yang jika mendengar suatu hadits dari Rasulullah saw, Allah memberikan manfaat kepadaku dengan apa-apa yang dikehendaki-Nya memberikan manfaat kepadaku. Namun, jika salah seorang dari saabatku menceritakan (hadits) kepadaku, aku memintanya untuk bersumpah (terlebih dahulu). Jika ia telah bersumpah, aku pun yakin untuk mempercayai ucapannya. Abu Bakar r.a. telah menceritakan kepadaku – dan Abu Bakar r.a. ialah orang yang dapat dipercaya – ia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah saw bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْهِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ

Tidaklah seorang hamba melakukan sebuah dosa, lalu ia menyempurnakan wudhunya kemudian berdiri untuk mengerjakan shalat dua rakaat, dan setelah itu ia memohon ampunan kepada Allah swt, melainkan ia akan diampuni.”

Kemudian Abu Bakar r.a. membacakan firman Allah swt;

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran: 135)

Anas r.a. berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda;

قال الله تعالى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَادَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَاكَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِيْ يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِيْ

Allah swt berfirman. ‘Wahai Anak Adam, sungguh selama kau berdoa dan berharap kepada-Ku, noscaya Aku akan mengampuni dosa yang telah kau lakukan, dan aku tidak peduli. Wahai anak adam, sekiranya dosa-dosamu setinggi awan di langit, kemudian kau meminta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli’.” (HR At-Tirmidzi, dan ia berkomentar Hadits Hasan)

Karena itu, renungkanlah agungnya karunia, kemurahan hati, dan kedermawanan Allah swt! Rasulullah saw bersabda;

إِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ ذَنْبًا فَقَالَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِيْ فَيَقُوْلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَذْنَبَ عَبْدِيْ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يأَخُذُ بِالذَّنْبِ فَيَغْفِرُ الذَّنْبَ عَبْدِيْ اعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ

“Apabila seorang hamba melakukan suatu dosa, lalu berucap, ‘Ya Allah, ampunilah aku.’ Maka Allah swt berfirman, ‘Hamba-Ku telah melakukan suatu dosa, lalu ia mengetahui bahwa ia mempunyai Rabb yang akan mmeberi balasan atas dosa dan akan mengampuni dosa. Hamba-Ku, berbuatlah sesukamu, sebab Aku telah mengampunimu.’” (Mutafaq ‘Alaih)

Dalam sebuah atsar juga disebutkan tentang iblis – la’natullah ‘alaih – bahwa ia berkata kepada Rabb yang mempunyai keperkasaan tatkala Allah swt melaknatnya, “Wahai Rabbku, demi keperkasaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan anak Adam selama ruh-ruh mereka masih ada di dalam jasad-jasad mereka.” Maka Allah swt berfirman, “Demi keperkasaan-Ku dan kemuliaan-Ku, sungguh Aku akan mengampuni mereka selama mereka mau memohon ampunan kepada-Ku.”

Hudzaifah bin Yaman meriwayatkan, “Aku ialah orang yang tajam lidah terhadap keluargaku. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku khawatir jika lisanku ini memasukkan diriku ke dalam neraka.’ Nabi saw bersabda, ‘Sudahkah kau beristighfar? Sungguh, aku beristighfar kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.’” (HR An-Nasa’i)

Abu Sa’id meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda;

مَنْ قَالَ حِيْنَ يَأْوِيْ إِلَى فِرَاشِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوْبُ إِلًيْهِ ثَلاَثَ مَرَّتٍ غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوْبَهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ وَإِنْ كَانَتْ عَدَدَ وَرَقِ الشَّجَرِ وَإِنْ كَانَتْ عَدَدَ رَمْلِ عَالِجٍ وَإِنْ كَانَتْ عَدَدَ أَيَّامِ الدُّنْيَا

Barang siapa ketika beranjak ke tempat tidurnya mengucapkan ‘Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha-agung, yang tiada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia, Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), dan aku bertaubat kepada-Nya’ sebanyak tiga kali, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya walaupun seperti buih di lautan, seperti jumlah dedaunan pohon, seperti jumlah pasir yang bertumpuk-tumpuk, atau seperti jumlah hari-hari di dunia.” (Dikeluarkan At-Tirmidzi dan diriwayatkan Al-Bukhari dalam Al-Tarikh dengan lafadz berlainan)

Dalam riwayat Zaid, “Aku ampuni dosa-dosanya meski ia pernah melarikan diri dari medan perang.” {Dikeluarkan Abu dawud dari At-Tirmidzi dari hadits Zaid, serta diriwayatkan pula Al-Hakim. Ia berkomentar, “Shahih atas syarat Syaikhain”)

[WARDAN/@abuadara]

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait