Search
Close this search box.
blank

Isra’ dan Mi’raj: Dibalik Penolakan, Limpahan Pemberian bagi Nabi Muhammad ﷺ

Isra’ dan Mi’raj: Dibalik Penolakan, Limpahan Pemberian bagi Nabi Muhammad ﷺ

blank

Sebelum Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad ﷺ, menghadapi tahun-tahun kesedihannya. Istrinya, Sayyidah Khadijah Al-Kubra, dan pamannya, Abu Thalib, yang menjadi benteng perlindungan dan sokongan dalam dakwah Baginda ﷺ, keduanya meninggal dalam tahun yang sama.

Keduanya bukan sekedar keluarga bagi Nabi Muhammad ﷺ saja. Akan tetapi, hadir sebagai penyemangat dakwah beliau.

Setelah itu, penganiayaan dari kaum quraisy yang melawan Nabi ﷺ pun semakin meningkat. Nabi ﷺ mengalami kekerasan dan perlawanan dari orang-orang Quraisy yang lebih berat terhadap dakwah beliau.

Sampai Nabi ﷺ menyampaikan ‘curhatan hati’ kepada Allah SWT., dalam do’a sebagaimana yang diriwayatkan Imam at-Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir:

اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ

Artinya: “Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku di hadapan manusia.”

 

Hati siapa yang tidak tersentuh menghadapi semua cobaan ini?

Beliau ‘tertolak’ dari perlindungan, kasih sayang, dan bahkan penerimaan dari kaumnya sendiri.

Namun, tahukah apa yang Allah SWT., berikan di balik penolakan tersebut?

Allah perjalankan Nabi Muhammad ﷺ dalam sebuah perjalanan agung: Isra’ dan Mi’raj. Dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina, Beliau menempuh ribuan kilometer hanya dalam waktu semalam.

Beliau menjadi imam bagi para nabi dalam shalat, bahkan diperjalankan hingga langit ketujuh, ke Sidratul Muntaha.

Bersendiri dalam keagungan yang luar biasa, bersama Tuhan yang Maha Esa. Sebuah penghormatan yang tidak diberikan kepada nabi lain bahkan malaikat Jibril pun.

Lihatlah, bagaimana sesuatu yang terlihat sebagai sebuah penolakan, ternyata hakikatnya adalah pemberian.

Mata lahir kita tidak akan mampu menembus hakikat ini. Hanya nurani yang bersih yang dapat merasakannya. Nurani, yang berasal dari bahasa Arab, artinya cahaya dua mata, mata lahir, dan mata batin, keduanya adalah milik Allah SWT. Segala sesuatu memiliki kuncinya, ada kekasihnya.

Allah, Sang Maha Kuasa, memiliki kekasih-Nya. Kekasih Allah yang tercinta, yang bahkan namanya pun disandingkan dengan nama-Nya, yaitu Nabi Muhammad ﷺ.

Mungkinkah Sang Maha Cinta menolak Kekasih-Nya?

Maka, bukalah kunci dan ikatan segala yang terkunci, segala yang terjebak, segala yang gelap, dengan menyebut nama kekasihnya Tuhan Semesta Alam.

“Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad”

Agar apa pun yang terasa sebagai penolakan, akan diartikan sebagai limpahan pemberian.

Niscaya Anda akan menyaksikan bahwa hidup ini seutuhnya adalah kebaikan.

 

Waallaahua’lam.

27 Rajab 1445 H.

Pendaftaran Siswa Baru Pesantren Darunnajah