Dasawarsa ini kita sering menemukan berbagai permasalahan yang tumbuh berkembang di dalam masyarakat; Etika, Adab, Akhlak, Keimanan, dan Permasalahan-permasalahan lainnya. Salah satu permasalahan yang paling kentara adalah masalah keilmuan. Kita tentunya sering mendengar perkataan “Yang paling penting adalah mempelajari sains dan teknologi” dan “Yang penting adalah belajar agama” perkataan tersebut merupakan sebuah Dikotomi Ilmu Pengetahuan yakni pemisahan dua bidang ilmu pengetahuan yang seharusnya berjalan berdampingan.

Sebagai seorang muslim kita harus Mengintegrasikan atau memadukan dua ilmu menjadi satu kesatuan yang utuh. Kita harus mengintegrasikan sains barat dan sains islam agar mereka berjalan berdampingan. Sains Islam merupakan ilmu-ilmu yang bersumber dari wahyu yang merupakan hasil jerih payah para ulama terdahulu dalam mempelajari qur’an dan sunnah sedangkan Sains Barat bersumber dari rasionalitas akal manusianya tanpa campur tangan wahyu.

Islam yang merupakan agama wahyu tidak serta-merta menerima begitu saja ilmu-ilmu dari barat yang kata mereka “Netral” padahal sejatinya Tidak ada ilmu yang netral karena suatu konsep lahir dari cara pandang penemunya. Di sinilah dibutuhkan suatu konsep islamisasi ilmu pengetahuan supaya ilmu-ilmu tersebut sesuai dengan ajaran agama islam. Islamisasi tersebut bisa ditempuh dengan cara: 1) Mengeluarkan konsep-konsep barat 2) Memasukkan ilmu-ilmu dalam Islam. Adapun metode yang bisa kita gunakan adalah: 1) Menguasai disiplin ilmu modern 2) Mensurvei disiplin ilmu 3) Menguasai khazanah islam.

Integrasi Ilmu; Memadukan Dua Ilmu Menjadi Satu Kesatuan

(ZA)